Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 31 Januari 2026 | 14.21 WIB

3 Alasan Sifat Kepribadian Ini Sering Bikin Karier Tersendat, Meski Orangnya Berbakat

Ilustrasi Alasan Sifat Kepribadian Ini Sering Bikin Karier Tersendat (Freepik)


JawaPos.com - Tidak sedikit orang berbakat justru merasa kariernya jalan di tempat. Bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena satu sifat kepribadian tertentu yang diam-diam menghambat performa kerja. Sifat tersebut dikenal dalam psikologi sebagai neurotisisme.

Neurotisisme ditandai dengan kecenderungan mudah cemas, penuh keraguan, mudah stres, dan sering membayangkan skenario terburuk. Semua orang bisa bersikap neurotis sesekali, namun pada tingkat tinggi, sifat ini terbukti berkorelasi dengan kinerja kerja yang buruk, bahkan pada individu yang sebenarnya sangat kompeten.

Dilansir dari laman Your Tango, Jumat (30/1), berikut tiga alasan utama mengapa orang dengan sifat neurotisisme tinggi kerap kesulitan di dunia kerja, meski memiliki bakat besar.

1. Kecemasan Tidak Disalurkan Secara Produktif

Orang yang mudah cemas sering kali terjebak dalam kepanikan, bukan solusi. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa rasa khawatir sebenarnya bisa bermanfaat jika diarahkan ke proses berpikir yang konstruktif, terutama pada individu dengan kemampuan kognitif tinggi.

Ahli bisnis dan penulis Million Dollar Women, Julia Pimsleur, menyarankan agar energi cemas dialihkan ke persiapan matang, bukan sekadar menenangkan diri tanpa tindakan. Misalnya, sebelum wawancara kerja, alih-alih meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, justru lebih efektif jika melakukan riset mendalam tentang perusahaan, posisi, dan pewawancara.

Menurutnya, setiap rasa gugup seharusnya menjadi sinyal untuk mempersiapkan diri lebih baik.

2. Terlalu Cepat Menarik Kesimpulan

Salah satu ciri khas neurotisisme adalah kecenderungan melompat ke kesimpulan terburuk tanpa data yang cukup. Satu situasi kecil bisa berkembang menjadi rangkaian ketakutan besar di kepala.

Julia Pimsleur menyebut fenomena ini sebagai “masuk ke lubang kelinci”—membayangkan kegagalan demi kegagalan yang belum tentu terjadi. Padahal, menghentikan diri sejenak dan bertanya, “Apakah benar ada data yang mendukung ketakutan ini?” bisa mencegah kepanikan yang tidak perlu.

Kepanikan bukan hanya mengganggu kejernihan berpikir, tetapi juga membuang waktu dan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk mencari solusi nyata.

3. Cenderung Bereaksi Berlebihan

Kebiasaan overthinking dan mengulang-ulang masalah di kepala terbukti merusak kesejahteraan mental dan performa kerja. Semakin seseorang tenggelam dalam pikiran negatif, semakin besar risiko masuk ke mode bencana dan dialog batin yang merusak kepercayaan diri.

Penelitian menunjukkan bahwa harapan dan optimisme justru berhubungan dengan kinerja kerja yang lebih tinggi, bahkan setelah faktor kecerdasan diperhitungkan. Karyawan dan pemimpin yang memiliki harapan cenderung menghasilkan solusi yang lebih berkualitas dan produktif.

Alih-alih melihat krisis sebagai akhir segalanya, para ahli menyarankan untuk membangun kebiasaan mengumpulkan data, menunda reaksi emosional, dan melihat tantangan sebagai peluang untuk beradaptasi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore