Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Juni 2025 | 18.22 WIB

7 Ciri Orang yang Pernah Ditelantarkan Saat Kecil, Menurut Psikologi, Apakah Kamu Salah Satunya?

Ilustrasi orang yang pernah ditelantarkan. (freepik).

JawaPos.com-Bayangkan masa kecil di mana tidak ada pelukan hangat saat kamu menangis, tidak ada yang bertanya bagaimana harimu, atau siapa pun yang hadir secara konsisten untukmu. 
 
Kamu merasa tidak terlihat, tidak dianggap, dan akhirnya... merasa tidak penting.

Jika ini terdengar familiar, kamu tidak sendiri. Banyak orang yang secara emosional pernah ditelantarkan saat kecil tidak menyadarinya hingga dewasa. Luka itu tidak selalu meninggalkan memar yang terlihat, tetapi dampaknya bisa meresap ke dalam keyakinan diri, hubungan, dan bahkan arah hidup seseorang.

Artikel ini akan membahas 7 ciri umum orang dewasa yang pernah mengalami penelantaran saat kecil, berdasarkan temuan psikologis. 
 
Lebih dari itu, kita juga akan membahas langkah-langkah praktis untuk mulai menyembuhkan diri—karena meskipun masa lalu kita membentuk kita, ia tidak harus mendikte masa depan.

Dilansir JawaPos.com dari laman Blog Herald pada Selasa, 10 Juni 2025. Mari kita telusuri satu per satu.

1. Merasa Tidak Layak dan Rendah Diri

Salah satu ciri paling umum dari seseorang yang pernah ditelantarkan adalah harga diri yang rendah. Ketika masa kecilmu diisi dengan keheningan emosional dan ketiadaan validasi, kamu bisa tumbuh dengan keyakinan bawah sadar: "Saya tidak layak dicintai." atau "Saya tidak sepenting orang lain."

Ini bisa terlihat dalam bentuk:

Menolak pujian karena merasa tidak pantas

Takut mengambil peluang karena yakin akan gagal

Selalu menyalahkan diri saat sesuatu berjalan salah
 
Baca Juga: 7 Shio Pembawa Keberuntungan Finansial di Awal Tahun 2025: Rahasia Sukses dan Cara Memanfaatkan Peluang Agar Rezeki Mengalir Deras

Solusi sederhana: mulai berlatih afirmasi diri. Tulis kalimat-kalimat seperti:

"Saya cukup, meskipun saya tidak sempurna."

"Saya pantas mendapatkan cinta dan perhatian."

Lakukan setiap hari selama 30 hari. Awalnya mungkin terasa palsu. Tapi seiring waktu, otakmu akan mulai memprosesnya sebagai kebenaran baru.

2. Ketakutan Akan Penolakan dan Ditinggalkan

Orang yang pernah mengalami pengabaian cenderung memiliki ketakutan berlebihan terhadap penolakan. Bahkan dalam hubungan sehat sekalipun, mereka bisa merasa cemas secara tidak rasional bahwa orang lain akan pergi atau menjauh.

Contoh perilaku:

Menganalisis pesan yang dibalas lama

Panik jika pasangan terlihat dingin

Menghindari keterikatan agar tidak sakit hati

Untuk mengatasi ini, uji kerentananmu secara perlahan. Misalnya:

Bagikan cerita kecil tentang kekhawatiranmu ke teman terpercaya

Lihat respons mereka: apakah mendukung atau menghakimi?

Jika mendukung, catat itu sebagai bukti bahwa tidak semua orang akan meninggalkanmu. Kumpulan bukti-bukti kecil ini akan membangun keyakinan baru: aku bisa aman bersama orang lain.

3. Sulit Mempercayai Orang Lain

Ketika orang yang seharusnya melindungi dan mencintaimu justru absen atau menyakitimu, maka kepercayaan jadi barang langka. Kamu tumbuh dengan pola pikir: semua orang akan mengecewakanku pada akhirnya.

Wujudnya bisa berupa:

Suka menyimpan rahasia karena takut dibocorkan

Curiga berlebihan terhadap orang baru

Selalu merasa harus "siaga 1" dalam hubungan

Untuk mengatasinya, cobalah metode tujuan kepercayaan kecil:

Biarkan orang lain memilih tempat makan siang

Minta bantuan kecil dan amati apakah mereka menepatinya

Seiring waktu, tindakan-tindakan kecil ini membantu me-reprogram keyakinan bawah sadar bahwa tidak semua orang akan mengecewakanmu.

4. Menyenangkan Orang Lain Berlebihan atau Mengisolasi Diri

Pengabaian bisa menciptakan dua respons ekstrem:

Kamu mencoba terus-menerus menyenangkan orang lain agar diterima

Atau kamu menarik diri sepenuhnya agar tidak pernah disakiti lagi

Kedua pola ini tidak sehat. Keduanya berasal dari luka lama yang berkata: "Cinta harus diperjuangkan atau tidak akan datang sama sekali."
 
Baca Juga: Daftar Weton yang Rezekinya Lancar Menurut Primbon Jawa: Neptu Tinggi, Hoki Tinggi

Jika kamu termasuk people pleaser:

Mulailah mengatakan "tidak" pada hal kecil yang membuatmu kewalahan

Jika kamu cenderung mengisolasi diri:

Katakan "ya" pada undangan kopi singkat, walau rasanya canggung

Catat bagaimana perasaanmu setelahnya. Kamu akan mulai menyadari bahwa koneksi tidak selalu menyakitkan, dan penolakan tidak selalu datang.

5. Tidak Peka Terhadap Kebutuhan Sendiri

Anak-anak yang ditelantarkan sering tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak terbiasa mengakui kebutuhan mereka sendiri. Mereka sering berkata:

"Saya baik-baik saja kok" saat sebenarnya kelelahan

"Saya nggak apa-apa" padahal ingin dipeluk atau ditemani

Solusinya sederhana tapi ampuh: jadwalkan check-in harian.

Contoh:

Setel alarm dua kali sehari. Saat berbunyi, tanyakan pada diri sendiri:

Apa yang sedang saya rasakan?

Apa yang saya butuhkan sekarang?

Mungkin jawabannya hanya: "Saya butuh duduk 5 menit tanpa gangguan."

Setiap kali kamu memenuhi kebutuhan kecilmu, kamu sedang membangun kembali hubungan yang rusak dengan diri sendiri.

6. Emosi Tertahan atau Terpendam

Anak yang emosinya diabaikan sering tumbuh menjadi orang dewasa yang memendam perasaan.

Mereka mungkin:

Sulit menangis, bahkan saat sedih

Tidak tahu bagaimana cara marah tanpa merasa bersalah

Terlihat kuat di luar, tetapi penuh badai di dalam
 
Baca Juga: 8 Weton Wanita yang Membawa Rezeki dan Kebahagiaan bagi Suami, Menurut Primbon Jawa

Teknik penyembuhan yang bisa dicoba:

Beri nama emosimu saat itu juga: "Saya marah", "Saya kecewa"

Tulis jurnal selama 5 menit tanpa sensor

Gunakan teknik grounding: tarik napas 4 detik, tahan 7 detik, hembuskan 8 detik

Mengakui perasaanmu bukan berarti kamu lemah. Itu artinya kamu hadir untuk dirimu sendiri—hal yang dulu mungkin tidak pernah kamu terima.

7. Waspada Berlebihan Terhadap Segalanya

Terakhir, banyak korban pengabaian masa kecil memiliki sistem saraf yang selalu siaga. Mereka membaca nada bicara, ekspresi wajah, dan jeda pesan dengan intensitas yang luar biasa—karena mereka pernah belajar bahwa ancaman bisa datang kapan saja.

Sayangnya, kewaspadaan ini melelahkan secara emosional.

Cara untuk menenangkan sistem saraf:

Latihan pernapasan 4-7-8 secara rutin

Lakukan "pemindaian lingkungan" (5 hal yang bisa dilihat, 4 yang bisa disentuh, dst.)

Dengarkan suara alam atau musik yang menenangkan sebelum tidur

Semakin sering kamu mengingatkan tubuh bahwa kamu aman, semakin kecil kebutuhan untuk "menjaga diri" sepanjang waktu.

Jadi, Apa Selanjutnya?

Jika kamu merasa satu atau lebih dari ciri di atas sesuai denganmu, jangan panik. Ini bukan diagnosis, melainkan panggilan untuk memahami dirimu lebih dalam.

Penting untuk diingat:

Kamu bukan rusak, kamu hanya belajar bertahan

Kamu tidak sendirian, banyak orang mengalami hal serupa

Kamu bisa berubah, meski perlahan

Langkah-langkah awal penyembuhan:

Akui perasaanmu — kamu tidak mengada-ada

Carilah terapis atau support group

Mulai dari perubahan kecil seperti afirmasi atau check-in emosi

Penyembuhan bukan tujuan akhir, melainkan proses. Dan setiap langkah yang kamu ambil hari ini—kecil sekalipun—sudah merupakan bentuk keberanian.

Penelantaran masa kecil bukan akhir cerita. Ia hanya bab awal yang bisa kamu pilih untuk tidak ulangi. Dengan kesadaran, dukungan, dan tindakan kecil yang konsisten, kamu bisa menciptakan narasi hidup yang lebih penuh kasih, lebih sadar, dan lebih utuh.

Ingat: kamu pantas bahagia. Kamu pantas didengar. Dan yang terpenting, kamu pantas mencintai dan dicintai—tanpa harus berjuang keras untuk membuktikannya.

Teruslah maju. Dunia membutuhkan kehadiranmu yang utuh.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore