Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 31 Januari 2026 | 06.22 WIB

Orang yang Memprioritaskan Uang daripada Hubungan Biasanya Menunjukkan 8 Ciri Kepribadian Ini Tanpa Disadarinya Menurut Psikologi

seseorang yang memprioritaskan uang daripada hubungan./ Freepik/cookie_studio - Image

seseorang yang memprioritaskan uang daripada hubungan./ Freepik/cookie_studio

JawaPos.com - Dalam kehidupan modern, uang sering kali menjadi tolok ukur kesuksesan. Banyak orang bekerja keras demi stabilitas finansial, kenyamanan, dan status sosial.

Namun, ketika uang secara konsisten ditempatkan di atas hubungan—baik dengan pasangan, keluarga, maupun teman—psikologi melihat ini bukan sekadar pilihan hidup, melainkan cerminan pola kepribadian tertentu.

Menariknya, sebagian besar orang yang memprioritaskan uang daripada hubungan tidak sepenuhnya sadar bahwa pola ini memengaruhi cara mereka berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan orang lain.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (27/1), terdapat delapan ciri kepribadian yang sering muncul menurut perspektif psikologi.

1. Rasa Aman Bergantung pada Kontrol, Bukan Kedekatan Emosional

Bagi sebagian orang, uang memberikan rasa aman yang lebih nyata dibandingkan hubungan emosional. Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan kebutuhan akan kontrol. Uang bisa dihitung, disimpan, dan direncanakan—sementara hubungan bersifat dinamis dan tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Akibatnya, individu ini cenderung merasa lebih tenang saat saldo rekening bertambah daripada saat membangun kedekatan emosional. Mereka tidak selalu anti-hubungan, tetapi merasa hubungan terlalu “berisiko” secara emosional.

2. Cenderung Menghindari Kerentanan Emosional

Hubungan yang sehat menuntut keterbukaan, empati, dan kerentanan. Namun, orang yang memprioritaskan uang sering kali terbiasa bersikap mandiri secara ekstrem. Dalam psikologi, ini bisa berkaitan dengan avoidant attachment style.

Mereka mungkin merasa tidak nyaman membicarakan perasaan, meminta bantuan, atau bergantung pada orang lain. Fokus pada uang menjadi “tameng” untuk menghindari kemungkinan terluka secara emosional.

3. Menilai Diri Sendiri Berdasarkan Pencapaian, Bukan Koneksi

Ciri lain yang sering muncul adalah harga diri yang berbasis prestasi. Nilai diri diukur dari jabatan, penghasilan, aset, atau produktivitas—bukan dari kualitas hubungan atau peran emosional dalam kehidupan orang lain.

Secara tidak sadar, mereka merasa lebih “berharga” saat sukses secara finansial, dan merasa gagal ketika hubungan bermasalah, meskipun sudah berusaha.

4. Kesulitan Memprioritaskan Waktu untuk Orang Terdekat

Orang yang memprioritaskan uang sering kali mengatakan, “Aku melakukan ini demi masa depan kita.” Namun dalam praktiknya, pekerjaan dan target finansial terus mengambil alih waktu dan energi.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore