Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 April 2026 | 06.15 WIB

Jika Anda Terlalu Banyak Berpikir dalam Setiap Percakapan, Mulailah Mempraktikkan 7 Teknik Halus Ini Menurut Psikologi

seseorang yang terlalu banyak berpikir./Freepik/utaem2022 - Image

seseorang yang terlalu banyak berpikir./Freepik/utaem2022

JawaPos.com - Pernahkah Anda selesai berbicara dengan seseorang, lalu berjam-jam (atau bahkan berhari-hari) memikirkan ulang setiap kata yang Anda ucapkan?
“Harusnya tadi saya bilang ini…”
“Kenapa saya terdengar aneh ya?”
“Dia tersinggung nggak ya?”

Jika ini terasa familiar, Anda tidak sendirian.

Kebiasaan overthinking dalam percakapan adalah sesuatu yang umum terjadi, terutama pada orang yang empatik, reflektif, atau memiliki standar tinggi terhadap diri sendiri. Namun, jika dibiarkan, hal ini bisa menguras energi mental, menurunkan kepercayaan diri, dan bahkan membuat Anda menghindari interaksi sosial.

Kabar baiknya, psikologi menawarkan beberapa teknik sederhana namun efektif untuk membantu Anda keluar dari pola ini—tanpa harus mengubah kepribadian Anda secara drastis.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (30/3), terdapat 7 teknik halus yang bisa Anda mulai praktikkan.

1. Alihkan Fokus dari Diri Sendiri ke Lawan Bicara

Overthinking sering muncul karena perhatian kita terlalu terpusat pada diri sendiri:

“Saya terlihat aneh nggak?”
“Saya ngomongnya salah nggak?”

Padahal, percakapan bukanlah panggung satu arah.

Tekniknya:
Alihkan fokus Anda ke rasa ingin tahu terhadap lawan bicara:

Apa yang mereka rasakan?
Apa yang mereka maksud?
Apa yang menarik dari cerita mereka?

Mengapa ini efektif?
Psikologi sosial menunjukkan bahwa ketika kita fokus pada orang lain, kecemasan diri menurun secara signifikan karena perhatian kita tidak lagi terjebak dalam evaluasi diri yang berlebihan.

2. Gunakan Aturan “Cukup Baik”

Banyak overthinking berasal dari keinginan untuk selalu mengatakan hal yang “sempurna”.

Masalahnya: percakapan nyata tidak pernah sempurna.

Tekniknya:
Terapkan prinsip:

“Yang penting cukup jelas, bukan sempurna.”

Contoh:

Tidak perlu mencari kalimat paling cerdas
Tidak harus selalu lucu atau menarik

Efek psikologisnya:
Anda memberi otak sinyal bahwa komunikasi adalah proses alami, bukan performa yang harus dinilai.

3. Berhenti Membaca Pikiran Orang Lain

Salah satu jebakan terbesar dalam overthinking adalah asumsi:

“Dia pasti berpikir saya aneh”
“Dia kelihatannya nggak suka saya”

Padahal, ini hanyalah interpretasi—bukan fakta.

Tekniknya:
Setiap kali Anda membuat asumsi, tanyakan:

“Apa buktinya?”
“Atau ini cuma pikiran saya?”

Fakta penting:
Sebagian besar orang lebih sibuk memikirkan diri mereka sendiri daripada menganalisis Anda.

4. Latih Respons, Bukan Skrip

Orang yang overthinking sering mencoba “menyiapkan” percakapan di kepala:

Menghafal jawaban
Menebak arah pembicaraan

Sayangnya, ini justru membuat Anda kaku.

Tekniknya:
Alihkan dari “menyusun skrip” ke “melatih respons spontan”:

Dengarkan
Tanggapi secara natural
Biarkan percakapan mengalir

Mengapa ini berhasil?
Otak manusia lebih baik dalam merespons secara real-time daripada mengikuti skenario yang dibuat sebelumnya.

5. Terima Keheningan sebagai Hal Normal

Banyak orang merasa panik saat percakapan berhenti sejenak.

Akibatnya:

Mereka buru-buru bicara
Atau setelahnya overthinking

Tekniknya:
Biasakan diri dengan jeda:

Diam beberapa detik itu normal
Tidak semua momen harus diisi kata-kata

Insight psikologis:
Keheningan sering kali justru memberi ruang bagi percakapan yang lebih bermakna.

6. Batasi “Review Mental” Setelah Percakapan

Menganalisis percakapan sedikit itu normal. Tapi overthinking terjadi saat Anda mengulangnya terus-menerus.

Tekniknya:
Buat batas waktu:

“Saya boleh memikirkan ini selama 5 menit, setelah itu selesai.”

Atau gunakan distraksi sehat:

Jalan kaki
Mendengarkan musik
Mengerjakan hal lain

Tujuannya:
Melatih otak untuk tidak terjebak dalam loop analisis tanpa akhir.

7. Latih Self-Compassion (Berbaik Hati pada Diri Sendiri)

Sering kali, kita terlalu keras pada diri sendiri dalam percakapan:

“Saya bodoh banget”
“Kenapa saya nggak bisa santai?”

Padahal, tidak ada manusia yang selalu sempurna dalam komunikasi.

Tekniknya:
Ganti suara internal Anda:

Dari: “Saya memalukan”
Menjadi: “Saya manusia, wajar kalau tidak sempurna”

Penjelasan psikologis:
Self-compassion terbukti menurunkan kecemasan sosial dan meningkatkan kepercayaan diri dalam interaksi.

Penutup: Percakapan Bukan Ujian

Hal yang perlu Anda ingat:

Percakapan bukan ujian yang harus Anda lulus dengan nilai sempurna.
Itu hanyalah cara manusia untuk terhubung.

Orang tidak mengingat setiap kata yang Anda ucapkan.
Mereka mengingat bagaimana perasaan mereka saat berbicara dengan Anda.

Dan sering kali, kehangatan, kejujuran, dan kehadiran Anda jauh lebih penting daripada kalimat yang sempurna.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore