Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Juli 2026 | 20.34 WIB

Orang-orang yang Memiliki 10.000 Tangkapan Layar yang Jarang Mereka Lihat Lagi Memiliki 8 Ciri Ini Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki banyak tangkapan layar / foto: Magnific/mego-studio

 

JawaPos.com - Di era digital, tangkapan layar atau screenshot telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari menyimpan percakapan penting, kutipan inspiratif, resep masakan, informasi pekerjaan, hingga meme lucu, semuanya bisa diabadikan hanya dengan satu sentuhan.

Namun, pernahkah Anda membuka galeri ponsel dan menyadari bahwa ada ribuan tangkapan layar yang hampir tidak pernah dibuka kembali? Bahkan, tidak sedikit orang yang memiliki lebih dari 10.000 screenshot yang memenuhi ruang penyimpanan, tetapi sebagian besar hanya tersimpan tanpa pernah dimanfaatkan lagi.

Fenomena ini ternyata cukup menarik untuk dibahas dari sudut pandang psikologi. Tentu saja, memiliki banyak screenshot bukan berarti seseorang memiliki gangguan psikologis tertentu. Sebaliknya, kebiasaan tersebut sering kali mencerminkan cara seseorang berpikir, mengelola informasi, dan menghadapi ketidakpastian.

Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (2/7), terdapat delapan ciri yang sering ditemukan pada orang yang gemar menyimpan ribuan screenshot tetapi jarang melihatnya kembali.

1. Memiliki rasa takut kehilangan informasi (Fear of Missing Out terhadap pengetahuan)

Salah satu alasan terbesar seseorang mengambil screenshot adalah karena takut kehilangan informasi yang dianggap berguna.

Mereka berpikir, "Suatu hari nanti mungkin saya akan membutuhkannya."

Akibatnya, hampir semua hal yang menarik langsung disimpan tanpa dipilah terlebih dahulu. Mulai dari tips kesehatan, ide bisnis, rekomendasi buku, hingga unggahan media sosial.

Dalam psikologi, kecenderungan ini berkaitan dengan keinginan mempertahankan akses terhadap informasi. Menyimpan screenshot memberikan rasa aman karena otak merasa informasi tersebut tidak akan hilang, meskipun kenyataannya mungkin tidak pernah digunakan.

2. Cenderung menganggap semua informasi berpotensi penting

Orang dengan ribuan screenshot sering kali kesulitan membedakan mana informasi yang benar-benar penting dan mana yang hanya menarik sesaat.

Mereka lebih memilih menyimpan semuanya daripada mengambil risiko kehilangan sesuatu yang mungkin berguna di masa depan.

Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai bentuk overcollection, yaitu kebiasaan mengumpulkan informasi secara berlebihan karena merasa setiap potongan data memiliki nilai potensial.

Ironisnya, semakin banyak informasi yang disimpan, semakin sulit pula menemukan informasi yang benar-benar dibutuhkan.

3. Memiliki keinginan kuat untuk merasa siap menghadapi masa depan

Banyak screenshot berisi tutorial, artikel motivasi, resep, atau panduan melakukan sesuatu.

Walaupun tidak langsung dipraktikkan, menyimpannya memberikan perasaan seolah-olah sudah memiliki "bekal" untuk menghadapi berbagai situasi.

Fenomena ini dikenal sebagai preparedness mindset.

Otak memperoleh rasa nyaman karena merasa telah melakukan sesuatu yang bermanfaat, meskipun tindakan tersebut baru sebatas menyimpan informasi.

4. Mudah tertarik pada hal-hal baru

Orang yang memiliki ribuan screenshot biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Hari ini mereka tertarik belajar fotografi.

Besok mereka menyimpan tips investasi.

Lusa mereka mengoleksi resep makanan Korea.

Minggu berikutnya mereka mengumpulkan ide dekorasi rumah.

Rasa penasaran yang besar membuat mereka terus mengumpulkan berbagai informasi lintas bidang.

Walaupun tidak semuanya dipelajari secara mendalam, kebiasaan ini menunjukkan adanya keterbukaan terhadap pengalaman baru.

