Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 Juli 2025 | 22.18 WIB

Kalimat-kalimat Sepele yang Ternyata Bisa Menyakiti Hati, Ini 8 Frasa yang Harus Diwaspadai

Ilustrasi orang yang sedang berbincang. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang yang sedang berbincang. (Freepik)

JawaPos.Com - Sering kali kita mengira bahwa menyakiti hati seseorang hanya bisa dilakukan lewat teriakan, kata-kata kasar, atau perdebatan yang memanas. 

Namun tanpa disadari, ada frasa-frasa yang terdengar ringan, bahkan diucapkan dengan nada tenang, tetapi menyisakan luka dalam bagi pendengarnya. 

Kalimat-kalimat ini kerap disebut sebagai bentuk mikroagresi atau kekerasan verbal halus dan yang lebih mengkhawatirkan, banyak di antaranya dianggap “normal” dalam percakapan sehari-hari. 

Padahal, di balik kata-kata sederhana itu, ada perasaan yang terluka, harga diri yang terkikis, bahkan rasa aman yang perlahan menghilang.

Dilansir dari Geediting, inilah delapan frasa yang tampak sepele tapi sebenarnya bisa menyakiti hati, terutama bila diucapkan tanpa empati dan kesadaran.

1. “Saya hanya jujur” 

Mengungkapkan kebenaran memang penting, tapi kejujuran bukan berarti bebas melukai hati orang lain. 

 
Ketika seseorang berkata, “Saya hanya jujur,” setelah menyampaikan komentar yang menyakitkan, kalimat itu sering kali menjadi tameng untuk melegitimasi ketidaksensitifan. 
 
Kejujuran sejati seharusnya disampaikan dengan niat baik, penuh pertimbangan, dan empati. Bukan sebagai alasan untuk menyudutkan atau mempermalukan.

2. “Itu bukan masalah besar”

Mungkin maksudnya untuk menenangkan, tapi kalimat ini sering kali justru menyingkirkan emosi dan pengalaman seseorang. 

Saat seseorang sedang terluka atau menghadapi kesulitan, mendengar bahwa masalahnya dianggap remeh bisa membuatnya merasa sendirian dan tak dipahami. 

Padahal, yang dibutuhkan bukanlah solusi instan, melainkan rasa dihargai dan didengarkan.

3. “Kamu terlalu sensitif”

Frasa ini sering kali digunakan untuk meminimalkan reaksi seseorang terhadap sesuatu yang menyakitkan. 

Alih-alih mencoba memahami apa yang dirasakan lawan bicara, pelontar frasa ini justru menuduh orang lain terlalu lemah atau berlebihan. 

Hasilnya? Korban merasa bersalah atas emosinya sendiri dan enggan mengungkapkan perasaan lagi di masa depan. 

Ini bisa sangat merusak dalam hubungan personal maupun profesional.

4. “Saya tidak melihat warna” 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore