
Ilustrasi pria yang melakukan pekerjaan rumah tangga. (Freepik).
JawaPos.com - Tak bisa dipungkiri, ada perbedaan mencolok antara pria yang ringan tangan dalam urusan pekerjaan rumah, dengan mereka yang merasa itu bukan tanggung jawabnya. Perbedaan ini sering kali berakar dari lingkungan di mana mereka tumbuh dan dibesarkan.
Pria yang cenderung enggan terlibat dalam pekerjaan rumah biasanya berasal dari latar belakang tertentu yang menanamkan pola pikir seperti itu sejak kecil. Bukan sepenuhnya salah mereka, tetapi pola ini perlu disadari dan diperbaiki.
Memahami pola-pola ini penting agar kita bisa menciptakan lingkungan keluarga yang lebih seimbang dan saling menghargai. Karena bagaimanapun juga, pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama.
Kabar baiknya, meskipun seseorang dibesarkan dalam lingkungan tertentu, perubahan tetap mungkin dilakukan. Kesadaran akan pola lama bisa menjadi awal untuk memperbaiki diri.
Dilansir dari Hack Spirit pada Minggu (13/4), berikut tujuh tipe lingkungan yang kerap membentuk pola pikir pria yang menganggap pekerjaan rumah tangga adalah hal remeh.
1. Lingkungan dengan Peran Gender Tradisional
Sejak kecil, pola asuh sangat mempengaruhi sikap dan kebiasaan seseorang saat dewasa. Banyak pria yang merasa pekerjaan rumah bukan tugasnya karena dibesarkan di keluarga dengan peran gender tradisional.
Di keluarga seperti ini, perempuan biasanya bertanggung jawab penuh atas urusan rumah, sementara pria hanya mengerjakan hal-hal yang dianggap lebih maskulin, seperti memperbaiki kendaraan atau urusan halaman. Akhirnya, anak laki-laki di rumah tersebut tumbuh dengan keyakinan bahwa pekerjaan rumah adalah urusan perempuan.
Pola pikir ini terbawa hingga dewasa dan memengaruhi bagaimana mereka melihat tanggung jawab bersama di rumah. Bukan soal menyalahkan, tetapi memahami asal-usul pola pikir ini penting agar bisa diperbaiki.
2. Keluarga Berpenghasilan Tinggi yang Menggunakan Jasa Asisten Rumah Tangga
Sebagian pria dibesarkan di keluarga yang mampu mempekerjakan asisten rumah tangga. Semua urusan rumah, mulai dari bersih-bersih, mencuci, hingga memasak, sudah ada yang mengurus.
Situasi ini membuat mereka jarang melihat ayah atau figur pria di rumah terlibat dalam pekerjaan domestik. Akibatnya, saat dewasa, mereka bisa merasa pekerjaan rumah bukan bagian dari tanggung jawabnya.
Padahal, tanpa pengalaman itu, mereka tak menyadari bahwa pekerjaan rumah adalah tanggung jawab bersama, bukan sesuatu yang bisa selalu diserahkan ke orang lain. Butuh waktu, kesadaran diri, dan kemauan belajar untuk keluar dari kebiasaan ini.
3. Tumbuh di Keluarga Orang Tua Tunggal
Hal yang menarik, anak laki-laki yang dibesarkan oleh orang tua tunggal — khususnya ibu — cenderung lebih terbiasa membantu pekerjaan rumah. Meski terdengar berlawanan, logikanya masuk akal.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