5. Sering mengalami kelelahan dalam mengambil keputusan

Semakin banyak screenshot yang tersimpan, semakin sulit menentukan mana yang harus dibaca terlebih dahulu.

Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue.

Saat membuka galeri dan melihat ribuan gambar, otak justru kewalahan memilih.

Akhirnya, tidak ada satu pun screenshot yang benar-benar dibuka kembali.

Inilah mengapa banyak koleksi digital akhirnya hanya menjadi arsip yang terlupakan.

6. Memiliki kecenderungan menunda tindakan

Menyimpan screenshot terkadang menjadi bentuk penundaan yang tidak disadari.

Alih-alih langsung membaca artikel, mencoba resep, atau menerapkan tips yang ditemukan, seseorang memilih menyimpannya terlebih dahulu.

Kalimat seperti "nanti saja dibaca" menjadi sangat umum.

Masalahnya, "nanti" sering kali tidak pernah datang.

Dalam psikologi perilaku, tindakan menyimpan informasi dapat memberikan kepuasan instan sehingga otak merasa tugas telah selesai, padahal langkah nyata belum dilakukan.

7. Menggunakan screenshot sebagai "memori eksternal"

Otak manusia memiliki kapasitas perhatian yang terbatas.

Karena itu, banyak orang menggunakan perangkat digital sebagai penyimpanan ingatan tambahan.

Screenshot menjadi semacam "otak kedua" yang dipercaya akan menyimpan informasi ketika memori biologis tidak mampu mengingat semuanya.

Strategi ini sebenarnya cukup umum dan dapat membantu mengurangi beban mengingat. Namun, manfaatnya akan jauh lebih besar jika arsip tersebut dikelola dengan baik, misalnya melalui folder, label, atau penghapusan berkala.

8. Cenderung merasa tenang ketika segala sesuatu terdokumentasi

Bagi sebagian orang, memiliki dokumentasi memberikan rasa kontrol terhadap kehidupan.

Mereka merasa lebih nyaman ketika percakapan penting, bukti transaksi, jadwal, inspirasi, atau ide kreatif semuanya tersimpan.

Walaupun sebagian besar tidak pernah dibuka kembali, keberadaannya sendiri sudah memberikan ketenangan psikologis.

Dengan kata lain, screenshot bukan hanya sekadar gambar, tetapi juga simbol bahwa informasi tersebut aman jika suatu saat dibutuhkan.

Apakah Kebiasaan Ini Buruk?

Tidak selalu.

Menyimpan screenshot adalah kebiasaan yang sangat normal di era digital. Bahkan, dalam banyak situasi, kebiasaan ini membantu seseorang menyimpan bukti, mengarsipkan informasi penting, atau mendokumentasikan momen tertentu.

Yang menjadi tantangan adalah ketika jumlah screenshot sudah terlalu banyak hingga justru menyulitkan pencarian informasi, memenuhi kapasitas penyimpanan, atau membuat seseorang merasa kewalahan.

Jika hal itu mulai terjadi, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan, seperti:

Menghapus screenshot yang sudah tidak relevan.
Membuat folder berdasarkan kategori.
Meninjau kembali screenshot secara berkala.
Menyimpan informasi penting dalam aplikasi catatan agar lebih mudah dicari.
Bertanya pada diri sendiri sebelum mengambil screenshot: "Apakah saya benar-benar akan membutuhkan ini?"
Kesimpulan

Memiliki 10.000 screenshot yang jarang dibuka kembali bukan berarti seseorang malas atau tidak teratur. Dari sudut pandang psikologi, kebiasaan tersebut dapat mencerminkan berbagai karakteristik, seperti rasa ingin tahu yang tinggi, keinginan untuk selalu siap menghadapi masa depan, kebutuhan akan rasa aman, hingga kecenderungan mengumpulkan informasi secara berlebihan.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang paling penting bukanlah seberapa banyak informasi yang kita simpan, melainkan seberapa sering informasi tersebut benar-benar digunakan untuk belajar, mengambil keputusan, dan meningkatkan kualitas hidup.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore