Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 September 2025 | 22.54 WIB

Dampak Trauma Masa Kecil terhadap Kepribadian di Masa Dewasa Menurut Pandangan Psikologi

 

Dampak Trauma Masa Kecil terhadap Kepribadian di Masa Dewasa Menurut Pandangan Psikologi (Freepik)


JawaPos.com - Pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana pengalaman masa kecil membentuk dirimu saat ini? Banyak psikolog sudah lama memperdebatkan hal ini, tetapi satu hal yang jelas: trauma masa kecil, baik secara emosional maupun fisik, bisa meninggalkan bekas mendalam yang memengaruhi kepribadian kita hingga dewasa. 

Pada salah satu video dari kanal youtube psikologi populer yakni Psych2go, dijelaskan bahwa, cara kita berpikir, bersikap, hingga berhubungan dengan orang lain bisa dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil, terutama jika kita pernah menghadapi tekanan, tuntutan berlebih, atau bahkan pengabaian.

Trauma ini tidak selalu terlihat jelas, tapi bisa muncul dalam berbagai bentuk. Berikut beberapa dampak nyata trauma masa kecil terhadap kepribadian yang mungkin tanpa sadar masih kamu rasakan sampai sekarang.

1. Menjadi Perfeksionis

Apakah kamu selalu ingin segala sesuatu sempurna? Bisa jadi ini berakar dari orang tua yang menuntut standar tinggi sejak kecil. Jika nilai B dianggap gagal, hobi tidak dihargai, atau setiap pekerjaan rumah selalu salah di mata mereka, kamu mungkin tumbuh dengan rasa “tidak pernah cukup baik”. Hasilnya, perfeksionisme melekat hingga dewasa dan sering membuatmu cemas serta mudah stres.

2. Mengalami Gangguan Pola Makan

Trauma emosional juga bisa memengaruhi hubungan kita dengan makanan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anoreksia, binge eating, atau emotional eating sering berkaitan dengan masa kecil yang penuh tekanan. Bagi sebagian orang, makan menjadi cara pelarian atau satu-satunya hal yang bisa dikendalikan ketika hidup terasa kacau.

3. Bersikap Kekanak-kanakan

Trauma bisa membuat seseorang “terjebak” dalam fase kanak-kanak. Misalnya, sulit mengambil keputusan dewasa, mudah panik dengan tanggung jawab, atau kembali melakukan perilaku kekanak-kanakan seperti mencari penghiburan lewat benda-benda masa kecil. Fenomena ini disebut age regression, yang merupakan mekanisme pertahanan diri ketika menghadapi stres.

4. Memiliki Attachment Tidak Aman

Teori attachment menjelaskan bahwa cara orang tua memperlakukan kita membentuk pola hubungan di masa depan. Anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang biasanya tumbuh dengan secure attachment atau rasa aman dalam hubungan. Sebaliknya, pengabaian atau pola asuh yang tidak konsisten bisa menimbulkan tiga bentuk insecure attachment:

  1. Anxious (cemas): merasa tidak layak dicintai, takut ditinggalkan, dan terus mencari validasi.

  • Avoidant (menghindar): cenderung menutup diri, merasa tidak butuh orang lain, dan sulit dekat dengan orang lain.

  • Editor: Setyo Adi Nugroho
    Tags
    Jawa Pos
    JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
    Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore