Ilustrasi Pasangan yang Terlalu Sering Pamer Kemesraan di Media Sosial (Geediting)
JawaPos.com - Media sosial dipenuhi foto pasangan bahagia: unggahan ulang tahun pernikahan, couple outfit, hingga caption cinta yang terdengar sempurna. Sekilas terlihat romantis dan manis. Namun, psikologi justru melihat fenomena ini dari sudut pandang berbeda.
Di balik unggahan yang tampak harmonis, kebiasaan terlalu sering memamerkan hubungan di media sosial kerap bukan lahir dari rasa aman, melainkan dari kebutuhan tersembunyi akan validasi dan pengakuan. Banyak pasangan tanpa sadar sedang mencari pembuktian bahwa hubungan mereka baik-baik saja.
Dilansir dari laman Geediting, Jumat (30/1), berikut delapan masalah emosional yang sering dialami pasangan yang terlalu sering mengunggah kebersamaan mereka di media sosial.
Penelitian dari Northwestern University menemukan bahwa pasangan yang paling sering mengunggah pasangan mereka justru cenderung merasa kurang aman dalam hubungan. Fenomena ini disebut relationship visibility.
Semakin tinggi kebutuhan untuk menunjukkan hubungan ke publik, semakin besar kemungkinan adanya rasa tidak aman di baliknya. Hubungan yang benar-benar stabil umumnya tidak membutuhkan pembuktian terus-menerus.
Like, komentar, dan emoji hati menjadi sumber penguat emosional sementara. Menurut Psychology Today, media sosial sering digunakan untuk meredakan rasa ragu terhadap diri sendiri maupun hubungan.
Masalahnya, validasi ini bersifat sesaat. Setelah efeknya hilang, muncul kebutuhan untuk mengunggah lagi demi mendapatkan pengakuan baru.
Psikologi mengenal istilah Relationship Contingent Self-Esteem (RCSE), yaitu kondisi ketika nilai diri seseorang sangat bergantung pada kualitas hubungan romantisnya.
Orang dengan RCSE tinggi cenderung memamerkan hubungan untuk meyakinkan diri sendiri dan orang lain bahwa hidup mereka “baik-baik saja”. Ketika hubungan mengalami masalah kecil, kecemasan mereka meningkat drastis.
FOMO tidak hanya soal pesta atau liburan, tetapi juga soal hubungan. Media sosial dipenuhi gambaran pasangan yang tampak hidup sempurna: liburan mewah, kencan romantis, dan kejutan manis.
Paparan ini membuat pasangan lain merasa hubungan mereka kurang menarik. Akhirnya, unggahan dibuat bukan untuk merayakan cinta, melainkan agar tidak tertinggal dari pasangan lain.
Ironisnya, pasangan yang terlihat paling mesra di media sosial sering kali justru mengalami keterputusan emosional secara pribadi.
Penelitian dari Journal of Marital and Family Therapy menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan dapat mengurangi kualitas waktu bersama pasangan, memicu jarak emosional, dan memperburuk komunikasi.
Media sosial kerap memicu kecemburuan: komentar ambigu, pengikut baru, atau interaksi dengan mantan. Bagi individu dengan kecemasan kelekatan (anxious attachment), hal ini menjadi pemicu konflik.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
