Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 September 2025 | 06.58 WIB

Kenali Doomscrolling, Kebiasaan Membaca Kabar Buruk yang Bisa Picu Kecemasan

Ilustrasi scroll informasi negatif di media sosial atau doomscrolling yang bisa memicu kecemasan. (Freepik) - Image

Ilustrasi scroll informasi negatif di media sosial atau doomscrolling yang bisa memicu kecemasan. (Freepik)

JawaPos.com-Tak bisa dipungkiri, kabar buruk tanpa henti memenuhi lini masa media sosial, belakangan ini mendorong kebiasaan individu terus menggulir untuk mencari, membaca, dan menonton informasi negatif.

Fenomena ini dikenal masyarakat sebagai doomscrolling. Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Atika Dian Ariana menerangkan, doomscrolling adalah perilaku kompulsif dalam menghadapi ketidakpastian.

Kebiasaan ini meningkatkan stres karena paparan informasi negatif terus-menerus, memicu produksi hormon kortisol sehingga tubuh berada dalam keadaan waspada meski sebenarnya tak menghadapi ancaman nyata.

Doomscrolling ini semacam dorongan untuk menyelamatkan diri. Dengan mencari informasi, manusia merasa bisa mengendalikan hal-hal yang negatif atau menghadapi ancaman," ujar Atika di Surabaya, Jumat (20/9).

Meskipun tampak sebagai insting bertahan hidup, doomscrolling sejatinya tidak benar-benar membantu. Dalam jangka panjang, doomscrolling dapat mengganggu kesejahteraan mental maupun fisik.

Terutama pada Gen Z yang aktif menggunakan media sosial. Secara kognitif, paparan informasi negatif secar terus-menerus membuat pikiran dan emosi ikut terpengaruh, sehingga risiko stres meningkat.

Scrolling itu bukan aktivitas yang betul-betul memberikan solusi, kecuali kalau kita tahu kapan harus berhenti. Misalnya menghadapi ujian, kita tahu kapan ujian berakhir sehingga lebih mudah dikendalikan. Tetapi dalam situasi tak menentu, seperti kerusuhan, kita tidak paham sebenarnya kapan ini berakhir,” imbuh Atika Dian Ariana.

Dampak lain doomscrolling adalah munculnya kekhawatiran berlebihan yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Atika menyebut kondisi ini berpotensi memicu kelelahan fisik sekaligus mental, sehingga menurunkan kualitas hidup.

“Ketika cemas atau stres, tubuh ikut menegang seolah bersiap menghadapi ancaman. Lama-lama bukan hanya pikiran yang lelah, tapi juga tubuh kita,” tukas dosen yang aktif mengajar di Fakultas Psikologi Unair tersebut.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore