Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Juni 2026 | 03.02 WIB

7 Hal yang Sering Diucapkan Orang Egois Tanpa Menyadari Betapa Kentaranya Ucapan Mereka Menurut Psikologi

seseorang yang tidak menyadari bahwa dirinya egois / foto: Magnific/freepik

 

JawaPos.com - Tidak semua orang yang terlihat egois menyadari bahwa mereka sebenarnya terlalu berpusat pada diri sendiri. Dalam banyak kasus, sikap egois tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan yang kasar atau terang-terangan. Justru, tanda-tanda paling jelas sering kali terlihat dari kata-kata yang mereka ucapkan sehari-hari.

Menurut psikologi, cara seseorang berbicara dapat mencerminkan pola pikir, tingkat empati, dan bagaimana mereka memandang hubungan dengan orang lain. Orang yang terlalu fokus pada kebutuhan dan sudut pandangnya sendiri sering mengucapkan kalimat tertentu tanpa menyadari bahwa orang di sekitarnya dapat dengan mudah menangkap sifat tersebut.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (7/6), terdapat tujuh kalimat yang sering diucapkan orang egois tanpa menyadari betapa jelasnya sikap mereka.

1. “Pokoknya aku yang paling tahu.”

Memiliki keyakinan pada diri sendiri memang penting. Namun, orang egois sering kali mengubah rasa percaya diri menjadi keyakinan bahwa pendapat mereka selalu paling benar.

Mereka cenderung sulit menerima masukan dan menganggap pandangan orang lain kurang penting. Dalam psikologi, perilaku seperti ini berkaitan dengan rendahnya keterbukaan terhadap perspektif yang berbeda.

Kalimat seperti:

“Kamu nggak paham.”
“Aku sudah lebih berpengalaman.”
“Ikuti saja saranku.”

menunjukkan bahwa mereka lebih mementingkan pendapat sendiri daripada membangun diskusi yang sehat.

Padahal, orang yang benar-benar bijaksana biasanya bersedia mendengarkan dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang.

2. “Kenapa semuanya harus aku yang mengalah?”

Orang egois sering merasa dirinya selalu menjadi korban atau pihak yang paling banyak berkorban.

Padahal, dalam banyak situasi, mereka justru jarang melihat kebutuhan dan perasaan orang lain. Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai self-serving bias, yaitu kebiasaan menilai segala sesuatu dari sudut kepentingan diri sendiri.

Kalimat tersebut biasanya muncul ketika:

Pasangan meminta perhatian lebih.
Teman berharap dukungan.
Rekan kerja mengharapkan kerja sama.

Alih-alih mencari jalan tengah, mereka lebih fokus pada apa yang mereka rasa telah dikorbankan.

3. “Aku cuma memikirkan diriku sendiri, memang kenapa?”

Ada perbedaan besar antara mencintai diri sendiri dan mengabaikan orang lain.

Orang dengan self-love yang sehat tetap memiliki empati dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Sebaliknya, orang egois sering menggunakan alasan “mementingkan diri sendiri” untuk membenarkan perilaku yang merugikan orang lain.

Mereka menganggap kebutuhan pribadi selalu lebih penting daripada:

Perasaan pasangan.
Kepentingan keluarga.
Komitmen bersama.

Dalam jangka panjang, sikap seperti ini dapat merusak hubungan dan menimbulkan jarak emosional.

4. “Kalau aku jadi kamu, aku pasti bisa melakukannya.”

Kalimat ini sekilas terdengar seperti nasihat, tetapi sebenarnya sering menunjukkan kurangnya empati.

Setiap orang memiliki kondisi, pengalaman, dan kemampuan yang berbeda. Orang egois cenderung memandang masalah orang lain dari sudut pandangnya sendiri tanpa benar-benar memahami situasi yang dihadapi orang tersebut.

Mereka lebih suka memberi penilaian daripada mendengarkan.

Akibatnya, orang lain bisa merasa tidak dipahami atau bahkan diremehkan.

5. “Aku nggak peduli orang lain bilang apa.”

Pada tingkat tertentu, tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain adalah hal yang sehat.

Namun, ketika kalimat ini digunakan untuk mengabaikan kritik yang membangun atau mengesampingkan perasaan orang lain, hal tersebut bisa menjadi tanda egoisme.

Psikologi menunjukkan bahwa individu yang matang secara emosional mampu membedakan antara:

Kritik yang tidak perlu.
Masukan yang berguna.
Perasaan orang lain yang patut dipertimbangkan.

Orang egois sering menggunakan kalimat ini sebagai tameng agar tidak perlu mengubah perilaku mereka.

6. “Masalahmu itu sebenarnya sederhana.”

Salah satu ciri utama empati adalah kemampuan memahami bahwa beban yang ringan bagi satu orang bisa terasa sangat berat bagi orang lain.

Sebaliknya, orang egois cenderung mengecilkan kesulitan yang dialami orang lain.

Kalimat seperti:

“Kamu terlalu berlebihan.”
“Itu saja dipikirkan?”
“Harusnya gampang.”

menunjukkan kurangnya kemampuan untuk memahami pengalaman emosional orang lain.

Dalam psikologi, kemampuan memvalidasi perasaan orang lain merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat dan berkualitas.

7. “Yang penting aku bahagia.”

Kebahagiaan memang penting. Namun, orang egois sering menempatkan kebahagiaan pribadi di atas segala-galanya tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Mereka mungkin:

Mengingkari janji demi kepentingan sendiri.
Mengabaikan kebutuhan pasangan.
Mengutamakan keuntungan pribadi dalam setiap keputusan.

Padahal, psikologi menunjukkan bahwa kebahagiaan yang berkelanjutan tidak hanya berasal dari pemenuhan kebutuhan diri sendiri, tetapi juga dari hubungan yang sehat, rasa saling menghargai, dan kemampuan berbagi dengan orang lain.

Penutup

Egoisme tidak selalu tampak dalam bentuk perilaku yang mencolok. Sering kali, sifat tersebut justru terlihat dari kalimat-kalimat sederhana yang diucapkan sehari-hari.

Yang menarik, banyak orang egois tidak menyadari bahwa ucapan mereka telah memperlihatkan pola pikir yang terlalu berpusat pada diri sendiri. Mereka mungkin merasa sedang bersikap jujur atau realistis, padahal orang lain menangkapnya sebagai kurang empati dan sulit diajak bekerja sama.

Menurut psikologi, kedewasaan emosional bukan berarti selalu mengalah atau mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Kedewasaan justru tercermin dari kemampuan menyeimbangkan kepentingan pribadi dengan kepedulian terhadap orang lain. Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat dibangun bukan hanya oleh kata “aku”, tetapi juga oleh kemampuan untuk mengatakan, “Aku mengerti perasaanmu.”

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore