
seseorang yang mudah meminta maaf./Freepik/luis_molinero
JawaPos.com - Ada orang-orang yang hampir selalu mengucapkan “maaf” dalam berbagai situasi—bahkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan apa pun. Mereka meminta maaf karena hal-hal kecil, karena perasaan orang lain, bahkan karena sekadar keberadaan mereka sendiri. Sekilas terlihat sopan dan rendah hati, tetapi dalam psikologi, kebiasaan ini sering kali memiliki akar yang lebih dalam.
Perilaku ini bukan muncul begitu saja. Banyak penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pola komunikasi, rasa aman, dan pengalaman emosional di masa kecil sangat memengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya dan berinteraksi dengan orang lain saat dewasa.
Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (26/3), terdapat 8 sifat yang sering diwarisi dari masa kecil oleh orang yang cenderung terlalu sering meminta maaf:
1. Rasa Tanggung Jawab Emosional yang Berlebihan
Sejak kecil, mereka mungkin terbiasa merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Misalnya, ketika orang tua marah, mereka merasa itu karena kesalahan mereka.
Akibatnya, saat dewasa:
Mereka merasa perlu “menenangkan” situasi dengan meminta maaf
Bahkan ketika konflik bukan kesalahan mereka
2. Takut Akan Konflik
Anak yang tumbuh di lingkungan penuh konflik (pertengkaran, kritik keras, atau suasana tegang) sering mengembangkan ketakutan terhadap konflik.
Sebagai orang dewasa:
Mereka menghindari perdebatan
Memilih meminta maaf daripada mempertahankan diri
Menganggap “damai” lebih penting daripada “benar”
3. Harga Diri yang Rendah
Jika sejak kecil sering dikritik atau jarang dihargai, seseorang bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya “kurang”.
Tanda-tandanya:
Mudah merasa bersalah
Menganggap dirinya beban
Menggunakan “maaf” sebagai refleksi dari rasa tidak layak
4. Kebutuhan untuk Menyenangkan Orang Lain (People-Pleasing)
Anak yang hanya mendapatkan kasih sayang saat “bersikap baik” atau “tidak merepotkan” akan belajar bahwa cinta itu bersyarat.
Dampaknya:
Mereka berusaha menyenangkan semua orang
Takut mengecewakan
Meminta maaf menjadi alat untuk menjaga hubungan
5. Kurangnya Batasan Diri (Boundaries)
Jika tidak diajarkan batasan yang sehat sejak kecil, seseorang mungkin tidak tahu kapan harus berkata “tidak”.
Akibatnya:
Mereka merasa bersalah saat menolak sesuatu
Menganggap kebutuhan orang lain selalu lebih penting
Meminta maaf bahkan saat sedang melindungi diri sendiri
6. Terbiasa Disalahkan Secara Tidak Adil
Beberapa anak tumbuh di lingkungan di mana mereka sering disalahkan, bahkan untuk hal yang bukan tanggung jawab mereka.
Ini membentuk pola:
“Lebih aman mengaku salah daripada diserang”
Kebiasaan meminta maaf sebagai mekanisme bertahan
7. Sensitivitas Emosional Tinggi
Sebagian orang memang secara alami lebih sensitif, tetapi lingkungan masa kecil bisa memperkuatnya.
Ciri-cirinya:
Mudah membaca emosi orang lain
Cepat merasa tidak enak hati
Menggunakan permintaan maaf sebagai cara menjaga keseimbangan emosi sosial
8. Takut Ditolak atau Ditinggalkan
Jika masa kecil diwarnai oleh ketidakstabilan emosional (misalnya hubungan yang tidak konsisten), seseorang bisa tumbuh dengan rasa takut ditinggalkan.
Akibatnya:
Mereka menjaga hubungan dengan cara “mengalah”
Meminta maaf untuk mempertahankan kedekatan
Menghindari risiko kehilangan orang lain
Apakah Ini Hal yang Buruk?
Tidak selalu. Meminta maaf adalah tanda empati dan kesadaran sosial. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, ini bisa menjadi masalah karena:
Mengikis harga diri
Membuat orang lain tidak menghargai batasan kita
Menyebabkan kelelahan emosional
Cara Mengatasinya
Jika kamu merasa relate, ada beberapa langkah yang bisa dicoba:
Sadari pola ini – Perhatikan kapan kamu meminta maaf tanpa alasan jelas
Ganti kata “maaf” dengan alternatif – Misalnya:
“Terima kasih sudah menunggu”
“Aku menghargai pengertianmu”
Bangun batasan yang sehat
Latih self-compassion (belas kasih pada diri sendiri)
Pertimbangkan terapi atau refleksi diri mendalam
Penutup
Kebiasaan selalu meminta maaf bukan sekadar soal sopan santun—sering kali itu adalah cerminan dari pengalaman masa kecil dan cara seseorang belajar bertahan dalam lingkungannya. Memahami akar dari perilaku ini bukan untuk menyalahkan masa lalu, tetapi untuk memberi ruang bagi pertumbuhan.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
