Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 26 Maret 2026 | 15.43 WIB

7 Alasan Psikologis Mengapa Sebagian Orang Bisa Menjalani Rutinitas yang Sama Bertahun-tahun Tanpa Tertekan, Sementara yang Lain Merasa Tercekik

Ilustrasi seseorang yang menjalani rutinitas yang sama bertahun-tahun (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang menjalani rutinitas yang sama bertahun-tahun (Freepik)

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat dua tipe manusia yang sangat berbeda. Ada mereka yang tampak tenang menjalani rutinitas yang sama setiap hari—bangun, bekerja, makan, tidur—bahkan selama bertahun-tahun tanpa keluhan berarti. Di sisi lain, ada pula mereka yang merasa jenuh, tertekan, bahkan seperti “kehabisan napas” hanya dalam waktu singkat menjalani pola hidup yang serupa.

Fenomena ini bukan sekadar soal kepribadian sederhana atau “mental kuat vs lemah”.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (19/3), dalam psikologi, ada berbagai faktor mendalam yang menjelaskan mengapa respons manusia terhadap rutinitas bisa sangat berbeda. Berikut tujuh alasan utamanya.


1. Perbedaan Kebutuhan Akan Stimulasi (Need for Stimulation)


Setiap individu memiliki tingkat kebutuhan stimulasi mental yang berbeda. Ada orang yang merasa nyaman dengan lingkungan yang stabil dan minim perubahan. Mereka justru merasa aman ketika hari-hari berjalan dapat diprediksi.

Sebaliknya, individu dengan kebutuhan stimulasi tinggi membutuhkan variasi, tantangan, dan pengalaman baru untuk merasa hidup. Tanpa itu, otak mereka mengalami “understimulation” yang memicu kebosanan, kegelisahan, bahkan stres.

2. Makna yang Ditemukan dalam Rutinitas

Rutinitas yang sama bisa terasa sangat berbeda tergantung pada makna yang diberikan seseorang terhadapnya.

Orang yang mampu bertahan dalam rutinitas biasanya melihat aktivitas harian mereka sebagai sesuatu yang bermakna—misalnya:

bekerja untuk keluarga,

membangun masa depan,

atau menjalankan panggilan hidup.

Sebaliknya, jika seseorang tidak menemukan makna dalam aktivitasnya, rutinitas akan terasa kosong dan menekan, seolah-olah hidup hanya berjalan tanpa tujuan.

3. Tingkat Adaptasi Psikologis

Manusia memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, tetapi tingkatnya berbeda-beda.

Beberapa orang cepat beradaptasi dengan pola yang berulang. Setelah fase awal penyesuaian, mereka tidak lagi merasa terganggu.

Namun, ada juga yang lebih sensitif terhadap monotonitas. Mereka terus menyadari repetisi tersebut, sehingga perasaan jenuh tidak pernah benar-benar hilang, bahkan cenderung menumpuk dari waktu ke waktu.

4. Peran Kontrol dan Otonomi

Rasa memiliki kendali terhadap hidup sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang merasakan rutinitas.

Jika seseorang memilih rutinitasnya sendiri—misalnya memilih pekerjaan, gaya hidup, atau jadwal—maka rutinitas itu terasa lebih ringan.

Sebaliknya, jika rutinitas terasa “dipaksakan” oleh keadaan, tekanan sosial, atau tuntutan ekonomi, maka aktivitas yang sama akan terasa seperti beban berat yang mengikat.

5. Pola Pikir (Mindset) terhadap Kebosanan

Cara seseorang memaknai kebosanan juga menentukan reaksinya.

Ada individu yang melihat kebosanan sebagai bagian normal dari hidup. Mereka tidak melawannya, tetapi menerimanya sebagai ritme alami.

Namun, ada pula yang menganggap kebosanan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Ketika kebosanan muncul, mereka langsung mengaitkannya dengan ketidakbahagiaan atau kegagalan hidup, sehingga tekanan psikologis meningkat.

6. Regulasi Emosi dan Ketahanan Mental

Kemampuan mengelola emosi (emotional regulation) sangat berperan besar.

Orang yang memiliki regulasi emosi yang baik:

lebih mampu menenangkan diri,

tidak mudah terbawa perasaan jenuh,

dan bisa menjaga stabilitas mental meskipun lingkungan tidak berubah.

Sebaliknya, mereka yang kesulitan mengelola emosi cenderung lebih cepat merasa “tercekik” oleh rutinitas karena setiap rasa bosan atau frustrasi terasa lebih intens.

7. Kehadiran Variasi Kecil dalam Rutinitas

Menariknya, orang yang tampak menjalani hari yang sama sebenarnya sering menyisipkan variasi kecil yang tidak terlihat oleh orang lain.

Misalnya:

mengubah cara bekerja,

mencari tantangan kecil,

mencoba perspektif baru,

atau menikmati detail yang berbeda setiap hari.

Variasi mikro ini cukup untuk menjaga otak tetap terstimulasi tanpa harus mengubah keseluruhan pola hidup.

Sebaliknya, individu yang merasa terjebak sering melihat rutinitas sebagai sesuatu yang sepenuhnya statis, tanpa ruang untuk eksplorasi kecil.

Penutup

Perbedaan antara merasa “baik-baik saja” dan merasa “tercekik” dalam rutinitas bukanlah soal siapa yang lebih kuat, tetapi soal bagaimana otak, emosi, dan makna bekerja dalam diri seseorang.

Rutinitas itu sendiri bersifat netral. Ia bisa menjadi sumber ketenangan atau justru tekanan—tergantung pada:

kebutuhan psikologis individu,

cara memaknai hidup,

serta kemampuan beradaptasi dan mengelola emosi.

Memahami hal ini penting, karena sering kali solusi bukanlah langsung mengubah hidup secara drastis, melainkan menyesuaikan cara kita berinteraksi dengan rutinitas itu sendiri.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore