Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 Juli 2025 | 00.20 WIB

7 Tanda Kecil Kamu Pernah Tinggal di Rumah yang Kacau dan Bagaimana Itu Masih Membentuk Kepribadianmu Hari Ini

7 Tanda Kecil Kamu Pernah Tinggal di Rumah yang Kacau dan Bagaimana Itu Masih Membentuk Kepribadianmu Hari Ini./Pexels. - Image

7 Tanda Kecil Kamu Pernah Tinggal di Rumah yang Kacau dan Bagaimana Itu Masih Membentuk Kepribadianmu Hari Ini./Pexels.

JawaPos.com - Kebiasaan lama tidak benar-benar lenyap—mereka berbisik. Dalam permintaan maaf yang berlebihan. Dalam bekerja tanpa henti. Dalam cara bertahan hidup yang diberi label “kuat”.

Semua dimulai sejak dini, jauh sebelum bisa mengeja kata “rumah”. Saat suara teriakan memecah dinding atau keheningan tiba-tiba menekan napas, sistem saraf belajar mencatatnya.

Pakar trauma Bessel van der Kolk pernah bilang, “Trauma adalah jejak yang tertinggal pada pikiran, otak, dan tubuh.”

Dan jejak itu sering muncul puluhan tahun kemudian di ruang rapat, pernikahan, bahkan di pesta makan malam yang damai.

Dilansir dari VegOut, berikut tujuh tanda yang sering terlihat pada orang dewasa yang tumbuh di tengah kekacauan semacam itu.

Jika beberapa terasa familier, tarik napas dalam. Kamu tidak sendiri dan setiap pola masih bisa diubah.

1. Memindai Ruangan Seperti Satpam

Apakah kamu menangkap desahan kecil dari rekan kerja sebelum orang lain?

Radar ancaman ini dulunya menjaga keselamatan dan sekarang hanya melelahkan. Banyak orang masih memantau pintu keluar restoran “untuk jaga-jaga”, padahal bahaya terbesar cuma memilih antara pizza atau pasta.

Kenapa penting: Hipervigilans kronis bikin kortisol melonjak, memicu insomnia dan gangguan memori. Waspada itu cerdas, tapi kalau 24 jam sehari, itu mahal.

Perbaiki pelan-pelan: Begitu sampai di tempat baru, temukan satu detail yang menenangkan. Entah sinar lampu hangat, wajah ramah, atau obrolan ringan. Fokus ke hal itu agar otak keluar dari mode siaga.

2. Kerja Terus Sampai Lupa Diri

Banyak yang bangga jadi “penyelamat segalanya”. Tagihan, ulang tahun, pipa bocor—beres! Di balik kompetensi ini, sering tersembunyi anak kecil yang dulu diajari bahwa bencana rumah adalah tanggung jawabnya.

Psikiater anak Bruce D. Perry bilang, “Hubungan adalah agen perubahan, dan terapi paling ampuh adalah cinta manusia.”

Sayangnya, orang yang terlalu sanggup mengerjakan segalanya justru sering menjauhkan orang lain dengan menolak bantuan.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore