
seseorang yang memiliki harga diri sejati / foto: Magnific/katemangostar
JawaPos.com - Di era media sosial, banyak orang merasa harus terus-menerus menjelaskan diri mereka: mengapa memilih pekerjaan tertentu, kenapa mengakhiri hubungan, alasan tidak menghadiri acara, bahkan pilihan gaya hidup sehari-hari. Seolah-olah hidup baru sah jika mendapat persetujuan publik.
Namun, orang dengan harga diri sejati tidak hidup dalam mode pembelaan konstan. Mereka memahami bahwa tidak semua keputusan membutuhkan validasi eksternal. Dalam psikologi, harga diri yang sehat berkaitan dengan rasa nilai diri yang stabil—bukan bergantung pada pujian, penerimaan, atau persetujuan orang lain.
Bukan berarti mereka tertutup atau antikritik. Mereka tetap terbuka untuk diskusi, tetapi tahu batas antara komunikasi sehat dan kebiasaan menjelaskan diri secara berlebihan demi menyenangkan semua orang.
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (15/5), terdapat 8 hal yang biasanya tidak pernah merasa perlu dijelaskan oleh orang dengan harga diri sejati.
1. Mengapa mereka berkata “tidak”
Orang dengan harga diri rendah sering merasa bersalah ketika menolak permintaan. Mereka lalu membuat penjelasan panjang: sibuk, lelah, ada urusan keluarga, atau alasan lain agar tidak terlihat jahat.
Sebaliknya, orang dengan harga diri sehat memahami bahwa berkata “tidak” adalah bagian dari menjaga batasan.
Mereka tahu waktu, energi, dan perhatian adalah sumber daya terbatas. Menolak sesuatu bukan berarti egois, tetapi bentuk pengelolaan diri.
Psikologi menyebut ini sebagai boundary setting—kemampuan menetapkan batas interpersonal tanpa rasa bersalah berlebihan.
Kalimat sederhana seperti, “Saya tidak bisa,” atau “Itu tidak cocok untuk saya,” sudah cukup.
2. Pilihan hidup yang berbeda dari ekspektasi umum
Tidak semua orang ingin jalur hidup yang sama: menikah cepat, punya anak, bekerja di kantor besar, atau mengikuti standar sukses konvensional.
Orang dengan harga diri sejati tidak merasa wajib menjelaskan mengapa mereka memilih jalan berbeda.
Mereka sadar bahwa hidup bukan proyek kolektif yang harus mendapat persetujuan mayoritas.
Baik itu memilih menjadi freelancer, pindah kota, hidup sederhana, atau menunda hubungan serius—mereka tidak terus-menerus mencari pembenaran.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
