Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 Maret 2026 | 03.34 WIB

Orang yang Tetap Tenang Saat Keadaan Darurat, Tapi Baru Panik Dua Hari Kemudian, Biasanya Menunjukkan 6 Kepribadian Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang tetap tenang saat keadaan darurat / Freepik - Image

Ilustrasi seseorang yang tetap tenang saat keadaan darurat / Freepik

JawaPos.com - Dalam situasi darurat—seperti kecelakaan, bencana alam, atau konflik mendadak—kita sering melihat orang bereaksi dengan cara yang sangat berbeda. Ada yang langsung panik, ada yang menangis, dan ada juga yang justru terlihat sangat tenang. Menariknya, sebagian orang yang tampak paling tenang saat keadaan darurat justru baru merasakan kepanikan beberapa waktu kemudian, bahkan hingga dua hari setelah kejadian.

Fenomena ini bukan hal aneh dalam dunia psikologi. Reaksi tersebut berkaitan dengan cara otak memproses ancaman dan emosi. Saat situasi darurat terjadi, otak manusia masuk ke mode bertahan hidup, sehingga emosi sering kali “ditunda” sementara waktu. Ketika keadaan sudah lebih aman, barulah perasaan sebenarnya muncul.

Menurut berbagai konsep dalam Psikologi, orang yang mengalami pola reaksi seperti ini biasanya memiliki beberapa karakteristik kepribadian tertentu. Dilansir dari Silicon Canals pada Minggu (8/3), terdapat enam kepribadian yang sering ditemukan pada orang yang tampak tenang saat krisis, tetapi baru merasakan kepanikan beberapa waktu setelahnya.


1. Memiliki Mode “Survival” yang Sangat Kuat


Beberapa orang memiliki kemampuan alami untuk mengaktifkan mode bertahan hidup ketika menghadapi bahaya. Dalam kondisi ini, otak fokus pada tindakan praktis seperti menyelamatkan diri, membantu orang lain, atau mencari solusi cepat.

Reaksi ini sering dikaitkan dengan mekanisme biologis yang dikenal sebagai Fight-or-Flight Response. Saat sistem ini aktif, tubuh memprioritaskan tindakan daripada emosi.

Akibatnya, perasaan takut atau panik seperti “ditunda”. Ketika situasi sudah berlalu dan tubuh kembali ke kondisi normal, emosi yang sempat tertahan tadi akhirnya muncul. Inilah alasan mengapa seseorang bisa terlihat sangat tenang saat kejadian, tetapi kemudian merasa cemas atau panik beberapa hari kemudian.

2. Cenderung Rasional dan Berorientasi Solusi

Orang yang tetap tenang saat keadaan darurat sering kali memiliki pola pikir yang sangat rasional. Mereka secara otomatis fokus pada pertanyaan seperti:

Apa yang harus dilakukan sekarang?

Siapa yang perlu ditolong terlebih dahulu?

Bagaimana cara keluar dari situasi ini?

Pendekatan yang sangat logis ini membuat mereka menekan reaksi emosional sementara waktu. Namun setelah masalah selesai dan mereka punya ruang untuk berpikir, emosi yang sebelumnya terabaikan mulai muncul.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan kemampuan regulasi emosi yang tinggi, tetapi juga dengan kecenderungan menunda pemrosesan emosi.

3. Memiliki Rasa Tanggung Jawab yang Besar


Orang yang merasa bertanggung jawab terhadap orang lain sering kali “menahan diri” untuk tidak panik. Mereka sadar bahwa jika mereka ikut panik, situasi bisa menjadi lebih buruk.

Misalnya:

Orang tua yang harus melindungi anaknya

Pemimpin tim dalam situasi darurat

Seseorang yang merasa harus menjadi penolong

Saat kejadian berlangsung, mereka fokus menjaga stabilitas situasi. Namun setelah semuanya selesai dan tanggung jawab berkurang, emosi yang tertahan akhirnya keluar dalam bentuk kecemasan, kelelahan emosional, atau bahkan kepanikan.

4. Terbiasa Menekan Emosi


Sebagian orang sejak kecil terbiasa menyembunyikan atau menekan emosi mereka. Mereka mungkin diajarkan untuk “tetap kuat” atau “tidak boleh menunjukkan rasa takut”.

Dalam jangka pendek, kebiasaan ini bisa membuat mereka tampak sangat tenang dalam situasi krisis. Namun emosi yang ditekan tidak benar-benar hilang.

Ketika tekanan sudah berlalu, emosi tersebut bisa muncul kembali dalam bentuk:

kepanikan

kecemasan

kelelahan mental

reaksi emosional yang tertunda

5. Memiliki Empati Tinggi


Menariknya, orang yang sangat empatik sering kali mampu tetap tenang saat krisis karena fokus mereka tertuju pada orang lain.

Alih-alih memikirkan ketakutan pribadi, mereka lebih memikirkan:

apakah semua orang aman

siapa yang butuh bantuan

bagaimana menenangkan orang lain

Namun setelah semuanya selesai dan mereka mulai memproses apa yang terjadi, empati yang tinggi bisa membuat mereka merasakan dampak emosional yang lebih kuat dibanding orang lain.

6. Mengalami “Delayed Stress Response”

Dalam psikologi trauma dikenal fenomena yang disebut Delayed Stress Response, yaitu reaksi stres yang muncul beberapa waktu setelah kejadian traumatis.

Ini adalah respons yang sangat normal. Otak membutuhkan waktu untuk memahami dan memproses apa yang sebenarnya terjadi.

Gejalanya bisa muncul beberapa jam, beberapa hari, bahkan beberapa minggu setelah kejadian, seperti:

merasa gelisah tanpa alasan jelas

sulit tidur

pikiran terus kembali ke kejadian tersebut

tiba-tiba merasa panik

Reaksi ini tidak selalu berarti seseorang lemah secara mental. Justru sering kali terjadi pada orang yang awalnya sangat kuat saat situasi krisis.

Mengapa Reaksi Emosi Bisa Datang Terlambat?

Secara biologis, tubuh manusia tidak dirancang untuk memproses semuanya sekaligus. Ketika ancaman terjadi, otak memprioritaskan keselamatan fisik terlebih dahulu. Setelah situasi aman, barulah otak mulai memproses emosi, makna, dan dampak psikologis dari kejadian tersebut.

Itulah sebabnya seseorang bisa terlihat seperti “baik-baik saja” pada hari kejadian, tetapi dua atau tiga hari kemudian mulai merasa cemas atau panik.

Kesimpulan

Jika seseorang tetap tenang saat keadaan darurat tetapi kemudian merasa panik beberapa hari setelahnya, itu bukan tanda kelemahan. Justru sering kali hal tersebut menunjukkan bahwa otaknya bekerja secara efisien dalam situasi krisis.

Berdasarkan perspektif psikologi, pola reaksi ini sering muncul pada orang yang:

Memiliki mode survival yang kuat

Berpikir rasional dan fokus pada solusi

Memiliki rasa tanggung jawab tinggi

Terbiasa menekan emosi

Memiliki empati tinggi

Mengalami respons stres yang tertunda

Pada akhirnya, setiap orang memiliki cara berbeda dalam memproses pengalaman traumatis. Yang terpenting adalah memberi diri sendiri waktu untuk memahami dan menerima emosi yang muncul setelah kejadian tersebut.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore