Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 Februari 2026 | 20.01 WIB

Anak-anak yang Dibesarkan Tanpa Dukungan Figur Ayah, Biasanya Menunjukkan Ciri-ciri yang Sering Muncul Saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang dibesarkan tanpa dukungan figur ayah


JawaPos.com - Dalam kajian psikologi perkembangan, figur ayah memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian, regulasi emosi, identitas diri, serta cara seseorang membangun relasi sosial. Namun, tidak semua anak tumbuh dengan kehadiran figur ayah yang utuh—baik karena perceraian, kematian, keterpisahan emosional, pekerjaan yang sangat menyita waktu, atau pola pengasuhan yang tidak terlibat.

Penting untuk dipahami bahwa tumbuh tanpa figur ayah bukanlah takdir yang menentukan masa depan seseorang secara mutlak. Banyak individu tumbuh menjadi pribadi sehat, sukses, dan stabil secara emosional. 

 
Dilansir dari Geediting pada Rabu (11/2), dari sudut pandang psikologi, ada sejumlah pola karakter dan kecenderungan psikologis yang lebih sering muncul pada individu dewasa yang sejak kecil tidak mendapatkan dukungan figur ayah secara konsisten.

Artikel ini membahas ciri-ciri tersebut secara ilmiah, reflektif, dan empatik, tanpa stigma atau penghakiman.
 
Baca Juga: Anda Tahu Seorang Pria Telah Kehilangan Kegembiraan Hidupnya Jika Ia Menunjukkan 10 Perilaku Diam-Diam Ini Menurut Psikologi

1. Kesulitan dalam Regulasi Emosi

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kehadiran figur ayah membantu anak dalam belajar mengelola emosi, terutama emosi kompleks seperti marah, kecewa, takut, dan frustasi.

Saat dewasa, ini bisa tampak sebagai:

Mudah tersinggung atau defensif

Sulit mengelola konflik secara tenang

Cenderung menekan emosi (emotional suppression)

Ledakan emosi tiba-tiba (emotional outburst)

Tanpa figur ayah yang menjadi model regulasi emosi, anak sering tidak memiliki contoh nyata bagaimana menghadapi tekanan dengan stabil.
 
Baca Juga: Perempuan yang Selalu Mengembangkan Diri Biasanya Menunjukkan 8 Ciri Ini Saat Dewasa Menurut Psikologi

2. Pola Attachment yang Tidak Aman (Insecure Attachment)


Dalam teori attachment (Bowlby & Ainsworth), hubungan awal dengan orang tua membentuk cara seseorang membangun hubungan saat dewasa.

Pola yang sering muncul:

Anxious attachment → takut ditinggalkan, butuh validasi berlebihan

Avoidant attachment → takut bergantung pada orang lain, emosional tertutup

Ini sering terlihat dalam hubungan romantis dan pertemanan:

Takut komitmen

Overthinking dalam relasi

Sulit percaya pada pasangan

Menarik diri saat hubungan menjadi dekat

3. Krisis Identitas dan Harga Diri


Figur ayah sering berperan dalam pembentukan:

rasa percaya diri

identitas gender

nilai diri (self-worth)

Tanpa validasi paternal, sebagian individu mengalami:

perasaan "tidak cukup baik"

kebutuhan pengakuan eksternal yang tinggi

perfeksionisme berlebihan

overachievement untuk mencari validasi

Harga diri sering dibangun dari pencapaian, bukan penerimaan diri.

4. Kesulitan Menetapkan Batasan (Boundaries)


Anak tanpa figur ayah yang sehat sering tidak belajar tentang batas relasi yang seimbang.

Akibatnya saat dewasa:

sulit berkata "tidak"

people pleasing

takut konflik

mudah dimanipulasi secara emosional

relasi tidak sehat (toxic relationships)

Mereka sering mengorbankan diri demi diterima.

5. Ketakutan Akan Otoritas atau Figur Maskulin


Sebagian individu mengembangkan relasi psikologis yang tidak sehat dengan figur otoritas:

Bentuknya bisa berupa:

takut pada atasan

sulit menghadapi figur dominan

reaktif terhadap kritik

kebutuhan membuktikan diri pada figur berkuasa

Ini berasal dari konflik internal yang tidak selesai dengan figur ayah.

6. Kecenderungan Mandiri Berlebihan (Hyper-independence)


Alih-alih bergantung, sebagian anak mengembangkan pola:

"Aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri"

Saat dewasa ini tampak sebagai:

sulit meminta bantuan

menolak dukungan emosional

merasa lemah jika bergantung

kelelahan mental kronis

Secara psikologis, ini adalah mekanisme pertahanan, bukan kekuatan murni.

7. Pola Relasi yang Berulang


Tanpa disadari, individu sering mengulang pola emosional masa kecil:

memilih pasangan yang tidak hadir secara emosional

relasi tidak seimbang

hubungan tidak aman

Ini disebut repetition compulsion dalam psikologi: mengulang luka lama dengan harapan (bawah sadar) menyembuhkannya.

Faktor Pelindung (Protective Factors)

Tidak semua anak tanpa figur ayah mengalami dampak negatif. Faktor yang melindungi antara lain:

Ibu atau caregiver yang stabil secara emosional

Figur pengganti ayah (kakek, paman, guru, mentor)

Lingkungan suportif

Terapi psikologis

Kesadaran diri (self-awareness)

Pendidikan emosional

Trauma bukan hanya tentang apa yang terjadi, tapi juga tentang dukungan yang ada setelahnya.

Perspektif Sehat: Tanpa Stigma

Penting untuk ditekankan:

Tidak memiliki figur ayah bukanlah kesalahan anak.

Dan:

Pola psikologis bisa diubah, disembuhkan, dan dibentuk ulang.

Otak manusia memiliki neuroplastisitas — artinya pola emosi, relasi, dan cara berpikir dapat dilatih ulang melalui:

terapi

refleksi diri

relasi sehat

kesadaran emosional

pendidikan psikologis

Penutup


Anak-anak yang tumbuh tanpa dukungan figur ayah memang memiliki tantangan psikologis tertentu yang lebih sering muncul saat dewasa. Namun, ini bukanlah label, kutukan, atau vonis hidup.

Yang menentukan masa depan bukan masa lalu semata, tetapi:

kesadaran diri

keberanian untuk menyembuhkan

lingkungan yang sehat

kemauan untuk bertumbuh

Karena dalam psikologi modern, yang paling penting bukan dari mana seseorang berasal —

tetapi bagaimana ia memilih untuk membentuk dirinya.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore