Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 25 Agustus 2025 | 05.41 WIB

3 Contoh Perilaku Self Sabotage yang Biasanya Terjadi pada Seseorang yang Cenderung Tampak Mengurung Diri

Ilustrasi contoh perilaku self sabotage yang biasanya terjadi pada seseorang/freepik.com

JawaPos.com - Para ahli di bidang kesehatan mental telah mengamati bahwa banyak orang secara tidak sadar terjebak dalam perilaku sabotase diri. Pola ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, dan sering kali menjadi penghalang terbesar untuk mencapai tujuan hidup atau meraih kebahagiaan.

Beberapa contoh yang paling umum meliputi menunda-nunda, meremehkan diri sendiri, takut mengambil keputusan penting, atau bahkan menarik diri ketima sedang berada di ambang kesuksesan. Semua perilaku ini seringkali berakar terhadap ketakutan, rasa tidak percaya diri, atau trauma masa lalu yang belum disadari sepenuhnya.

Dengan memahami pola-pola sabotase ini, kita dapat mulai mengenali sinyal-sinyalnya dalam diri sendiri dan mengambil langkah guna mengatasinya. Mengutip Very Well Mind, berikut ini beberapa contoh perilaku self sabotage yang biasanya terjadi pada seseorang yang cenderung tampak mengurung diri.

1. Penundaan

Salah satu bentuk sabotase diri yang paling umum adalah kebiasaan menunda-nunda. Meski tampak sepele, perilaku ini sebenarnya bisa menjadi sinyal bahwa seseorang sedang berjuang dengan rasa takut takut gagal, takut mengecewakan orang lain, bahkan takut berhasil. Dengan menunda pekerjaan atau keputusan penting, seseorang secara tidak langsung mengirimkan pesan bahwa dirinya belum siap.

Akibatnya, peluang baik pun ikut tertunda atau bahkan terlewat begitu saja. Menunda-nunda umumnya digunakan sebagai bentuk perlindungan diri dari tekanan atau ekspektasi, padahal justru memperkuat keyakinan negatif yang sudah ada. Apabila dibiarkan, kebiasaan ini mampu menjadi penghambat besar dalam perjalanan menuju kesuksesan pribadi maupun profesional.

2. Perfeksionisme

Menetapkan standar tinggi memang bisa memotivasi, tetapi apabila ekspektasi itu tidak realistis atau terlalu sempurna, justru bisa menjadi bumerang. Banyak orang tidak menyadari bahwa perfeksionisme sering menjadi penyebab utama penundaan, stres, bahkan kemunduran dalam hidup maupun karier.

Sekilas, perfeksionisme tampak seperti strategi untuk memastikan segala sesuatu berjalan mulus tanpa kesalahan. Namun kenyataannya, ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan yang pasti akan terjadi dalam hidup para perfeksionis cenderung merasa hancur.

Mereka dipenuhi rasa malu, merasa gagal, dan sangat mudah terjebak dalam perasaan kecewa yang mendalam. Dalam jangka panjang, tekanan dari standar yang mustahil ini dapat meningkatkan risiko depresi dan membuat seseorang merasa seolah telah mengecewakan semua orang di sekitarnya.

3. Pemakaian obat terlarang bahkan melukai diri sendiri

Banyak orang yang terjebak pertarungan batin antara keinginan kuat meraih sukses dan suara negatif di dalam kepala mereka yang terus berkata, "Aku tidak bisa." Konflik internal ini sering menciptakan tekanan emosional yang luar biasa. Sayangnya, guna meredakan rasa sakit dan kecemasan tersebut, beberapa dari mereka mencari pelarian lewat narkoba, alkohol, atau bahkan melukai diri sendiri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore