Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Februari 2026 | 17.22 WIB

Kamu Mengenali Lebih dari 6 dari 10 Pengalaman Ini? Hampir Pasti Anda Tumbuh di Keluarga Kelas Menengah ke Bawah Menurut Psikologi

seseorang yang tumbuh di keluarga kelas menengah./Freepik/tirachardz - Image

seseorang yang tumbuh di keluarga kelas menengah./Freepik/tirachardz

JawaPos.com - Tidak semua orang yang tumbuh di keluarga kelas menengah ke bawah menyadari bagaimana latar belakang ekonomi membentuk pola pikir, kebiasaan, dan respons emosional mereka hingga dewasa.

Dalam psikologi perkembangan dan sosial, kondisi finansial keluarga bukan hanya soal jumlah uang, tetapi juga tentang rasa aman, cara mengambil keputusan, hingga bagaimana seseorang memandang masa depan.

Menurut teori hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow, ketika kebutuhan dasar seperti keamanan finansial belum sepenuhnya stabil, energi mental keluarga sering terfokus pada “bertahan hidup”, bukan aktualisasi diri.

Sementara itu, penelitian tentang scarcity mindset dari Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir menjelaskan bagaimana keterbatasan ekonomi dapat memengaruhi cara berpikir dan pengambilan keputusan dalam jangka panjang.

Dilasnir dari Geediting pada Selasa (17/2), terdapat 10 pengalaman yang secara psikologis sering dialami oleh mereka yang tumbuh di keluarga kelas menengah ke bawah.

Jika Anda mengenali lebih dari 6 di antaranya, kemungkinan besar latar belakang ekonomi Anda ikut membentuk siapa diri Anda hari ini.

Anda tumbuh dengan suasana di mana uang adalah pembicaraan serius—bahkan menegangkan. Orang tua mungkin sering berdiskusi tentang cicilan, tagihan, atau kebutuhan sekolah dengan nada cemas.

Dalam psikologi keluarga, anak yang sering terpapar stres finansial cenderung memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap pengeluaran sejak dini.

2. Anda Terbiasa “Mengalah” demi Kebutuhan yang Lebih Penting

Ingin sepatu baru? Tunggu dulu. Mau ikut les tambahan? Lihat dulu apakah anggaran cukup. Anda belajar sejak kecil bahwa keinginan tidak selalu bisa dipenuhi.

Hal ini membentuk kemampuan menunda kepuasan (delayed gratification), tetapi juga bisa menciptakan rasa bersalah ketika membelanjakan uang untuk diri sendiri saat dewasa.

3. Anda Sangat Menghargai Diskon dan Promo

Bagi sebagian orang, diskon adalah bonus. Bagi Anda, diskon adalah strategi bertahan hidup. Anda mungkin terbiasa membandingkan harga, mencari promo, atau menyimpan barang “untuk jaga-jaga”.

Ini mencerminkan pola pikir berbasis kelangkaan (scarcity mindset), di mana otak terbiasa fokus pada efisiensi dan penghematan.

4. Anda Merasa Tidak Enak Jika “Terlalu Menikmati”

Liburan mewah, makan di restoran mahal, atau membeli barang branded bisa memunculkan perasaan aneh—seperti tidak pantas atau berlebihan.

Secara psikologis, ini disebut sebagai internalized economic identity—identitas diri yang terbentuk dari kondisi ekonomi masa kecil.

5. Anda Mandiri Lebih Cepat dari Teman Sebaya

Mungkin Anda sudah terbiasa membantu orang tua, bekerja paruh waktu, atau mengurus adik sejak kecil. Tanggung jawab datang lebih cepat.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore