
seseorang yang selalu mengutamakan orang lain./ Freepik/freepik
JawaPos.com - Ada orang-orang yang secara alami selalu mendahulukan kebutuhan orang lain. Mereka mudah berkata “tidak apa-apa” meski sebenarnya terluka, cepat membantu meski diri sendiri kelelahan, dan sering menekan keinginan pribadi demi menjaga perasaan orang lain.
Di mata banyak orang, mereka terlihat baik, pengertian, dan penuh empati. Namun menurut psikologi, pola ini sering kali tidak muncul begitu saja.
Sering kali, kebiasaan mengutamakan orang lain berakar dari keyakinan-keyakinan mendalam yang terbentuk sejak kecil—melalui pola asuh, pengalaman emosional, atau lingkungan yang menuntut mereka untuk “menjadi kuat” atau “tidak merepotkan”.
Keyakinan ini bekerja di bawah sadar dan memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri serta hubungannya dengan orang lain.
Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh keyakinan yang umum dimiliki oleh orang-orang yang selalu mengutamakan orang lain, menurut perspektif psikologi.
1. “Nilai diriku ditentukan oleh seberapa bergunanya aku bagi orang lain”
Banyak people pleaser tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka hanya layak dicintai jika mereka berguna. Mereka belajar—secara langsung atau tidak—bahwa perhatian, pujian, atau kasih sayang datang ketika mereka membantu, mengalah, atau berprestasi demi orang lain.
Akibatnya, mereka merasa bersalah saat tidak bisa membantu, dan merasa tidak berharga ketika tidak dibutuhkan. Psikologi menyebut ini sebagai conditional self-worth, yaitu harga diri yang bergantung pada penerimaan eksternal, bukan pada nilai diri yang stabil.
2. “Jika aku mengecewakan orang lain, aku akan ditinggalkan”
Keyakinan ini sering muncul dari pengalaman penolakan emosional di masa lalu. Bisa jadi mereka pernah dimarahi, diabaikan, atau “dihukum secara emosional” ketika menolak atau berbeda pendapat.
Sebagai mekanisme bertahan hidup, mereka belajar untuk selalu menyenangkan orang lain. Konflik menjadi sesuatu yang sangat menakutkan, karena di alam bawah sadar, konflik disamakan dengan kehilangan hubungan.
3. “Kebutuhan orang lain lebih penting daripada kebutuhanku”
Orang-orang ini sering kali sangat peka terhadap emosi orang lain, tetapi sangat terputus dari emosinya sendiri. Mereka tahu kapan orang lain sedih, marah, atau tidak nyaman—namun kesulitan menjawab pertanyaan sederhana seperti, “Aku sebenarnya mau apa?”
Dalam psikologi, ini berkaitan dengan self-neglect, yaitu kebiasaan mengabaikan kebutuhan diri sendiri karena sejak awal tidak diajarkan bahwa kebutuhan pribadi itu valid dan layak diperjuangkan.
4. “Mengatakan ‘tidak’ adalah sikap egois”
Bagi mereka, menolak permintaan orang lain terasa seperti tindakan yang salah secara moral. Padahal secara sehat, batasan (boundaries) adalah fondasi hubungan yang baik.
Keyakinan ini sering tertanam karena mereka dibesarkan dalam lingkungan yang mengagungkan pengorbanan diri berlebihan atau memberi label negatif pada orang yang tegas. Akibatnya, mereka lebih memilih kelelahan daripada dicap “jahat” atau “tidak peduli”.
5. “Perasaanku tidak sepenting perasaan orang lain”
Banyak orang yang selalu mengutamakan orang lain terbiasa mengecilkan emosinya sendiri. Saat sedih, mereka berkata, “Ah, orang lain lebih menderita.” Saat marah, mereka berpikir, “Aku tidak berhak marah.”
Dalam jangka panjang, penekanan emosi ini bisa berujung pada kelelahan emosional, kecemasan, bahkan depresi. Psikologi menekankan bahwa semua emosi memiliki fungsi, dan menekan emosi terus-menerus bukanlah tanda kedewasaan, melainkan tanda luka yang belum disadari.
6. “Aku harus kuat dan tidak boleh merepotkan siapa pun”
Keyakinan ini sering muncul pada anak-anak yang tumbuh dalam situasi di mana mereka harus cepat dewasa—misalnya dalam keluarga yang penuh masalah, orang tua yang emosinya tidak stabil, atau kondisi ekonomi yang sulit.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022