Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Mei 2026 | 22.46 WIB

10 Kata Spesifik yang Sering Diucapkan Orang dengan Tingkat Kecerdasan Rendah agar Terdengar Pintar Menurut Psikologi

seseorang yang ingin terdengar pintar / foto: Magnific/Dragana Stock - Image

seseorang yang ingin terdengar pintar / foto: Magnific/Dragana Stock

JawaPos.com - Di kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu orang yang tampak sangat percaya diri saat berbicara. Mereka menggunakan istilah rumit, jargon teknis, atau kata-kata yang terdengar intelektual. Sekilas, ini bisa memberi kesan bahwa mereka sangat pintar dan berwawasan luas. Namun, psikologi menunjukkan bahwa penggunaan bahasa yang terlalu kompleks tidak selalu mencerminkan kecerdasan tinggi.

Faktanya, beberapa orang justru menggunakan kata-kata tertentu sebagai “topeng intelektual” untuk menutupi kurangnya pemahaman mendalam. Fenomena ini berkaitan dengan konsep impression management, yaitu upaya seseorang mengontrol bagaimana orang lain memandang dirinya.

Penting dicatat: memakai kata-kata ini tidak otomatis berarti seseorang kurang cerdas. Yang menjadi perhatian adalah ketika kata-kata tersebut digunakan berlebihan, tidak tepat konteks, atau hanya untuk terlihat lebih superior.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (17/5), terdapat 10 kata spesifik yang sering dipakai orang untuk terdengar pintar menurut perspektif psikologi.

1. “Secara fundamental”

Kata ini sering dipakai untuk memberi kesan bahwa pembicara sedang membahas inti persoalan.

Contoh:

“Masalah ini secara fundamental sangat kompleks.”

Masalahnya, banyak orang mengucapkannya tanpa benar-benar menjelaskan apa “fundamental”-nya. Ini membuat kalimat terdengar berbobot padahal informasinya minim.

Dalam psikologi komunikasi, ini disebut verbosity bias—orang cenderung menilai penjelasan panjang dan rumit sebagai lebih cerdas.

2. “Paradigma”

“Paradigma” adalah kata favorit banyak orang yang ingin terlihat akademis.

Contoh:

“Kita harus mengubah paradigma berpikir masyarakat.”

Padahal, sering kali kata ini bisa diganti dengan “cara berpikir” tanpa kehilangan makna. Penggunaan istilah rumit seperti ini kadang hanya untuk meningkatkan status sosial dalam percakapan.

3. “Esensial”

Kata ini memang valid, tetapi sering dipakai berlebihan.

Contoh:

“Komunikasi adalah sesuatu yang esensial.”

Kalimat ini terdengar formal, tetapi tidak menambah wawasan baru. Orang yang kurang memahami topik sering memakai kata umum dengan nuansa serius agar terdengar mendalam.

4. “Kompleks”

Orang yang ingin menghindari penjelasan detail sering menggunakan kata ini.

Contoh:

“Situasinya terlalu kompleks untuk dijelaskan.”

Kadang ini benar. Namun dalam banyak kasus, kata “kompleks” menjadi jalan pintas untuk menutupi ketidakmampuan menjelaskan sesuatu secara sederhana.

Padahal, menurut prinsip yang sering dikaitkan dengan Feynman Technique, memahami sesuatu secara mendalam justru memungkinkan seseorang menjelaskannya dengan sederhana.

5. “Objektif”

Banyak orang memakai kata ini untuk memberi legitimasi pada opininya.

Contoh:

“Kalau dilihat secara objektif, saya benar.”

Ironisnya, klaim objektivitas sering muncul justru saat seseorang sangat subjektif. Dalam psikologi kognitif, ini berkaitan dengan bias blind spot—kecenderungan merasa diri lebih objektif dibanding orang lain.

6. “Literally”

Meski berasal dari bahasa Inggris dan populer di media sosial, kata ini sering dipakai tanpa makna literal.

Contoh:

“Saya literally mati ketawa.”

Penggunaan hiperbolik seperti ini membuat pembicara terdengar dramatis, bukan lebih cerdas.

7. “Korelasi”

Istilah statistik ini sering dipakai untuk memberi kesan ilmiah.

Contoh:

“Ada korelasi kuat antara kesuksesan dan mindset.”

Masalahnya, banyak orang tidak memahami perbedaan korelasi dan sebab-akibat. Ini adalah contoh klasik penggunaan istilah teknis tanpa pemahaman mendalam.

8. “Narasi”

Kata ini makin populer dalam diskusi sosial dan politik.

Contoh:

“Itu hanya bagian dari narasi tertentu.”

Sering kali kata ini digunakan untuk terdengar kritis tanpa benar-benar menjelaskan argumen.

Penggunaan istilah abstrak seperti ini dapat memberi ilusi kedalaman berpikir, padahal isi pembicaraan tetap dangkal.

9. “Valid”

Kata ini sangat populer dalam budaya internet.

Contoh:

“Pendapat kamu valid.”

Meski berguna dalam konteks emosional, kata ini kadang digunakan berlebihan agar terdengar bijak dan psikologis.

Ketika semua hal disebut “valid,” maknanya menjadi kabur.

10. “Basically”

Mirip dengan “secara fundamental,” kata ini sering dipakai untuk membuka pernyataan agar terdengar lebih terstruktur.

Contoh:

“Basically, yang saya maksud adalah…”

Sering kali kata ini hanya menjadi pengisi verbal, bukan penambah makna.

Psikologi menyebut kebiasaan ini sebagai bagian dari fluency management, yaitu strategi agar pembicaraan terdengar lebih lancar dan terkontrol.

Mengapa Orang Melakukan Ini?

Ada beberapa alasan psikologis mengapa seseorang memakai kata-kata “pintar” secara berlebihan:

1. Ingin mendapat validasi sosial
Bahasa kompleks bisa meningkatkan persepsi kompetensi.

2. Menutupi rasa tidak aman
Sebagian orang merasa perlu terdengar intelektual agar dihargai.

3. Meniru lingkungan
Jika berada di lingkungan akademis atau profesional, orang cenderung mengadopsi jargon yang sering didengar.

Fenomena ini juga berkaitan dengan Dunning–Kruger effect, yaitu kecenderungan seseorang dengan kemampuan rendah melebih-lebihkan pemahamannya.

Ciri Orang Benar-Benar Cerdas Justru Berbeda

Menariknya, orang dengan pemahaman tinggi biasanya tidak terlalu sibuk terdengar pintar.

Mereka cenderung:

berbicara jelas dan sederhana,
mengakui saat tidak tahu,
menjelaskan konsep rumit dengan bahasa mudah dipahami,
fokus pada isi, bukan kesan.

Seperti kutipan yang sering dikaitkan dengan Albert Einstein: “Jika Anda tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, berarti Anda belum cukup memahaminya.”

Kesimpulan

Bahasa memang alat penting untuk membangun citra diri. Namun, kecerdasan sejati jarang membutuhkan banyak hiasan verbal. Kata-kata rumit bisa menciptakan kesan awal, tetapi dalam jangka panjang, pemahaman yang mendalam akan selalu lebih terlihat.

Jadi, lain kali saat mendengar seseorang terlalu sering berkata “paradigma”, “fundamental”, atau “objektif”, perhatikan bukan hanya katanya—tetapi apakah ada isi nyata di baliknya.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore