
seseorang yang tetap dekat dengan anaknya yang telah dewasa./Freepik/wichayada
JawaPos.com - Tidak semua hubungan orang tua dan anak bertahan hangat seiring bertambahnya usia.
Banyak orang tua yang merasa kehilangan kedekatan emosional ketika anak-anak mereka beranjak dewasa: komunikasi menjadi singkat, pertemuan menjadi jarang, dan hubungan terasa lebih formal daripada hangat.
Dilansir dari Geediting pada Senin (9/2), ada keluarga-keluarga yang justru semakin erat seiring waktu.
Anak-anak dewasa tetap menikmati kebersamaan dengan orang tuanya—bukan karena kewajiban, tetapi karena kenyamanan, rasa aman, dan keterikatan emosional yang tulus.
Kedekatan semacam ini tidak muncul secara kebetulan. Ia adalah hasil dari kebiasaan kecil yang konsisten, pola komunikasi yang sehat, serta sikap orang tua yang mampu beradaptasi dengan perubahan peran anak. Inilah seni menjaga kedekatan: sebuah proses jangka panjang yang dibangun dengan empati, kehadiran emosional, dan rasa saling menghargai.
1. Hadir secara emosional, bukan hanya fisik
Orang tua yang dekat dengan anak dewasa biasanya tidak hanya “ada” secara fisik, tetapi hadir secara emosional. Mereka mendengarkan tanpa menghakimi, memberi ruang untuk bercerita tanpa merasa perlu selalu mengoreksi atau menggurui. Anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri—baik dalam keberhasilan maupun kegagalan.
Kehadiran emosional ini membangun rasa percaya jangka panjang. Anak dewasa yang merasa diterima apa adanya tidak melihat orang tuanya sebagai figur yang menekan, tetapi sebagai tempat pulang secara emosional.
2. Menghormati batasan dan kemandirian anak
Salah satu kesalahan umum orang tua adalah sulit melepaskan kontrol. Padahal, anak dewasa membutuhkan ruang untuk mengambil keputusan sendiri, membuat kesalahan, dan belajar dari pengalaman hidupnya.
Orang tua yang berhasil menjaga kedekatan memahami bahwa kedekatan tidak berarti kontrol. Mereka tetap peduli, tetapi tidak mengatur hidup anaknya. Mereka memberi saran jika diminta, bukan memaksakan nasihat. Sikap ini membuat anak merasa dihargai sebagai individu dewasa, bukan “anak kecil” yang harus terus diarahkan.
3. Komunikasi yang setara, bukan hierarkis
Hubungan yang sehat berubah dari pola “atas–bawah” menjadi “sejajar”. Orang tua yang dekat dengan anak dewasa berbicara sebagai manusia dengan manusia, bukan sebagai otoritas dengan bawahan.
Diskusi menjadi dialog, bukan ceramah. Perbedaan pendapat tidak menjadi konflik, tetapi ruang bertukar perspektif. Ketika anak merasa suaranya didengar dan dihargai, hubungan menjadi lebih dewasa, lebih hangat, dan lebih tahan lama.
4. Membangun tradisi kebersamaan yang fleksibel

BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Pembagian Grup Liga 2 2026/2027 Berubah, PSIS Semarang dan Persiku Kudus Geser ke Wilayah Barat
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
PP Muhammadiyah Minta MBG Dihentikan Sementara, Sebut Mudaratnya Lebih Banyak
Momen Republik Ceko dan Afrika Selatan Harus Puas Bermain Imbang 1-1
