Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Agustus 2025 | 08.07 WIB

Benarkah Golongan Darah Bisa Menentukan Kepribadian? Ini Fakta Unik yang Jarang Dibahas!

Ilustrasi dua orang yang sedang berpose konyol (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi dua orang yang sedang berpose konyol (Dok. Freepik)

JawaPos.com – Kamu mungkin sering mendengar stereotip bahwa orang dengan golongan darah A itu perfeksionis, sementara golongan darah O cenderung percaya diri dan supel.

Tapi, benarkah golongan darah bisa menentukan kepribadian seseorang?

Asal-usul Teori Golongan Darah dan Kepribadian

Menurut situs Verywell Mind, teori yang menghubungkan golongan darah dengan kepribadian (disebut Ketsuekigata) berasal dari Jepang pada tahun 1930-an saat Profesor Takeji Furukawa menulis tentang hubungan antara temperamen dan golongan darah dalam jurnal psikologi sosial.

Namun, metode penelitiannya sangat lemah karena hanya berbasis kuesioner dan tanpa bukti empiris yang kuat.

Meskipun begitu, ide ini meluas dan semakin populer di Jepang pada tahun 1970-an, terutama setelah jurnalis Masahiko Nomi menerbitkan buku yang memperkuat konsep blood type.

Mitos atau Sains?

Menurut NHS Blood Donation, di Jepang dan Korea Selatan, pertanyaan "Apa golongan darahmu?" bukan sekadar basa-basi, melainkan bagian dari cara orang menilai satu sama lain.

Bahkan, golongan darah sering dicantumkan dalam anime, manga, aplikasi kencan, dan lamaran pekerjaan seolah-olah itu adalah bagian dari karakter seseorang.

Namun, para ilmuwan dan komunitas medis global menepis teori ini dan menganggapnya sebagai pseudoscience atau kepercayaan tanpa dasar ilmiah.

Studi modern, termasuk yang menggunakan model lima dimensi kepribadian (Big-Five), tidak menemukan korelasi signifikan antara golongan darah dan karakter manusia.

Meskipun beberapa studi menemukan korelasi lemah antara golongan darah dengan sifat ketekunan, temuan ini belum cukup kuat untuk menjadi landasan teori yang lebih luas.

Mengapa Teori Ini Tetap Bertahan?

Lantas, mengapa teori ini masih populer meskipun sudah disanggah oleh sains? Menurut situs The Australian, ada beberapa alasan:

  1. Adanya efek psikologis personalisasi seperti astrologi. Teori ini memberi perasaan 'aku dimengerti' dan 'ada tempatku'.
  2. Mudah dikonsumsi di media sosial karena format ringkas, stereotip ringan, dan mudah diingat membuatnya viral. Bahkan beberapa influencer menjadikannya bahan konten gaya hidup dan kesehatan.
  3. Dampak budaya dan diskriminasi. Contohnya di Jepang ada fenomena bura-hara atau blood harassment di mana individu diperlakukan berbeda karena golongan darahnya, misalnya dalam perekrutan kerja atau hubungan personal.

Fakta Unik yang Jarang Dibahas

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore