Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Desember 2025, 04.10 WIB

Psikologi Mengungkap Alasan Mengapa Seseorang Hangat pada Teman tapi Dingin pada Keluarga

Hal ini jika dilakukan dalam keluarga saat Natal membuat liburan jadi berantakan (Dok. Freepik) - Image

Hal ini jika dilakukan dalam keluarga saat Natal membuat liburan jadi berantakan (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Hubungan keluarga sering dianggap sebagai tempat paling aman untuk menjadi diri sendiri.

Namun pada kenyataannya, tidak sedikit orang justru merasa lebih nyaman, hangat, dan terbuka saat bersama teman atau rekan kerja dibandingkan dengan keluarga sendiri.

Mereka bisa tertawa lepas dengan sahabat, berbagi cerita mendalam dengan kolega, bahkan bersikap ramah pada orang asing.

Namun ketika pulang ke rumah atau bertemu keluarga, sikap mereka berubah menjadi lebih tertutup, berhati-hati, dan menjaga jarak.

Fenomena ini bukan tanpa sebab. Psikologi menjelaskan bahwa pola tersebut sering kali berakar dari pengalaman masa kecil yang membentuk mekanisme perlindungan diri.

Dikutip dari laman Geediting, Selasa (23/12), terdapat sejumlah pengalaman masa kanak-kanak yang kerap dialami oleh orang-orang yang hangat pada teman, tetapi dingin pada keluarga.

1. Tumbuh dengan Reaksi Emosi Orang Tua yang Tidak Konsisten

Anak membutuhkan kestabilan emosi untuk merasa aman. Ketika orang tua mudah berubah dari penyayang menjadi marah tanpa peringatan, anak belajar untuk selalu waspada.

Kebiasaan membaca situasi dan emosi ini terbawa hingga dewasa. Bersama keluarga, sistem kewaspadaan lama kembali aktif. Sementara dengan teman yang dipilih sendiri, seseorang merasa lebih aman karena pola emosinya lebih bisa diprediksi.

2. Terlalu Cepat Memikul Peran Orang Dewasa

Sebagian anak harus menjadi penengah konflik, pengasuh adik, atau tempat curhat orang tua sejak usia dini. Kondisi ini membuat mereka menekan kebutuhan pribadi demi menjaga stabilitas keluarga.

Akibatnya, saat dewasa mereka kesulitan bersikap autentik di lingkungan keluarga. Sebaliknya, bersama teman, mereka tidak memiliki peran yang harus dimainkan dan bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya.

3. Mengalami Pengabaian Emosional

Pengabaian emosional terjadi ketika perasaan anak tidak direspons atau dianggap penting. Anak belajar bahwa emosi mereka tidak layak diperhatikan.

Luka ini sering bertahan lama. Dengan keluarga, dinding emosional tetap berdiri karena luka awal terjadi di sana. Namun pertemanan memberi ruang baru untuk belajar terbuka tanpa rasa takut diabaikan.

4. Hidup dalam Lingkungan yang Penuh Kritik

Anak yang tumbuh dengan kritik terus-menerus belajar untuk membatasi cerita dan perasaan mereka. Berbagi dianggap berisiko karena bisa menjadi bahan serangan berikutnya.

Di sisi lain, pertemanan yang dibangun saat dewasa biasanya tidak dibebani sejarah kritik, sehingga rasa aman untuk terbuka lebih mudah tercipta.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore