Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 Juni 2026 | 04.19 WIB

8 Hal yang Dilakukan Orang Tua yang Secara Perlahan Menjauhkan Anak-Anak Mereka yang Sudah Dewasa Tanpa Disadari Menurut Psikologi

seseorang yang secara perlahan menjauhkan anak-anak / foto: Magnific/shurkin_son - Image

seseorang yang secara perlahan menjauhkan anak-anak / foto: Magnific/shurkin_son

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak berhenti ketika anak tumbuh dewasa. Justru, saat anak memasuki usia dewasa, hubungan tersebut memasuki fase baru yang membutuhkan penyesuaian dari kedua belah pihak. Namun, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar mempertahankan pola interaksi lama yang dulu mungkin efektif ketika anak masih kecil, tetapi kini justru menciptakan jarak emosional.

Dalam banyak kasus, anak-anak yang sudah dewasa tidak langsung memutus hubungan atau menunjukkan kemarahan secara terbuka. Mereka lebih sering memilih untuk mengurangi komunikasi, jarang berkunjung, atau membatasi informasi yang mereka bagikan kepada orang tua. Dari sudut pandang psikologi, perilaku ini sering kali merupakan respons terhadap pola hubungan yang membuat mereka merasa tidak dihargai, tidak dipahami, atau tidak memiliki ruang untuk menjadi diri sendiri.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (3/6), terdapat delapan hal yang sering dilakukan orang tua tanpa disadari yang dapat perlahan menjauhkan anak-anak mereka yang sudah dewasa.

1. Terus Mengkritik Keputusan Hidup Anak

Banyak orang tua percaya bahwa kritik adalah bentuk kepedulian. Mereka ingin anak terhindar dari kesalahan dan mengambil keputusan terbaik.

Namun, ketika setiap pilihan anak selalu dikomentari—mulai dari pekerjaan, pasangan, cara mengasuh anak, hingga gaya hidup—anak dewasa bisa merasa bahwa dirinya tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya.

Psikologi menunjukkan bahwa setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk merasa kompeten dan dihargai. Ketika kritik lebih sering muncul daripada dukungan, hubungan perlahan berubah dari sumber kenyamanan menjadi sumber stres.

Akibatnya, anak mungkin mulai menyembunyikan keputusan penting atau mengurangi komunikasi untuk menghindari penilaian yang terus-menerus.

2. Tidak Menghormati Batasan Pribadi

Saat anak masih kecil, orang tua memang memiliki akses penuh terhadap hampir seluruh aspek kehidupannya. Namun, ketika anak dewasa, mereka membutuhkan ruang pribadi yang sehat.

Misalnya, menelepon berkali-kali jika pesan belum dibalas, menuntut mengetahui setiap aktivitas anak, atau datang tanpa pemberitahuan ke rumah mereka.

Menurut psikologi hubungan, batasan yang sehat merupakan fondasi dari hubungan yang saling menghormati. Ketika batasan tersebut diabaikan, anak dapat merasa dikendalikan alih-alih dicintai.

Lama-kelamaan, mereka mungkin menciptakan jarak sebagai cara untuk melindungi privasi dan kemandiriannya.

3. Menggunakan Rasa Bersalah Sebagai Alat Kontrol

Kalimat seperti:

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore