Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 Desember 2025 | 12.58 WIB

8 Alasan Mengapa Semakin Banyak Orang di Atas 50 Tahun Memilih Tetap Melajang dan Tidak Menyesalinya Sama Sekali Menurut Psikologi

seseorang yang tetap melajang di usia 50-an./Freepik/freepik - Image

seseorang yang tetap melajang di usia 50-an./Freepik/freepik

JawaPos.com - Di banyak budaya, pernikahan lama dianggap sebagai tujuan hidup yang “wajar” dan melajang sering dipandang sebagai kondisi sementara atau bahkan kegagalan.

Namun, pandangan ini mulai bergeser secara signifikan, terutama di kalangan mereka yang telah melewati usia 50 tahun.

Semakin banyak orang di fase hidup ini yang secara sadar memilih untuk tetap melajang—bukan karena trauma, keterpaksaan, atau ketidakmampuan menjalin relasi, melainkan karena pilihan yang matang dan penuh kesadaran.

Dari sudut pandang psikologi, keputusan ini bukanlah bentuk pelarian, tetapi justru sering kali menjadi puncak dari proses pemahaman diri yang panjang.

Di usia ini, seseorang biasanya sudah melewati berbagai fase kehidupan: cinta, kehilangan, kompromi, pengorbanan, dan refleksi mendalam.

Dilansir dari Geediting pada Senin (15/12), terdapat delapan alasan psikologis mengapa orang di atas 50 tahun semakin nyaman hidup melajang—dan sama sekali tidak menyesalinya.

1. Pemahaman Diri yang Jauh Lebih Matang

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, seseorang cenderung memiliki self-awareness yang lebih kuat.

Di atas 50 tahun, banyak individu sudah memahami dengan jelas siapa dirinya, apa kebutuhannya, dan batasan apa yang tidak lagi ingin dilanggar.

Dalam konteks ini, melajang bukan berarti kesepian, melainkan hidup selaras dengan diri sendiri.

Mereka tidak lagi merasa perlu “menyesuaikan diri secara berlebihan” demi mempertahankan hubungan.

Hidup sendiri terasa lebih jujur dan otentik dibandingkan harus terus-menerus berkompromi dengan hal-hal yang bertentangan dengan nilai pribadi.

2. Pengalaman Relasi Mengajarkan Harga Kedamaian

Banyak orang di usia ini telah melalui pernikahan, perceraian, atau hubungan jangka panjang yang kompleks.

Pengalaman tersebut, menurut psikologi, membentuk emotional learning yang kuat: mereka belajar bahwa cinta tidak selalu identik dengan ketenangan.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore