
Perilaku Orang yang Merasa kurang dan Tidak Puas dengan Hidupnya, Menurut Psikologi
JawaPos.com – Pernahkah Anda merasa sudah berusaha keras, tetapi tetap muncul pikiran “saya belum cukup baik”? Fenomena ini kerap dialami oleh banyak orang di berbagai usia dan latar belakang. Rasa tidak pernah cukup (never enough) bukan hanya sekadar perasaan, melainkan refleksi dari pola pikir dan pengalaman psikologis yang mendalam.
Apa itu perasaan “belum cukup”?
Menurut Psychology Today (2025), rasa tidak pernah cukup adalah kondisi psikologis ketika seseorang merasa gagal memenuhi standar, baik yang datang dari diri sendiri maupun lingkungan. Meski telah meraih pencapaian, individu masih merasa kurang atau tidak pantas mendapat penghargaan.
Sementara itu, laman PsychCentral menambahkan bahwa perasaan ini sering muncul akibat perbandingan sosial berlebihan, trauma masa lalu, atau ekspektasi yang tidak realistis.
Siapa yang rentan mengalaminya?
Psikolog menyebut, individu dengan pola asuh yang terlalu menuntut, minim validasi emosional, atau sering dibandingkan dengan orang lain sejak kecil lebih rentan merasakan hal ini. Harley Therapy menjelaskan, anak yang tumbuh dalam lingkungan kompetitif biasanya membawa pola pikir “tidak cukup” hingga dewasa, meski sudah sukses secara akademik maupun karier.
Mengapa kita merasa belum cukup?
Ada beberapa faktor yang memengaruhi munculnya perasaan ini:
Perbandingan Sosial
Media sosial membuat orang mudah membandingkan hidupnya dengan pencapaian orang lain. Akibatnya, standar diri terasa selalu lebih rendah.
Perfeksionisme
Menurut Therapy in a Nutshell, orang dengan kecenderungan perfeksionis sering merasa gagal, meski sebenarnya mereka sudah memenuhi standar normal.
Kurangnya Self-Compassion
Tanpa kemampuan menerima diri apa adanya, seseorang sulit menghargai proses dan cenderung terus merasa kurang.
Budaya “More is Better”
Penelitian di Positive Psychology menunjukkan, budaya modern yang menekankan produktivitas dan pencapaian tanpa henti memicu perasaan tidak pernah cukup.
Apa dampaknya?
Rasa tidak pernah cukup tidak hanya mengganggu emosi, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental. Individu bisa mengalami stres kronis, kecemasan, hingga depresi. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat seseorang kehilangan motivasi, sulit menikmati pencapaian, bahkan merasa terjebak dalam lingkaran kelelahan emosional (emotional exhaustion).
Bagaimana cara mengatasinya?

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
