
Ilustrasi seseorang yang menjalani rutinitas yang sama bertahun-tahun (Freepik)
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat dua tipe manusia yang sangat berbeda. Ada mereka yang tampak tenang menjalani rutinitas yang sama setiap hari—bangun, bekerja, makan, tidur—bahkan selama bertahun-tahun tanpa keluhan berarti. Di sisi lain, ada pula mereka yang merasa jenuh, tertekan, bahkan seperti “kehabisan napas” hanya dalam waktu singkat menjalani pola hidup yang serupa.
Fenomena ini bukan sekadar soal kepribadian sederhana atau “mental kuat vs lemah”.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (19/3), dalam psikologi, ada berbagai faktor mendalam yang menjelaskan mengapa respons manusia terhadap rutinitas bisa sangat berbeda. Berikut tujuh alasan utamanya.
1. Perbedaan Kebutuhan Akan Stimulasi (Need for Stimulation)
Setiap individu memiliki tingkat kebutuhan stimulasi mental yang berbeda. Ada orang yang merasa nyaman dengan lingkungan yang stabil dan minim perubahan. Mereka justru merasa aman ketika hari-hari berjalan dapat diprediksi.
Sebaliknya, individu dengan kebutuhan stimulasi tinggi membutuhkan variasi, tantangan, dan pengalaman baru untuk merasa hidup. Tanpa itu, otak mereka mengalami “understimulation” yang memicu kebosanan, kegelisahan, bahkan stres.
2. Makna yang Ditemukan dalam Rutinitas
Rutinitas yang sama bisa terasa sangat berbeda tergantung pada makna yang diberikan seseorang terhadapnya.
Orang yang mampu bertahan dalam rutinitas biasanya melihat aktivitas harian mereka sebagai sesuatu yang bermakna—misalnya:
bekerja untuk keluarga,
membangun masa depan,
atau menjalankan panggilan hidup.
Sebaliknya, jika seseorang tidak menemukan makna dalam aktivitasnya, rutinitas akan terasa kosong dan menekan, seolah-olah hidup hanya berjalan tanpa tujuan.
3. Tingkat Adaptasi Psikologis
Manusia memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, tetapi tingkatnya berbeda-beda.
Beberapa orang cepat beradaptasi dengan pola yang berulang. Setelah fase awal penyesuaian, mereka tidak lagi merasa terganggu.
Namun, ada juga yang lebih sensitif terhadap monotonitas. Mereka terus menyadari repetisi tersebut, sehingga perasaan jenuh tidak pernah benar-benar hilang, bahkan cenderung menumpuk dari waktu ke waktu.
4. Peran Kontrol dan Otonomi
Rasa memiliki kendali terhadap hidup sangat berpengaruh terhadap bagaimana seseorang merasakan rutinitas.
Jika seseorang memilih rutinitasnya sendiri—misalnya memilih pekerjaan, gaya hidup, atau jadwal—maka rutinitas itu terasa lebih ringan.
Sebaliknya, jika rutinitas terasa “dipaksakan” oleh keadaan, tekanan sosial, atau tuntutan ekonomi, maka aktivitas yang sama akan terasa seperti beban berat yang mengikat.
5. Pola Pikir (Mindset) terhadap Kebosanan
Cara seseorang memaknai kebosanan juga menentukan reaksinya.
Ada individu yang melihat kebosanan sebagai bagian normal dari hidup. Mereka tidak melawannya, tetapi menerimanya sebagai ritme alami.
Namun, ada pula yang menganggap kebosanan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Ketika kebosanan muncul, mereka langsung mengaitkannya dengan ketidakbahagiaan atau kegagalan hidup, sehingga tekanan psikologis meningkat.
6. Regulasi Emosi dan Ketahanan Mental
Kemampuan mengelola emosi (emotional regulation) sangat berperan besar.
Orang yang memiliki regulasi emosi yang baik:
lebih mampu menenangkan diri,
tidak mudah terbawa perasaan jenuh,
dan bisa menjaga stabilitas mental meskipun lingkungan tidak berubah.
Sebaliknya, mereka yang kesulitan mengelola emosi cenderung lebih cepat merasa “tercekik” oleh rutinitas karena setiap rasa bosan atau frustrasi terasa lebih intens.
7. Kehadiran Variasi Kecil dalam Rutinitas
Menariknya, orang yang tampak menjalani hari yang sama sebenarnya sering menyisipkan variasi kecil yang tidak terlihat oleh orang lain.
Misalnya:
mengubah cara bekerja,
mencari tantangan kecil,
mencoba perspektif baru,
atau menikmati detail yang berbeda setiap hari.
Variasi mikro ini cukup untuk menjaga otak tetap terstimulasi tanpa harus mengubah keseluruhan pola hidup.
Sebaliknya, individu yang merasa terjebak sering melihat rutinitas sebagai sesuatu yang sepenuhnya statis, tanpa ruang untuk eksplorasi kecil.
Penutup
Perbedaan antara merasa “baik-baik saja” dan merasa “tercekik” dalam rutinitas bukanlah soal siapa yang lebih kuat, tetapi soal bagaimana otak, emosi, dan makna bekerja dalam diri seseorang.
Rutinitas itu sendiri bersifat netral. Ia bisa menjadi sumber ketenangan atau justru tekanan—tergantung pada:
kebutuhan psikologis individu,
cara memaknai hidup,
serta kemampuan beradaptasi dan mengelola emosi.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
