Ilustrasi mengantuk di siang hari (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Setelah pagi yang padat dan penuh aktivitas, sore hari datang dan satu-satunya hal yang ada di pikiran kita adalah berbaring di bawah meja dan memejamkan mata sejenak. Walau sudah mencoba mengusir kantuk dengan kopi atau berjalan sebentar keluar rumah, rasa lelah itu tetap saja datang.
Namun, mari kita luruskan satu hal, ini bukan sekadar soal kelelahan biasa. Ada lebih dari itu. Bisa jadi tubuh kamu sedang mencoba mengirimkan sinyal penting, tapi pikiran kamu terlalu sibuk untuk menangkapnya.
Dilansir dari laman DMNews pada (Rabu 30/04), mari kita bahas delapan alasan psikologis yang mungkin menjadi penyebab kenapa kamu terus merasa ingin tidur siang. Ini bukan semata-mata karena kamu pemalas atau bosan. Faktanya, rasa kantuk mungkin punya alasan yang jauh lebih dalam dan masuk akal dari sisi ilmiah dan emosional.
1. Ritme Sirkadian kamu Sedang Tidak Selaras
Pernah bertanya-tanya kenapa rasa kantuk di sore hari terasa begitu berat? Itu berkaitan dengan ritme sirkadian kamu, jam biologis tubuh yang mengatur waktu tidur dan bangun dalam siklus sekitar 24 jam. Tubuh manusia dirancang untuk mengalami penurunan energi dua kali sehari tengah malam dan sore hari, biasanya sekitar pukul 2 hingga 3.
Ini bukan soal kurang tidur malam sebelumnya atau makan siang terlalu berat, ini adalah bagian dari pola alami tubuh kamu. Jadi, ketika rasa kantuk datang di sore hari, itu bukan karena kamu malas. Itu tubuh kamu yang sedang mengikuti irama alaminya. Sayangnya, gaya hidup modern sering membuat kita mengabaikan sinyal ini.
2. Efek Inersia Tidur Masih Tertinggal
Jika kamu sering merasa lesu dan tidak fokus setelah bangun tidur, bisa jadi kamu mengalami yang disebut sleep inertia atau inersia tidur. Ini adalah kondisi di mana tubuh dan otak masih setengah tertidur setelah terbangun, biasanya karena bangun terlalu tiba-tiba atau kurang tidur.
Rasa kantuk yang muncul kembali di sore hari bisa jadi merupakan efek lanjutan dari pagi yang dimulai dengan salah langkah. Tubuh kamu masih mencoba menyesuaikan diri dengan hari yang dimulai dalam kondisi belum sepenuhnya siap.
3. Tubuh Kamu Adalah Mesin Hebat yang Butuh Perawatan
Thomas Edison, salah satu penemu paling produktif, dikenal suka tidur siang singkat untuk menyegarkan pikirannya. Ia percaya tubuh adalah mesin luar biasa yang memerlukan istirahat agar bisa terus bekerja optimal.
Seperti mesin yang bisa kepanasan jika dipaksa terus bekerja, tubuh juga butuh waktu untuk mendinginkan diri. Keinginan untuk tidur siang bisa jadi merupakan tanda bahwa tubuh kamu sedang meminta waktu untuk mengisi ulang tenaga.
4. Tidur Siang Adalah Bagian dari Warisan Evolusi Kita
Tidur malam delapan jam penuh sebenarnya adalah konsep modern. Banyak budaya tradisional menerapkan pola tidur bifasik, yaitu tidur dua kali sehari di malam dan siang. Di Spanyol, misalnya, tidur siang atau siesta adalah tradisi lama yang membantu orang beristirahat di tengah hari sebelum kembali beraktivitas.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
