Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 April 2026 | 20.10 WIB

Perbedaan antara Orang yang Mengatakan “Saya Tidak Punya Uang” dan Orang yang Benar-benar Tidak Punya Uang, Biasanya Memperlihatkan 7 Tanda yang Jelas Ini Menurut Psikologi

seseorang yang benar-benar tidak punya uang / freepik - Image

seseorang yang benar-benar tidak punya uang / freepik

JawaPos.com - Kalimat “saya tidak punya uang” sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, menariknya, secara psikologis kalimat ini tidak selalu berarti kondisi finansial yang sebenarnya. Ada perbedaan besar antara orang yang mengatakan tidak punya uang dan orang yang benar-benar berada dalam kondisi kekurangan secara nyata.

Psikologi melihat hal ini bukan hanya sebagai soal ekonomi, tetapi juga sebagai cerminan pola pikir, kebiasaan, dan cara seseorang memaknai uang.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (12/4), terdapat 7 tanda jelas yang membedakan keduanya.

1. Cara Mereka Menggunakan Uang

Orang yang hanya mengatakan tidak punya uang biasanya masih memiliki pengeluaran untuk hal-hal yang bersifat keinginan (wants), seperti nongkrong, hiburan, atau belanja impulsif.

Sebaliknya, orang yang benar-benar tidak punya uang akan sangat selektif. Mereka fokus pada kebutuhan dasar (needs) seperti makan, transportasi, dan tempat tinggal. Setiap pengeluaran dipikirkan matang karena ada keterbatasan nyata.

2. Pola Pikir terhadap Uang

Secara psikologis, ini adalah perbedaan paling mendasar.

Orang yang sering berkata “tidak punya uang” biasanya memiliki scarcity mindset semu — merasa kekurangan, tapi sebenarnya masih punya pilihan.
Orang yang benar-benar kekurangan hidup dalam scarcity mindset nyata — mereka mengalami tekanan mental karena keterbatasan yang riil.

Perbedaannya? Yang satu masih bisa memilih, yang satu lagi tidak.

3. Respons terhadap Kesempatan

Ketika ada peluang (misalnya diskon, investasi kecil, atau peluang usaha):

Orang yang hanya “merasa tidak punya uang” cenderung berkata:
“Lagi nggak mau keluar uang.”
Orang yang benar-benar tidak punya uang akan berpikir:
“Saya ingin, tapi memang tidak mampu.”

Nada dan emosinya berbeda—yang satu pilihan, yang satu keterpaksaan.

4. Gaya Hidup yang Ditampilkan

Orang yang sebenarnya masih punya uang tetapi berkata sebaliknya sering kali tetap mempertahankan gaya hidup tertentu demi citra sosial.

Sebaliknya, orang yang benar-benar kekurangan biasanya tidak terlalu fokus pada penampilan atau gengsi. Mereka lebih fokus bertahan hidup daripada terlihat “baik-baik saja”.

5. Cara Mereka Berbicara tentang Uang

Dalam psikologi komunikasi, bahasa mencerminkan realitas batin.

Orang yang “tidak punya uang” secara sosial sering menggunakan kalimat seperti:
“Lagi hemat.”
“Budget lagi ketat.”
Orang yang benar-benar tidak punya uang cenderung lebih jujur dan langsung:
“Saya nggak bisa bayar.”
“Saya belum punya uang sama sekali.”

Tidak ada “filter sosial” karena kondisi memaksa mereka untuk realistis.

6. Tingkat Stres dan Kecemasan

Orang yang benar-benar tidak punya uang mengalami tekanan psikologis yang jauh lebih tinggi. Ini bisa berupa:

kecemasan kronis
sulit tidur
overthinking tentang masa depan

Sementara itu, orang yang hanya berkata tidak punya uang biasanya tidak mengalami tekanan emosional yang sama. Mereka masih memiliki “jaring pengaman” finansial.

7. Cara Mereka Mengambil Keputusan

Orang yang benar-benar kekurangan uang cenderung membuat keputusan berbasis survival:

memilih yang paling murah
menunda kebutuhan penting
mengorbankan kualitas demi harga

Sedangkan orang yang sebenarnya masih punya uang tetap mempertimbangkan kenyamanan, kualitas, atau bahkan kesenangan dalam keputusan mereka.

Kesimpulan

Secara psikologis, perbedaan antara “tidak punya uang” sebagai ucapan dan sebagai realitas terletak pada pilihan vs keterpaksaan.

Jika seseorang masih bisa memilih untuk mengeluarkan uang, maka ia tidak benar-benar kekurangan.
Jika seseorang tidak punya pilihan selain menahan diri, maka itulah kondisi kekurangan yang sebenarnya.

Memahami perbedaan ini penting, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk:

lebih empati terhadap orang lain
lebih jujur terhadap kondisi diri sendiri

dan lebih bijak dalam mengelola keuangan***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore