
Ilustrasi seorang pekerja milenial (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Berbicara tentang etos kerja, terkadang muncul anggapan bahwa generasi milenial punya pendekatan yang sedikit berbeda dalam menjalani hari-hari di kantor. Mereka mungkin tidak selalu menunjukkan rasa terburu-buru atau keinginan untuk terus menerus bekerja tanpa henti seperti generasi sebelumnya.
Fenomena ini seringkali bukan karena malas, tetapi dipengaruhi berbagai faktor mendasar dalam cara pandang mereka terhadap pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Melansir dari YourTango.com, Rabu (23/4), ada beberapa alasan kuat di balik kecenderungan mereka untuk tidak selalu merasa harus bekerja penuh waktu dengan tekanan tinggi.
1. Pengalaman dengan Bos yang Terlalu Mengatur
Satu di antara alasan penting adalah adanya pengalaman buruk dengan atasan yang cenderung melakukan mikromanajemen ketat. Gaya kepemimpinan seperti ini bisa sangat mematikan kreativitas, motivasi, dan bahkan produktivitas alami para pekerja milenial.
2. Merasa Gaji yang Diterima Terlalu Kecil
Banyak milenial saat ini menghadapi beban biaya hidup tinggi terutama untuk urusan tempat tinggal yang menghabiskan sebagian besar gaji. Situasi ini membuat mereka merasa tidak ada dorongan insentif memadai untuk memberikan usaha lebih di luar kewajiban dasar mereka di tempat kerja.
3. Lingkungan Kerja yang Kurang Sehat
Budaya tempat kerja yang terasa beracun atau tidak mendukung secara mental dan fisik dapat menyebabkan kelelahan berlebihan atau burnout. Kondisi ini secara otomatis membuat mereka sulit sekali memaksakan diri untuk bekerja melampaui jam kerja normal atau mengerahkan energi penuh setiap saat.
4. Ekspektasi Kerja yang Tidak Realistis
Beberapa manajer menetapkan harapan kinerja yang mungkin ketinggalan zaman atau tidak sesuai dengan realitas kondisi kerja saat ini. Ekspektasi semacam itu bisa membuat milenial merasa patah semangat atau tidak termotivasi ketika mereka sadar sulit mencapai standar yang ditetapkan secara tidak wajar.
5. Prioritas Tinggi untuk Kehidupan Pribadi
Generasi milenial sangat menjunjung tinggi keseimbangan ideal antara pekerjaan dan kehidupan personal mereka di luar kantor. Mereka kesulitan menemukan motivasi kuat untuk mengorbankan waktu pribadi apabila lingkungan kerja tidak mendukung keseimbangan yang sehat tersebut.
6. Menolak Menjadikan Pekerjaan sebagai Identitas Utama
Mereka secara sadar menghindari bekerja terus menerus atau lembur berlebihan demi mencegah terjadinya burnout parah yang merugikan. Memiliki batasan jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi adalah cara mereka menjaga kesehatan mental serta fisik dalam jangka panjang.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
