Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Februari 2026, 00.10 WIB

8 Hal yang Dilakukan Orang Dewasa yang Dibesarkan oleh Orang Tua yang Ketat (Tanpa Sadar Dari Mana Asalnya) Menurut Psikologi

seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang ketat - Image

seseorang yang dibesarkan oleh orang tua yang ketat


JawaPos.com - Dibesarkan oleh orang tua yang sangat ketat sering kali dianggap sebagai cara untuk membentuk anak yang disiplin, bertanggung jawab, dan “berhasil”. Namun, menurut psikologi perkembangan, pola asuh yang terlalu mengontrol dapat meninggalkan jejak yang terbawa hingga dewasa — sering kali tanpa disadari oleh individu tersebut.

Psikolog perkembangan seperti Diana Baumrind membedakan gaya pengasuhan menjadi beberapa tipe, termasuk pola asuh otoriter (authoritarian), yang cenderung menuntut kepatuhan tinggi dengan sedikit ruang dialog. Selain itu, teori keterikatan (attachment theory) dari John Bowlby juga menjelaskan bagaimana pengalaman masa kecil memengaruhi pola relasi saat dewasa.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (20/2), terdapat 8 hal yang sering dilakukan orang dewasa yang tumbuh dengan orang tua yang ketat — tanpa mereka sadari bahwa akarnya berasal dari masa kecil.

Baca Juga: 7 Hal yang Tidak Pernah Dilakukan Orang yang Benar-Benar Berkelas Saat Marah, yang Membedakan Mereka dari Orang Lain di Ruangan Itu Menurut Psikologi

1. Terlalu Keras pada Diri Sendiri


Orang dewasa yang dibesarkan dalam lingkungan penuh tuntutan sering menginternalisasi standar tinggi tersebut. Mereka menjadi perfeksionis dan sulit merasa puas terhadap diri sendiri.

Setiap kesalahan kecil terasa seperti kegagalan besar. Kritik dari orang lain pun terasa sangat menyakitkan, karena di masa kecil, kesalahan sering direspons dengan hukuman atau kemarahan.

Secara psikologis, ini berkaitan dengan pembentukan inner critic yang kuat — suara batin yang meniru cara orang tua dulu berbicara pada mereka.

Baca Juga: Generasi yang Melewatkan Kuliah untuk Mulai Bekerja di Usia 16 Tahun, Punya 7 Ciri Kepribadian Ini Menurut Psikologi

2. Sulit Mengambil Keputusan Sendiri


Ketika kecil, semua keputusan mungkin diambilkan: apa yang boleh dilakukan, siapa yang boleh ditemui, bahkan pilihan jurusan atau karier.

Akibatnya, saat dewasa mereka sering:

Takut salah memilih

Terlalu banyak meminta pendapat orang lain

Menunda keputusan penting

Mereka tidak benar-benar belajar mempercayai intuisi sendiri karena otonomi jarang diberikan.

3. Cenderung People Pleasing (Menyenangkan Semua Orang)


Anak yang tumbuh dalam pola asuh ketat sering belajar bahwa cinta dan penerimaan bersyarat: mereka diterima ketika patuh.

Saat dewasa, pola ini berubah menjadi kebiasaan:

Sulit berkata “tidak”

Mengutamakan kebutuhan orang lain

Takut mengecewakan siapa pun

Menurut teori keterikatan dari John Bowlby, ini bisa berkembang menjadi anxious attachment, yaitu kecemasan akan ditinggalkan atau tidak diterima.

4. Menyembunyikan Emosi yang Sebenarnya


Dalam keluarga yang sangat ketat, ekspresi emosi sering dianggap sebagai pembangkangan atau kelemahan.

Anak belajar:
“Lebih aman diam daripada jujur.”

Saat dewasa, mereka mungkin:

Sulit mengungkapkan kemarahan

Tidak nyaman menunjukkan kesedihan

Terlihat “kuat” tapi sebenarnya memendam tekanan besar

Secara psikologis, ini adalah bentuk emotional suppression yang dapat berdampak pada kesehatan mental jangka panjang.

5. Takut pada Otoritas

Orang yang dibesarkan dengan pola otoriter sering memiliki respons otomatis berupa ketakutan terhadap figur otoritas:

Atasan

Dosen

Pemimpin

Bahkan pasangan dominan

Tubuh mereka merespons dengan cemas, meskipun situasinya sebenarnya aman. Ini adalah respons yang terbentuk dari pengalaman masa kecil di mana otoritas identik dengan hukuman atau ancaman.

6. Sulit Menetapkan Batasan (Boundaries)


Karena dulu tidak memiliki ruang pribadi atau hak untuk menolak, mereka tidak terbiasa membangun batasan sehat.

Saat dewasa, mereka mungkin:

Membiarkan orang lain melanggar batas

Merasa bersalah saat ingin menjaga diri

Mengorbankan kebutuhan pribadi

Padahal dalam psikologi modern, kemampuan menetapkan batasan adalah tanda kesehatan emosional.

7. Memberontak Secara Tersembunyi


Menariknya, tidak semua efeknya terlihat “patuh”. Beberapa orang dewasa justru menunjukkan pemberontakan terselubung:

Menunda pekerjaan (prokrastinasi)

Melanggar aturan kecil

Diam-diam melakukan hal yang dulu dilarang

Ini adalah bentuk reclaiming control — usaha bawah sadar untuk mendapatkan kembali kebebasan yang dulu terbatas.

8. Sulit Merasa “Cukup”


Anak yang dibesarkan dengan standar tinggi sering merasa nilai dirinya bergantung pada pencapaian.

Saat dewasa:

Gelar baru belum terasa cukup

Pujian terasa tidak nyata

Selalu ada target berikutnya

Konsep ini selaras dengan teori kebutuhan dari Abraham Maslow, di mana kebutuhan akan rasa aman dan penerimaan yang tidak terpenuhi di masa kecil dapat memengaruhi aktualisasi diri di masa dewasa.

Kenapa Banyak Orang Tidak Menyadari Hal Ini?


Karena pola tersebut terasa “normal”.

Jika sejak kecil seseorang terbiasa dengan kontrol ketat, kritik keras, atau tuntutan tinggi, maka itu menjadi standar relasi yang dianggap wajar. Mereka tidak menyadari bahwa banyak respons emosional mereka adalah pola lama yang terbentuk untuk bertahan.

Psikologi menyebutnya sebagai learned patterns — pola adaptif yang dulu membantu bertahan, tetapi kini tidak selalu relevan.

Apakah Semua Pola Asuh Ketat Berdampak Negatif?

Tidak selalu.

Disiplin, struktur, dan nilai tanggung jawab tetap penting. Namun perbedaannya terletak pada keseimbangan antara kontrol dan kehangatan.

Menurut penelitian Diana Baumrind, pola asuh authoritative (tegas namun hangat dan komunikatif) cenderung menghasilkan individu yang percaya diri dan mandiri, berbeda dengan pola otoriter yang kaku dan minim empati.

Penutup


Jika Anda mengenali beberapa poin di atas pada diri sendiri, itu bukan berarti Anda “rusak”. Itu berarti Anda pernah beradaptasi dengan lingkungan yang menuntut.

Kabar baiknya, pola yang dipelajari bisa diubah.

Kesadaran adalah langkah pertama. Dengan refleksi, terapi, atau pengembangan diri, seseorang bisa membangun ulang hubungan dengan diri sendiri — bukan lagi berdasarkan ketakutan, tetapi berdasarkan pemahaman dan penerimaan.

Karena menjadi dewasa bukan hanya tentang bertambah usia, tetapi juga tentang menyembuhkan bagian kecil dalam diri yang dulu tidak sempat didengar.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore