Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Februari 2026 | 17.51 WIB

Orang yang Tidak Merasa Perlu Memotret Makanan Mereka Menunjukkan 8 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak suka memotret makanan./Freepik/tirachardz - Image

seseorang yang tidak suka memotret makanan./Freepik/tirachardz

JawaPos.com - Di era media sosial, memotret makanan sebelum menyantapnya sudah menjadi kebiasaan umum.

Dari unggahan Instagram hingga ulasan di TikTok, makanan tak lagi sekadar untuk dinikmati, tetapi juga untuk dipamerkan.

Namun, tidak semua orang merasa terdorong melakukan hal tersebut. Ada orang-orang yang langsung menikmati hidangan tanpa merasa perlu mengabadikannya terlebih dahulu.

Menurut psikologi, kebiasaan ini—atau tepatnya ketiadaan kebiasaan ini—dapat mencerminkan sejumlah ciri kepribadian tertentu.

Tentu saja, ini bukan aturan mutlak. Kepribadian manusia kompleks dan dipengaruhi banyak faktor.

Namun, penelitian tentang perilaku sosial dan kebutuhan akan validasi menunjukkan beberapa pola menarik.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (17/2), terdapat delapan ciri kepribadian yang sering dimiliki oleh orang yang tidak merasa perlu memotret makanan mereka.

1. Lebih Fokus pada Pengalaman daripada Dokumentasi

Secara psikologis, orang yang tidak memotret makanan cenderung memiliki orientasi pengalaman (experiential orientation) yang kuat. Mereka lebih menghargai momen secara langsung dibandingkan mengabadikannya untuk dilihat kembali atau dibagikan.

Penelitian dalam psikologi positif menunjukkan bahwa keterlibatan penuh dalam suatu aktivitas meningkatkan kepuasan dan kebahagiaan. Orang-orang ini biasanya ingin merasakan aroma, tekstur, dan rasa makanan tanpa distraksi layar ponsel.

2. Tidak Bergantung pada Validasi Sosial

Media sosial sering kali menjadi arena pencarian validasi—melalui like, komentar, atau jumlah tayangan. Individu yang tidak merasa perlu mengunggah makanan mereka cenderung memiliki kebutuhan validasi eksternal yang lebih rendah.

Dalam teori kebutuhan akan afiliasi dan pengakuan sosial, sebagian orang memiliki dorongan kuat untuk berbagi sebagai cara membangun identitas sosial.

Sebaliknya, mereka yang lebih stabil secara emosional biasanya tidak terlalu terdorong untuk mencari pengakuan atas setiap aktivitas sehari-hari.

Orang dengan harga diri (self-esteem) yang sehat tidak terlalu mengandalkan citra digital untuk merasa berharga. Mereka tidak membutuhkan representasi visual kehidupan mereka untuk memperkuat identitas diri.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore