
seseorang yang tak memiliki pasangan tempat bersandar emosional./Freepik/The Yuri Arcurs Collection
JawaPos.com - Tidak semua orang memiliki pasangan, sahabat dekat, atau figur tertentu yang bisa dijadikan tempat bersandar secara emosional.
Dalam psikologi, kondisi ini bukan selalu tentang kesepian, melainkan tentang bagaimana seseorang belajar bertahan, menyesuaikan diri, dan mengelola emosinya sendiri.
Orang-orang yang tumbuh atau hidup tanpa sandaran emosional yang konsisten sering kali mengembangkan kebiasaan-kebiasaan khas—bukan karena mereka ingin, tetapi karena keadaan membentuk mereka demikian.
Kebiasaan-kebiasaan ini sering tidak terlihat dari luar. Mereka bisa tampak kuat, mandiri, bahkan tenang. Namun di balik itu, ada mekanisme psikologis yang bekerja untuk melindungi diri dari kekecewaan, penolakan, atau rasa kehilangan.
Dilansir dari Geediting pada Selasa (30/12), terdapat tujuh kebiasaan yang umum ditemukan pada orang yang tidak memiliki pasangan atau figur utama sebagai tempat bersandar emosional, menurut perspektif psikologi.
1. Terbiasa Menyimpan Masalah Sendiri
Orang tanpa sandaran emosional jarang menceritakan masalah pribadinya secara mendalam. Bukan karena tidak percaya pada orang lain, melainkan karena mereka sudah lama terbiasa mengandalkan diri sendiri.
Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan avoidant coping, yaitu strategi menghadapi stres dengan cara menarik diri secara emosional.
Mereka mungkin berkata, “Aku baik-baik saja,” padahal di dalam pikirannya penuh pergulatan. Kebiasaan ini membuat mereka terlihat kuat, tetapi di sisi lain dapat menumpuk beban emosional yang tidak tersalurkan.
2. Mandiri Secara Berlebihan
Kemandirian adalah hal positif, tetapi pada tingkat tertentu bisa menjadi bentuk pertahanan diri.
Orang yang tidak memiliki tempat bersandar emosional sering merasa tidak nyaman bergantung pada siapa pun. Mereka lebih memilih melakukan semuanya sendiri, bahkan saat sebenarnya membutuhkan bantuan.
Menurut psikologi perkembangan, kondisi ini bisa muncul dari pengalaman masa lalu ketika kebutuhan emosional tidak terpenuhi. Akhirnya, mereka belajar bahwa satu-satunya cara bertahan adalah dengan tidak berharap pada orang lain.
3. Sulit Mengekspresikan Emosi Secara Terbuka
Banyak dari mereka tahu apa yang dirasakan, tetapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Emosi sering diproses secara internal, bukan verbal. Mereka jarang menangis di depan orang lain, jarang menunjukkan kesedihan, dan cenderung menjaga wajah tetap “netral”.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022