
seseorang yang tidak disukai sebab media sosial / freepik
JawaPos.com - Di era digital, media sosial bukan hanya tempat berbagi momen, tetapi juga menjadi “cermin” kepribadian seseorang. Apa yang Anda unggah, komentari, dan respons secara online dapat membentuk persepsi orang lain—bahkan memengaruhi bagaimana mereka memperlakukan Anda di dunia nyata.
Menariknya, berbagai penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa kebiasaan tertentu di media sosial bisa menurunkan kesan positif seseorang secara signifikan. Tanpa disadari, hal-hal kecil yang tampak sepele justru bisa membuat orang merasa tidak nyaman, menjauh, atau bahkan tidak menyukai Anda.
Dilansir dari Geediting pada Jumat (20/3), terdapat 9 kebiasaan media sosial yang secara psikologis dapat merusak citra Anda di kehidupan nyata.
1. Terlalu Sering Pamer (Oversharing Pencapaian)
Memamerkan pencapaian sesekali memang wajar. Namun jika hampir setiap unggahan berisi kesuksesan, barang mahal, atau gaya hidup “sempurna”, orang lain bisa merasa lelah atau bahkan terganggu.
Dalam psikologi, ini berkaitan dengan social comparison theory—orang cenderung membandingkan diri dengan orang lain. Jika Anda terus memicu perbandingan, Anda bisa dianggap:
Sombong
Kurang empati
Mencari validasi
Akibatnya, orang mungkin tetap tersenyum di depan Anda, tetapi diam-diam menjaga jarak.
2. Mengeluh Terus-Menerus
Curhat sesekali bisa membantu, tetapi jika timeline Anda dipenuhi keluhan, orang akan mulai mengasosiasikan Anda dengan energi negatif.
Psikologi menyebut ini sebagai emotional contagion—emosi dapat “menular”. Orang cenderung menghindari sumber stres, termasuk akun yang selalu:
Mengeluh soal pekerjaan
Mengkritik hidup
Menyalahkan keadaan
Di dunia nyata, Anda bisa dianggap “draining” atau melelahkan secara emosional.
3. Mencari Perhatian Secara Berlebihan
Posting yang secara halus meminta perhatian seperti:
“Gak apa-apa kok… ”
“Capek banget, tapi ya sudahlah…”
bisa membuat orang merasa dimanipulasi secara emosional.
Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan need for validation yang tinggi. Jika dilakukan terus-menerus, orang akan:
Kehilangan simpati
Menganggap Anda tidak tulus
Merasa dipaksa untuk merespons
4. Terlalu Banyak Selfie atau Foto Diri
Mengunggah foto diri bukan masalah. Namun jika hampir semua konten berfokus pada wajah atau penampilan sendiri, orang bisa menganggap Anda narsistik.
Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kecenderungan narcissistic traits lebih sering memposting selfie berlebihan. Dampaknya:
Orang lain merasa Anda terlalu fokus pada diri sendiri
Anda terlihat kurang tertarik pada orang lain
Dalam interaksi nyata, ini bisa membuat Anda dianggap kurang menyenangkan untuk diajak bergaul.
5. Sering Berdebat atau Menyerang Orang Lain
Media sosial sering menjadi tempat debat. Namun jika Anda:
Sering menyanggah orang
Menyindir
Mengkritik secara agresif
orang akan mengasosiasikan Anda dengan konflik.
Psikologi sosial menunjukkan bahwa orang lebih menyukai individu yang menciptakan rasa aman dan nyaman, bukan ketegangan. Bahkan jika Anda “benar”, cara penyampaian tetap menentukan.
6. Membagikan Hal yang Terlalu Pribadi
Menceritakan masalah hubungan, konflik keluarga, atau drama pribadi secara terbuka bisa membuat orang tidak nyaman.
Ini terkait dengan konsep boundary regulation—kemampuan mengatur batas antara kehidupan pribadi dan publik.
Jika batas ini terlalu longgar:
Orang merasa “terlalu tahu” tentang Anda
Timbul rasa canggung saat bertemu langsung
Anda dianggap kurang bijak atau impulsif
7. Tidak Pernah Berinteraksi, Hanya Posting
Jika Anda aktif posting tetapi jarang:
Membalas komentar
Memberi respons
Berinteraksi dengan orang lain
Anda bisa dianggap egois atau tidak peduli.
Dalam psikologi hubungan, interaksi timbal balik (reciprocity) sangat penting. Tanpa itu:
Orang merasa tidak dihargai
Hubungan terasa satu arah
8. Mengedit Realitas Secara Berlebihan
Filter, edit foto, dan pencitraan berlebihan dapat menciptakan versi diri yang tidak realistis.
Masalahnya muncul ketika:
Orang bertemu Anda di dunia nyata
Ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan
Ini dapat menimbulkan efek expectation violation, yang sering berujung pada kekecewaan dan penurunan kepercayaan.
9. Menyindir atau Passive-Aggressive Posting
Status yang berisi sindiran seperti:
“Ada aja orang yang gak tahu diri…”
“Kalau janji jangan PHP ya…”
sering membuat orang bertanya-tanya: “Ini buat siapa?”
Dalam psikologi komunikasi, ini disebut passive-aggressive behavior. Dampaknya:
Menciptakan ketegangan sosial
Membuat orang merasa tidak nyaman
Menurunkan kepercayaan
Orang lebih menghargai komunikasi yang jelas daripada sindiran terselubung.
Penutup
Media sosial memang ruang bebas berekspresi, tetapi tetap ada konsekuensi sosial yang nyata. Apa yang Anda tampilkan secara online akan membentuk persepsi orang terhadap Anda—baik secara sadar maupun tidak.
Bukan berarti Anda harus menjadi “sempurna”, tetapi lebih kepada:
Menjaga keseimbangan
Memahami dampak psikologis
Mengembangkan empati digital

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
