
seseorang yang menjauh dari berita Sumber foto: Freepik/EyeEm
JawaPos.com - Di era digital, berita hadir tanpa henti. Notifikasi berdenting sejak pagi, linimasa dipenuhi kabar konflik, krisis, dan perdebatan yang seolah tak pernah selesai.
Bagi sebagian orang, mengikuti berita adalah bentuk kepedulian. Namun bagi sebagian lainnya, jarak justru menjadi pilihan sadar demi menjaga kewarasan.
Psikologi modern mengenal istilah news fatigue dan doomscrolling—kondisi ketika paparan berita berlebihan memicu stres, kecemasan, bahkan rasa tidak berdaya.
Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang sengaja membatasi atau menjauh dari konsumsi berita sering kali menemukan kembali aspek-aspek penting dalam hidup mereka yang sempat terkikis.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (8/1), terdapat delapan bagian kehidupan yang kerap “kembali hidup” ketika seseorang berhenti tenggelam dalam arus berita, ditinjau dari sudut pandang psikologi.
1. Ketenangan Mental yang Lebih Stabil
Berita, terutama yang bernada negatif, memicu respons fight or flight di otak. Amygdala—pusat emosi dan ancaman—terus terstimulasi seolah bahaya selalu dekat. Ketika seseorang menjauh dari berita, sistem saraf mendapat kesempatan untuk tenang.
Secara psikologis, ini berarti pikiran tidak lagi berada dalam mode siaga terus-menerus. Banyak orang melaporkan tidur lebih nyenyak, napas terasa lebih ringan, dan pikiran tidak lagi dipenuhi skenario terburuk yang sebenarnya jauh dari kehidupan sehari-hari mereka.
2. Fokus yang Lebih Dalam dan Berkualitas
Berita modern dirancang untuk memecah perhatian: judul sensasional, pembaruan cepat, dan topik yang terus berganti. Saat asupan ini dikurangi, kapasitas atensi perlahan pulih.
Psikologi kognitif menunjukkan bahwa otak manusia bekerja lebih optimal dalam kondisi deep focus. Orang yang menjauh dari berita sering menemukan kembali kemampuan untuk membaca lebih lama, bekerja lebih khusyuk, dan menyelesaikan satu tugas tanpa dorongan konstan untuk mengecek layar.
3. Hubungan Sosial yang Lebih Autentik
Tanpa disadari, berita sering menyusup ke percakapan dan memicu perdebatan emosional. Ketika berita tidak lagi mendominasi pikiran, interaksi sosial pun berubah.
Orang-orang yang mengurangi konsumsi berita cenderung lebih hadir saat berbicara. Mereka mendengarkan dengan empati, bukan sekadar menunggu giliran untuk menyampaikan opini. Hubungan pun kembali berpusat pada pengalaman manusia, bukan sekadar isu yang sedang viral.
4. Kesadaran Diri dan Emosi yang Lebih Jernih

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
