Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Juni 2025 | 21.00 WIB

Sering Kewalahan Saat Berkomunikasi dengan Rekan Kerja yang Sok Tahu? Begini Cara Elegan Menghadapinya!

Seorang karyawan terlihat tidak nyaman saat rapat karena koleganya terus menyela pembicaraan. (Dok. Canva) - Image

Seorang karyawan terlihat tidak nyaman saat rapat karena koleganya terus menyela pembicaraan. (Dok. Canva)

JawaPos.com – Di setiap tempat kerja, pasti ada satu sosok yang merasa paling pintar, paling tahu segalanya, dan paling layak didengarkan.

Mereka sering memonopoli percakapan, menyela pendapat orang lain, dan dengan penuh keyakinan menyampaikan pendapat yang kadang tidak relevan, atau bahkan salah. Dalam dunia kerja, mereka dikenal sebagai si paling tahu segalanya alias the know-it-all.

Menurut laporan dari Harvard Business Review yang ditulis Amy Gallo dan dikutip dari laman ideas.ted.com, tipe rekan kerja seperti ini tidak hanya membuat suasana kerja jadi tidak nyaman, tapi juga bisa menghambat produktivitas tim secara keseluruhan.

Ciri-Ciri Si Paling “Tahu Segalanya”

Sebelum mulai bertindak, kenali dulu tanda-tanda klasik dari rekan kerja yang termasuk dalam kategori ini:

  • Sering memotong pembicaraan dan enggan mendengarkan orang lain.
  • Menjelaskan hal-hal yang sudah diketahui orang lain (sering disebut mansplaining).
  • Enggan menerima kritik atau masukan.
  • Tidak pernah bertanya dan tampak tidak punya rasa ingin tahu.
  • Kerap mengklaim kesuksesan tim sebagai hasil kerjanya sendiri.

Menurut Gallo, perilaku ini bisa muncul karena budaya kerja yang justru memberi penghargaan pada mereka yang terlihat percaya diri dan seolah tahu segalanya. Dalam banyak organisasi, ketegasan kadang dianggap lebih penting daripada kolaborasi.

Lalu, Bagaimana Cara Menghadapinya?

Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan agar interaksi dengan si tahu segalanya tidak membuat frustrasi, bahkan bisa berubah menjadi hubungan kerja yang lebih sehat.

1. Pahami Motivasi di Balik Perilaku Mereka

Bisa jadi sikap sok tahu mereka adalah bentuk kompensasi dari rasa tidak aman. Dengan memahami kemungkinan alasan di balik sikap tersebut, kita bisa lebih bijak dalam merespons. Mungkin mereka hanya ingin dianggap penting dan butuh validasi. Memberi pengakuan atas kontribusi mereka saat ini bisa membantu mengurangi kebiasaan mereka untuk terus membicarakan masa lalu.

2. Hargai Hal Positif yang Mereka Miliki

Terkadang, ada pengetahuan atau pengalaman yang memang layak dihargai di balik gaya bicara yang menyebalkan. Menunjukkan penghargaan secara tulus bisa meredam kebutuhan mereka untuk terus menunjukkan superioritas.

3. Cegah Interupsi Sejak Awal

Sampaikan dengan sopan sebelum berbicara bahwa Anda butuh waktu untuk menyelesaikan pendapat tanpa disela. Misalnya, “Saya akan jelaskan dalam waktu dua menit, setelah itu kita bisa diskusi bersama.”

4. Tanggapi Interupsi dengan Tegas Tapi Tenang

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore