Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Oktober 2025 | 01.58 WIB

8 Ungkapan Merusak yang Sering Diucapkan Orang Tua Emosional Tanpa Menyadari Dampaknya

Ilustrasi seorang anak kecil yang tampak sedih sambil memegang mainan./Freepik - Image

Ilustrasi seorang anak kecil yang tampak sedih sambil memegang mainan./Freepik

JawaPos.com - Orang tua sering kali melontarkan kata-kata kepada anak-anaknya tanpa menyadari dampak emosional jangka panjangnya.

Ketika orang tua kurang hadir secara emosional, komunikasi verbal mereka dapat menjadi sumber luka yang tak tersembuhkan.

Kata-kata ini sering kali dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah, namun hasilnya justru melukai perasaan anak.

Melansir dari Geediting.com Selasa (30/9), ada delapan frasa tertentu yang sering diucapkan. Ungkapan-ungkapan ini secara tidak sengaja dapat mengirimkan pesan bahwa emosi anak tidak sah atau tidak penting. Mari kita kenali delapan frasa tersebut agar kita lebih waspada dalam berkomunikasi.

1. "Kamu terlalu sensitif"

Anak-anak melihat dunia dengan emosi yang mentah dan sangat intens sehingga merasakan segalanya secara mendalam. Frasa ini membuat anak menginternalisasi emosi mereka sebagai suatu kekurangan atau kesalahan. Alih-alih meremehkan, mengakui perasaan mereka dapat menjadi alat yang ampuh.

2. "Aku tidak punya waktu sekarang"

Dalam kesibukan hidup, orang tua sering kali teralihkan antara pekerjaan dan urusan rumah tangga lainnya. Anak-anak mendambakan perhatian dan validasi dari orang tua mereka. Ucapan ini dapat membuat anak merasa bahwa minat dan masalah mereka tidak diutamakan.

3. "Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti saudaramu?"

Perbandingan ini adalah cara yang sangat merusak harga diri anak-anak. Ini mengirimkan pesan bahwa mereka tidak cukup baik apa adanya. Kita harus merayakan kualitas unik setiap anak alih-alih mencoba membuat mereka menjadi tiruan orang lain.

4. "Kamu baik-baik saja, itu bukan masalah besar"

Ungkapan ini secara tidak sengaja mengecilkan masalah yang sedang dihadapi oleh anak. Bagi anak, masalah kecil yang dihadapi terasa besar dan mendesak. Hal ini dapat menghambat mereka untuk membangun ketahanan emosional yang sehat.

5. "Berhentilah menangis atau aku akan memberimu sesuatu untuk ditangisi"

Anak-anak harus diizinkan untuk meluapkan semua jenis perasaannya, termasuk kesedihan dan frustrasi. Ancaman verbal ini membuat anak menekan emosinya alih-alih belajar mengelolanya. Pertumbuhan emosional melibatkan pemahaman dan ekspresi semua perasaan.

6. "Karena aku yang bilang begitu"

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore