seseorang yang rendah empati / foto: Magnific/katemangostar
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita berinteraksi dengan banyak orang: keluarga, teman, pasangan, rekan kerja, hingga orang yang baru kita kenal. Sebagian besar percakapan terasa hangat karena ada rasa saling memahami. Namun, terkadang kita bertemu seseorang yang membuat kita merasa tidak didengar, tidak dipahami, atau bahkan merasa bersalah setelah berbicara dengannya.
Psikologi menjelaskan bahwa salah satu tanda seseorang memiliki tingkat empati yang rendah dapat terlihat dari cara mereka merespons perasaan, pengalaman, dan sudut pandang orang lain. Empati bukan hanya kemampuan untuk merasa kasihan, tetapi kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan mempertimbangkan bagaimana perkataan atau tindakan kita berdampak pada mereka.
Penting untuk dipahami: mendengar satu atau dua kalimat tertentu tidak otomatis berarti seseorang "tidak memiliki empati". Setiap orang bisa mengatakan sesuatu yang kurang tepat saat sedang stres, lelah, atau tidak tahu cara merespons. Namun, jika pola komunikasi ini muncul berulang kali, psikologi melihatnya sebagai tanda adanya kesulitan dalam memahami atau menghargai pengalaman emosional orang lain.
Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (2/7), terdapat beberapa frasa yang sering dikaitkan dengan pola komunikasi rendah empati.
1. "Kamu terlalu sensitif."
Kalimat ini sering muncul ketika seseorang sedang mengungkapkan perasaan terluka, kecewa, atau tidak nyaman.
Misalnya seseorang berkata:
"Aku merasa sedih ketika kamu mengatakan itu di depan orang lain."
Lalu dijawab:
"Kamu terlalu sensitif."
Masalah dari respons ini adalah fokusnya berpindah dari perilaku yang menyakiti menjadi menyalahkan reaksi emosional orang tersebut.
Orang yang memiliki empati biasanya mencoba memahami:
"Mengapa ucapan saya membuat dia merasa seperti itu?"
Sementara orang dengan empati rendah cenderung langsung menolak emosi orang lain.
2. "Aku tidak peduli."
Ada perbedaan antara seseorang yang sedang menjaga batasan pribadi dengan seseorang yang benar-benar mengabaikan perasaan orang lain.
Dalam hubungan sehat, seseorang mungkin berkata:
"Aku mengerti kamu merasa begitu, tapi aku punya pandangan berbeda."
Namun ketika seseorang terus menggunakan kalimat seperti:
"Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu."
hal itu menunjukkan kurangnya usaha untuk memahami perspektif orang lain.
Empati membutuhkan rasa ingin tahu terhadap dunia emosional orang lain.
3. "Masalah kamu, bukan masalah saya."
Setiap orang memang bertanggung jawab atas emosinya sendiri. Namun, dalam hubungan sosial, manusia tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan kepedulian.
Ketika seseorang selalu menolak terlibat dengan kesulitan orang lain, terutama orang terdekat, hal ini bisa menunjukkan pola menghindari koneksi emosional.
Orang yang empatik mungkin tidak selalu bisa membantu, tetapi biasanya menunjukkan perhatian:
"Aku mungkin tidak bisa memperbaiki masalah ini, tapi aku mendengarkan."
4. "Saya sudah bilang."
Kalimat ini sering digunakan bukan untuk membantu, tetapi untuk menunjukkan kemenangan atau superioritas.
Contohnya:
"Aku gagal dalam pekerjaan dan merasa sangat kecewa."
Respons:
"Aku sudah bilang dari awal jangan ambil pekerjaan itu."
Dalam situasi seperti ini, seseorang yang rendah empati mungkin lebih fokus membuktikan bahwa dirinya benar daripada memberikan dukungan emosional.
Empati berarti memahami bahwa terkadang seseorang tidak membutuhkan solusi terlebih dahulu. Mereka membutuhkan pengakuan terhadap perasaan mereka.
5. "Orang lain lebih parah dari kamu."
Membandingkan penderitaan adalah salah satu bentuk respons yang dapat membuat seseorang merasa tidak valid.
Misalnya:
"Aku sedang stres karena banyak masalah."
Lalu dijawab:
"Ah, kamu masih beruntung. Banyak orang yang lebih susah."
Meskipun niatnya mungkin ingin memberi perspektif, kalimat seperti ini sering membuat seseorang merasa bahwa emosinya tidak penting.
Setiap orang dapat mengalami kesulitan dengan cara yang berbeda.
6. "Kenapa kamu masih memikirkan hal itu?"
Orang dengan empati rendah sering kesulitan memahami bahwa pengalaman emosional setiap orang memiliki waktu pemulihan yang berbeda.
Seseorang mungkin masih terluka karena kejadian lama, kehilangan, konflik, atau pengalaman buruk.
Alih-alih bertanya:
"Apa yang membuat hal itu masih berat untukmu?"
mereka mungkin langsung menganggap perasaan tersebut tidak masuk akal.
7. "Saya memang seperti ini."
Kalimat ini sering digunakan sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Contoh:
"Aku merasa sakit hati ketika kamu berbicara kasar."
Jawaban:
"Ya, saya memang orangnya seperti ini."
Pernyataan tersebut menunjukkan keengganan untuk mengevaluasi perilaku sendiri.
Dalam hubungan yang sehat, seseorang mampu berkata:
"Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku akan mencoba memperbaikinya."
Kemampuan memperbaiki diri adalah bagian penting dari kecerdasan emosional.
8. "Kamu yang membuat saya marah."
Orang dengan empati rendah kadang kesulitan mengambil tanggung jawab atas emosinya sendiri.
Ada perbedaan antara:
"Apa yang kamu lakukan membuat saya terluka."
dan:
"Semua emosi saya adalah kesalahan kamu."
Kalimat kedua dapat menjadi pola komunikasi yang tidak sehat karena seluruh tanggung jawab emosi dilemparkan kepada orang lain.
Mengapa seseorang bisa memiliki empati rendah?
Menurut psikologi, rendahnya empati dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti:
pola asuh masa kecil,
pengalaman hidup,
lingkungan sosial,
kebiasaan komunikasi,
kesulitan mengenali emosi sendiri,
atau mekanisme pertahanan diri.
Tidak semua orang yang tampak dingin berarti tidak peduli. Ada orang yang memiliki cara berbeda dalam menunjukkan perhatian. Namun, pola yang terus-menerus meremehkan perasaan orang lain dapat menjadi tanda masalah dalam hubungan interpersonal.
Cara menghadapi orang yang sulit berempati
Jika Anda sering berhadapan dengan seseorang seperti ini, beberapa pendekatan yang bisa membantu:
1. Gunakan komunikasi yang jelas
Daripada berharap mereka memahami sendiri, jelaskan:
"Saya tidak meminta kamu setuju, saya hanya ingin perasaan saya didengarkan."
2. Perhatikan pola, bukan satu kejadian
Satu kalimat buruk tidak selalu menggambarkan karakter seseorang. Lihat apakah perilaku tersebut terjadi berulang kali.
3. Tetapkan batasan
Anda berhak menjaga kesehatan emosional Anda. Jika seseorang terus meremehkan perasaan Anda, penting untuk menentukan batas yang sehat.
4. Jangan mencoba memaksa seseorang berubah
Empati hanya berkembang jika seseorang memiliki kemauan untuk memahami orang lain.
Kesimpulan
Kemampuan berempati adalah salah satu fondasi hubungan manusia. Kita tidak selalu membutuhkan orang lain untuk memiliki pendapat yang sama, tetapi kita membutuhkan rasa dihargai dan didengarkan.
Jika dalam banyak percakapan Anda sering mendengar kalimat seperti "kamu terlalu sensitif", "aku tidak peduli", atau "itu masalah kamu", mungkin ada pola komunikasi yang menunjukkan rendahnya empati.
Namun, memahami tanda-tanda ini bukan bertujuan untuk memberi label atau menghakimi seseorang. Tujuannya adalah membantu kita mengenali pola hubungan, memperbaiki komunikasi, dan menjaga hubungan yang lebih sehat.