Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 Juli 2025 | 16.10 WIB

Jangan Salah Arti! Ini Perbedaan Cinta Diri Sejati dan Narsisme Menurut Ahli Psikologi

Ilustrasi cinta diri sejati dan narsisme (Freepik) - Image

Ilustrasi cinta diri sejati dan narsisme (Freepik)

JawaPos.com - Cinta diri kini menjadi topik populer dalam kehidupan modern.

Banyak kampanye di media sosial yang mendorong Anda untuk mencintai diri sendiri, menerima kekurangan, dan memprioritaskan kebahagiaan pribadi.

Namun, apakah semua bentuk cinta diri itu sehat?

Tanpa disadari, sebagian orang justru terjebak dalam bentuk cinta diri yang semu.

Alih-alih tumbuh secara emosional, mereka larut dalam sikap egois yang dibungkus dengan istilah self-love.

Dalam psikologi, perbedaan antara cinta diri sejati dan narsisme sangat jelas, meski di permukaan tampak serupa.

Artikel ini akan membantu Anda memahami garis batas yang sehat antara mencintai diri dan mencintai diri secara berlebihan.

Berdasarkan wawasan dari psikologi dan filsafat, Anda akan menemukan panduan bagaimana merawat, menerima, dan memahami diri tanpa terjebak dalam perangkap narsistik yang dilansir dari UNIVERSITY OF WOLLONGONG AUSTRALIA pada Senin (21/07).

1. Perawatan Diri Bukan Pemanjaan Diri
Salah satu fondasi cinta diri yang sehat adalah kemampuan merawat diri secara sadar.

Merawat diri bukan berarti memanjakan diri setiap saat, melainkan memahami kebutuhan fisik dan emosional Anda dengan bijak.

Hal ini termasuk menjaga pola makan, tidur yang cukup, serta menjaga jarak dari hubungan yang merugikan.

Bentuk perawatan diri juga mencakup disiplin menjalani hal-hal yang sulit namun bermanfaat, seperti menyelesaikan tanggung jawab, mengelola stres, dan menata waktu.

Dalam cinta diri sejati, Anda tetap menghadapi kenyataan hidup dan tidak terus-menerus mencari kenyamanan instan.

Sebaliknya, narsisme sering kali mengarah pada perilaku impulsif demi kesenangan pribadi. Pemanjaan diri tanpa batas bisa menjadi bentuk pelarian dari ketidaksanggupan menghadapi diri sendiri secara utuh. Inilah salah satu perbedaan mendasar antara cinta diri dan sikap egois.

2. Penerimaan Diri Tanpa Menutup Diri dari Perubahan
Menerima diri adalah langkah penting dalam cinta diri.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore