seseorang yang memilih pasangan karena alasan yang salah./Freepik/tirachardz
JawaPos.com - Memilih pasangan hidup adalah salah satu keputusan paling besar dalam hidup seseorang.
Namun menurut berbagai teori dalam psikologi hubungan, banyak orang ternyata memilih pasangan bukan berdasarkan kesiapan emosional atau kecocokan nilai, melainkan karena dorongan yang tidak disadari—seperti rasa takut kesepian, tekanan sosial, atau kebutuhan validasi.
Di awal hubungan, semuanya bisa terasa “benar”. Perasaan jatuh cinta, euforia, dan harapan masa depan sering menutupi motif yang sebenarnya. Namun bertahun-tahun kemudian, realitas mulai membuka tabir.
Dilansir dari Geediting pada Rabu (18/2), terdapat sembilan momen yang sering menjadi titik kesadaran—bahwa pilihan dulu mungkin didasarkan pada alasan yang keliru.
1. Saat Rasa Kesepian Tidak Hilang Meski Sudah Menikah
Banyak orang memilih pasangan karena takut sendirian. Namun jika alasan utama adalah menghindari kesepian, ironisnya perasaan itu sering tetap ada.
Secara psikologis, kesepian bukan tentang status hubungan, tetapi tentang kedekatan emosional. Ketika seseorang menikah hanya demi “punya pasangan”, ia bisa tetap merasa kosong karena kebutuhan emosionalnya tidak pernah benar-benar terpenuhi.
Baca Juga: 8 Hal yang Dilakukan Orang Tua dengan Niat Membantu, tetapi Membuat Anak Dewasa Takut Setiap Kali Menerima Telepon Menurut Psikologi
2. Ketika Konflik Kecil Selalu Terasa Mengancam
Hubungan yang dibangun atas dasar ketertarikan superfisial—status, penampilan, atau tekanan keluarga—sering tidak memiliki fondasi komunikasi yang kuat.
Bertahun-tahun kemudian, konflik kecil terasa seperti ancaman besar. Ini karena hubungan tersebut tidak pernah dibangun dengan keamanan emosional yang matang.
3. Saat Mulai Membandingkan dengan Orang Lain Secara Diam-Diam
Menurut teori perbandingan sosial dalam psikologi, manusia cenderung membandingkan hidupnya dengan orang lain. Namun dalam hubungan yang sehat, perbandingan itu jarang terasa menyakitkan.
Jika seseorang mulai sering berpikir, “Seandainya dulu aku memilih yang lain…”, itu sering menjadi sinyal bahwa keputusan awal mungkin lebih didorong oleh impuls atau tekanan, bukan kesadaran nilai pribadi.
4. Ketika Alasan Awal Sudah Tidak Relevan Lagi
Mungkin dulu ia memilih pasangan karena stabil secara finansial, populer, atau karena “sudah waktunya menikah”. Namun waktu mengubah prioritas.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
