Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Maret 2026 | 05.09 WIB

Orang yang Selalu Meminta Maaf Bahkan Saat Tidak Salah: 8 Sifat yang Sering Berakar dari Masa Kecil Menurut Psikologi

seseorang yang mudah meminta maaf./Freepik/luis_molinero - Image

seseorang yang mudah meminta maaf./Freepik/luis_molinero

JawaPos.com - Ada orang-orang yang hampir selalu mengucapkan “maaf” dalam berbagai situasi—bahkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan apa pun. Mereka meminta maaf karena hal-hal kecil, karena perasaan orang lain, bahkan karena sekadar keberadaan mereka sendiri. Sekilas terlihat sopan dan rendah hati, tetapi dalam psikologi, kebiasaan ini sering kali memiliki akar yang lebih dalam.

Perilaku ini bukan muncul begitu saja. Banyak penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pola komunikasi, rasa aman, dan pengalaman emosional di masa kecil sangat memengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya dan berinteraksi dengan orang lain saat dewasa.

Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (26/3), terdapat 8 sifat yang sering diwarisi dari masa kecil oleh orang yang cenderung terlalu sering meminta maaf:

1. Rasa Tanggung Jawab Emosional yang Berlebihan

Sejak kecil, mereka mungkin terbiasa merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Misalnya, ketika orang tua marah, mereka merasa itu karena kesalahan mereka.

Akibatnya, saat dewasa:

Mereka merasa perlu “menenangkan” situasi dengan meminta maaf
Bahkan ketika konflik bukan kesalahan mereka

2. Takut Akan Konflik

Anak yang tumbuh di lingkungan penuh konflik (pertengkaran, kritik keras, atau suasana tegang) sering mengembangkan ketakutan terhadap konflik.

Sebagai orang dewasa:

Mereka menghindari perdebatan
Memilih meminta maaf daripada mempertahankan diri
Menganggap “damai” lebih penting daripada “benar”

3. Harga Diri yang Rendah

Jika sejak kecil sering dikritik atau jarang dihargai, seseorang bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya “kurang”.

Tanda-tandanya:

Mudah merasa bersalah
Menganggap dirinya beban
Menggunakan “maaf” sebagai refleksi dari rasa tidak layak

4. Kebutuhan untuk Menyenangkan Orang Lain (People-Pleasing)

Anak yang hanya mendapatkan kasih sayang saat “bersikap baik” atau “tidak merepotkan” akan belajar bahwa cinta itu bersyarat.

Dampaknya:

Mereka berusaha menyenangkan semua orang
Takut mengecewakan
Meminta maaf menjadi alat untuk menjaga hubungan

5. Kurangnya Batasan Diri (Boundaries)

Jika tidak diajarkan batasan yang sehat sejak kecil, seseorang mungkin tidak tahu kapan harus berkata “tidak”.

Akibatnya:

Mereka merasa bersalah saat menolak sesuatu
Menganggap kebutuhan orang lain selalu lebih penting
Meminta maaf bahkan saat sedang melindungi diri sendiri

6. Terbiasa Disalahkan Secara Tidak Adil

Beberapa anak tumbuh di lingkungan di mana mereka sering disalahkan, bahkan untuk hal yang bukan tanggung jawab mereka.

Ini membentuk pola:

“Lebih aman mengaku salah daripada diserang”
Kebiasaan meminta maaf sebagai mekanisme bertahan

7. Sensitivitas Emosional Tinggi

Sebagian orang memang secara alami lebih sensitif, tetapi lingkungan masa kecil bisa memperkuatnya.

Ciri-cirinya:

Mudah membaca emosi orang lain
Cepat merasa tidak enak hati
Menggunakan permintaan maaf sebagai cara menjaga keseimbangan emosi sosial

8. Takut Ditolak atau Ditinggalkan

Jika masa kecil diwarnai oleh ketidakstabilan emosional (misalnya hubungan yang tidak konsisten), seseorang bisa tumbuh dengan rasa takut ditinggalkan.

Akibatnya:

Mereka menjaga hubungan dengan cara “mengalah”
Meminta maaf untuk mempertahankan kedekatan
Menghindari risiko kehilangan orang lain
Apakah Ini Hal yang Buruk?

Tidak selalu. Meminta maaf adalah tanda empati dan kesadaran sosial. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, ini bisa menjadi masalah karena:

Mengikis harga diri
Membuat orang lain tidak menghargai batasan kita
Menyebabkan kelelahan emosional
Cara Mengatasinya

Jika kamu merasa relate, ada beberapa langkah yang bisa dicoba:

Sadari pola ini – Perhatikan kapan kamu meminta maaf tanpa alasan jelas
Ganti kata “maaf” dengan alternatif – Misalnya:
“Terima kasih sudah menunggu”
“Aku menghargai pengertianmu”
Bangun batasan yang sehat
Latih self-compassion (belas kasih pada diri sendiri)
Pertimbangkan terapi atau refleksi diri mendalam

Penutup

Kebiasaan selalu meminta maaf bukan sekadar soal sopan santun—sering kali itu adalah cerminan dari pengalaman masa kecil dan cara seseorang belajar bertahan dalam lingkungannya. Memahami akar dari perilaku ini bukan untuk menyalahkan masa lalu, tetapi untuk memberi ruang bagi pertumbuhan.

Karena pada akhirnya, kamu tidak perlu meminta maaf hanya karena menjadi dirimu sendiri.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore