Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 November 2025 | 19.52 WIB

Orang-Orang yang Hampir Tidak Memiliki Teman Dekat di Masa Dewasa Sering Mengalami 8 Pengalaman Masa Kecil Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang hampir tidak memiliki teman dekat


JawaPos.com - Dalam perjalanan menuju kedewasaan, banyak dari kita tersadar bahwa memiliki “teman dekat” bukanlah hal yang sesederhana ketika masih kecil. 

 
Ada orang yang mampu membangun hubungan erat dengan mudah, namun ada juga yang merasa selalu berada di pinggir lingkaran sosial—ramah, berfungsi dengan baik, tapi kesulitan benar-benar dekat dengan seseorang.

Menurut berbagai temuan psikologi perkembangan dan hubungan interpersonal, kecenderungan ini sering kali bukan muncul tiba-tiba. 
 
Akar masalahnya justru tertanam sejak masa kanak-kanak, saat cara kita memandang diri sendiri, orang lain, dan dunia mulai terbentuk. 
 
 
Dilansir dari Geediting pada Jumat (14/11), terdapat 

1. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang dingin secara emosional


Anak yang tumbuh dalam keluarga yang tidak mengekspresikan kasih sayang, jarang memeluk, jarang memvalidasi perasaan, atau cenderung “cuek”, sering belajar bahwa emosi bukan sesuatu yang boleh dibagi. 
 
Saat dewasa, mereka bisa sangat mandiri, tetapi tidak terbiasa membuka ruang intim bagi orang lain. 
 
Bukan karena tidak ingin, melainkan karena tubuhnya memaknai kedekatan sebagai sesuatu yang tidak natural.
 
Baca Juga: Psikologi: Ada 7 Ciri Kepribadian Unik Orang yang Gampang Tersipu

2. Terlalu sering dikritik atau dibesarkan dengan standar perfeksionis


Kritik konstan membuat anak merasa keberadaannya harus “sempurna” sebelum layak dicintai. 
 
Di masa dewasa, ini terlihat sebagai rasa takut ditolak atau ditinggalkan jika orang lain melihat kekurangan mereka. 
 
Akibatnya, mereka menjaga jarak demi melindungi diri. 
 
Hubungan dangkal terasa aman; hubungan dekat terasa berbahaya.

3. Pernah menjadi korban perundungan di sekolah


Bullying di masa kecil menciptakan memori bahwa orang-orang sebaya adalah ancaman. 
 
Pengalaman diejek, dipermalukan, atau dikucilkan membuat seseorang membangun mekanisme pertahanan: “lebih baik tidak dekat daripada disakiti lagi.” 
 
Sebuah pola yang mungkin tak disadari terus terbawa hingga dewasa.

4. Terlahir sebagai anak yang sangat sensitif dan kurang mendapat dukungan


Anak dengan temperamen sensitif membutuhkan respons lembut, empati, dan ruang aman. 
 
Tanpa itu, mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang merasa “berbeda”, sulit cocok dengan kebisingan sosial, atau cepat kelelahan secara emosional ketika bersosialisasi. 
 
Mereka bisa hangat, tetapi hanya pada lingkar sangat kecil—yang kadang tidak pernah benar-benar terbentuk.

5. Harus mandiri sebelum waktunya (parentification)

Beberapa anak dipaksa terlalu cepat dewasa—mengurus diri sendiri, bahkan ikut mengurus orang tua atau adik. 
 
Mereka belajar bahwa menjadi kuat dan tidak bergantung pada siapa pun adalah satu-satunya cara bertahan. 
 
Ketika dewasa, berbagi beban dengan teman terasa asing.
 
Mereka lebih nyaman memberi daripada menerima, padahal hubungan dekat membutuhkan keseimbangan.

6. Pola asuh yang penuh konflik atau tidak konsisten


Keluarga yang sering bertengkar, berteriak, atau bersikap tak terduga menciptakan rasa tidak aman. 
 
Anak tumbuh dengan sistem saraf yang waspada secara berlebihan. 
 
Ketika dewasa, mereka membaca hubungan sosial dengan kacamata kewaspadaan yang sama—selalu mengantisipasi drama, perubahan suasana hati, atau pengkhianatan. 
 
Akibatnya, mereka menahan diri untuk tidak terlalu dekat.

7. Kurang mendapat kesempatan bersosialisasi di masa kecil


Ada anak yang tumbuh dalam keluarga sangat protektif, terlalu fokus sekolah, atau tinggal di lingkungan yang minim interaksi. 
 
Keterampilan sosial yang seharusnya terbentuk secara bertahap tidak berkembang dengan optimal.
 
Di masa dewasa, mereka mungkin tampak canggung, bingung memulai kedekatan, atau sulit membaca dinamika pertemanan. 
 
Bukan karena tidak mampu—hanya saja mereka tidak terbiasa.

8. Pernah mengalami penolakan dari figur penting (teman dekat, saudara, atau orang tua)


Penolakan mendalam menciptakan luka relasional yang membentuk keyakinan: “kedekatan pasti berakhir buruk.” 
 
Orang dewasa yang membawa luka ini cenderung memilih hubungan yang serba aman, batasan tinggi, dan jarak emosional yang lebar. 
 
Mereka bisa berfungsi baik secara sosial, tetapi sulit membiarkan diri benar-benar dilihat oleh seseorang.

Kesimpulan: Masa Kecil Mencetak Pola, Tapi Dewasa Memberi Kesempatan untuk Memperbaiki

Kesulitan memiliki teman dekat di masa dewasa bukanlah bukti bahwa seseorang “tidak layak dicintai” atau “antisosial.” 
 
Ini lebih sering merupakan pola yang terbentuk dari pengalaman masa kecil—pola yang awalnya bertujuan melindungi kita.

Kabar baiknya, pola ini dapat dipelajari ulang.

Melalui kesadaran diri, terapi, komunikasi yang lebih jujur, atau perlahan membuka ruang pada orang-orang yang aman, kita bisa membangun hubungan baru yang lebih sehat dan dekat. 
 
Masa lalu mungkin membentuk kita, tetapi tidak harus mendikte sisa hidup kita.
 
Setiap orang berhak memiliki hubungan yang hangat—dan itu selalu bisa dimulai kapan saja, termasuk hari ini.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore