Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Juni 2026 | 03.04 WIB

Orang yang Memutarbalikkan Kata-Kata untuk Menjadikan Anda Sebagai Penjahat dalam Setiap Argumen Biasanya Memiliki 8 Ciri Ini Menu

seseorang yang memutarbalikkan kata / foto: Magnific/katemangostar - Image

seseorang yang memutarbalikkan kata / foto: Magnific/katemangostar

JawaPos.com - Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana setiap percakapan terasa seperti jebakan?

Anda menjelaskan maksud dengan tenang, tetapi lawan bicara justru memelintir ucapan Anda. Anda menyampaikan kritik yang wajar, namun tiba-tiba dianggap menyerang. Bahkan ketika Anda mencoba menyelesaikan masalah, Anda justru diposisikan sebagai pihak yang bersalah.

Fenomena ini bukan sekadar perbedaan pendapat biasa. Dalam psikologi, perilaku memutarbalikkan kata-kata orang lain sering dikaitkan dengan pola komunikasi yang tidak sehat. Tujuannya bisa bermacam-macam, mulai dari mempertahankan ego, menghindari tanggung jawab, hingga mendapatkan kendali dalam hubungan.

Tentu saja, tidak semua orang yang salah paham sekali atau dua kali memiliki sifat manipulatif. Namun jika pola ini terus berulang, ada beberapa karakteristik psikologis yang sering muncul.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (2/6), terdapat delapan ciri yang biasanya dimiliki oleh orang yang selalu berusaha menjadikan Anda "penjahat" dalam setiap argumen.

1. Sulit Menerima Tanggung Jawab atas Kesalahan Sendiri

Salah satu ciri paling umum adalah ketidakmampuan mengakui kesalahan.

Ketika seseorang memiliki tingkat akuntabilitas yang rendah, ia cenderung mencari cara untuk mengalihkan fokus dari tindakannya sendiri. Salah satu strategi yang sering digunakan adalah membalikkan keadaan sehingga orang lain terlihat sebagai penyebab masalah.

Misalnya, ketika Anda menegur perilakunya yang menyakitkan, ia justru menuduh Anda terlalu sensitif atau suka mencari masalah.

Alih-alih membahas isu yang sebenarnya, percakapan berubah menjadi pembelaan terhadap karakter Anda.

Psikolog menyebut mekanisme ini sebagai bentuk pertahanan diri yang bertujuan melindungi harga diri dari rasa bersalah atau malu.

2. Memiliki Kebutuhan Tinggi untuk Selalu Benar

Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan terasa seperti kekalahan.

Mereka melihat perdebatan bukan sebagai sarana mencari solusi, melainkan sebagai kompetisi yang harus dimenangkan. Karena itu, apa pun yang Anda katakan akan dipelintir agar posisi mereka tetap terlihat benar.

Jika fakta tidak mendukung argumen mereka, mereka mungkin mengubah konteks, mengabaikan detail penting, atau menafsirkan ulang perkataan Anda.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore