Dilansir dari Expert Editor pada Senin (5/1), terdapat tujuh kebiasaan yang sebaiknya ditinggalkan agar energi Anda tidak lagi bocor ke hal-hal yang tidak perlu.
Baca Juga: 7 Tanda bahwa Anda Sebenarnya Tidak Malas, Anda Hanya Hidup Tidak Selaras dengan Ritme Alami Anda Menurut Psikologi
2. Memikirkan Hal yang Tidak Bisa DikendalikanPsikologi kognitif menjelaskan bahwa otak manusia cenderung menghabiskan banyak energi untuk memikirkan skenario terburuk, terutama pada hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita.
Cuaca, penilaian orang lain, keputusan masa lalu, atau kemungkinan yang belum tentu terjadi—semua ini sering menjadi “penguras energi senyap”. Semakin sering dipikirkan, semakin lelah kita tanpa solusi nyata.
Tahun baru akan terasa lebih ringan ketika Anda mulai bertanya:
“Apakah ini bisa saya kendalikan?”
Jika tidak, belajar melepaskannya adalah bentuk kecerdasan emosional.
3. Selalu Ingin Menyenangkan Semua OrangKeinginan untuk diterima adalah sifat manusiawi. Namun, ketika berubah menjadi kebiasaan people-pleasing, dampaknya bisa sangat menguras energi.
Menurut psikologi sosial, orang yang terlalu sering mengorbankan kebutuhan pribadinya demi orang lain cenderung mengalami kelelahan emosional, rasa bersalah kronis, dan bahkan kehilangan identitas diri.
Melepaskan kebiasaan ini berarti memahami satu kebenaran sederhana:
Anda boleh menjadi baik tanpa harus selalu berkata “iya”.
4. Membandingkan Diri dengan Orang LainDi era media sosial, kebiasaan membandingkan diri hampir menjadi refleks otomatis. Padahal, psikologi menyebut perbandingan sosial yang tidak sehat sebagai salah satu pemicu utama kecemasan dan rasa tidak cukup.
Kita sering lupa bahwa yang dibandingkan adalah kehidupan utuh kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain. Ini menciptakan ilusi bahwa kita tertinggal, padahal kenyataannya tidak demikian.
Melepaskan kebiasaan ini akan menghemat banyak energi emosional dan membantu Anda kembali fokus pada perjalanan pribadi.
5. Menunda Perasaan yang Belum SelesaiBanyak orang memilih menghindari emosi tidak nyaman: sedih, marah, kecewa, atau duka. Namun menurut psikologi, emosi yang ditekan tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya bersembunyi dan menguras energi dari dalam.
Menunda perasaan yang belum selesai membuat pikiran terus bekerja di latar belakang, seperti aplikasi yang tidak pernah ditutup.
Tahun baru yang lebih ringan dimulai ketika Anda berani berkata:
“Saya boleh merasa seperti ini, dan itu tidak apa-apa.”
6. Terus Hidup di Masa LaluMerefleksikan masa lalu memang penting, tetapi terjebak di dalamnya adalah kebiasaan yang melelahkan. Penyesalan, rasa bersalah, atau “seandainya dulu” sering kali menghabiskan energi tanpa memberi jalan keluar.
Psikologi menyebut hal ini sebagai rumination, yaitu memutar ulang kejadian lama tanpa tindakan korektif. Semakin sering dilakukan, semakin berat beban mental yang dirasakan.
Melepaskan masa lalu bukan berarti melupakan, melainkan berhenti menjadikannya tempat tinggal.
7. Mengabaikan Kebutuhan Diri SendiriKebiasaan terakhir ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar. Terlalu sibuk, terlalu bertanggung jawab, atau terlalu fokus pada orang lain sering membuat seseorang lupa mendengarkan sinyal tubuh dan pikirannya sendiri.
Kurang istirahat, tidak memberi waktu jeda, dan menomorduakan kesehatan mental adalah cara tercepat menguras energi jangka panjang.
Psikologi menegaskan bahwa self-care bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar agar manusia bisa berfungsi secara sehat.
Kesimpulan: Tahun Baru yang Ringan Dimulai dari MelepaskanTahun baru tidak selalu membutuhkan versi diri yang sepenuhnya baru. Terkadang, yang paling kita butuhkan adalah melepaskan beban lama yang selama ini kita pikul tanpa sadar.
Dengan meninggalkan tujuh kebiasaan yang menguras energi ini—mulai dari terlalu keras pada diri sendiri hingga mengabaikan kebutuhan pribadi—Anda memberi ruang bagi pikiran untuk bernapas, hati untuk tenang, dan hidup untuk terasa lebih ringan.
Ingat, menurut psikologi, hidup yang sehat bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang hidup dengan kesadaran, batas yang sehat, dan welas asih pada diri sendiri. Tahun baru pun bukan sekadar angka di kalender, melainkan kesempatan untuk melangkah dengan beban yang lebih sedikit dan makna yang lebih dalam.