Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 04.05 WIB

Fenomena Quiet Quitting di Kalangan Anak Muda: Kerja Secukupnya, Jaga Mental, Hidup Lebih Berkualitas

Karyawan muda semakin memilih quiet quitting sebagai cara menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup./Freepik.

JawaPos.com – Belakangan istilah quiet quitting menjadi perbincangan hangat, terutama di kalangan generasi muda yang baru menapaki dunia kerja.

Fenomena ini bukan berarti berhenti bekerja, melainkan memilih untuk menjalankan tugas sesuai tanggung jawab dasar tanpa memberikan usaha lebih.

Lantas, mengapa banyak anak muda mengambil sikap ini, dan apa dampaknya bagi masa depan karier mereka?

Apa Itu Quiet Quitting?

Menurut World Economic Forum (2022), quiet quitting bukanlah tindakan resign, melainkan sikap mental untuk berhenti melakukan pekerjaan di luar deskripsi yang tertulis.

Mereka tetap hadir dan bekerja, tetapi menolak budaya “overwork” yang dianggap menguras energi tanpa imbalan yang sepadan.

Fenomena ini semakin meluas seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya work-life balance.

Penelitian dalam jurnal Asian Management and Business Review (2024) mencatat, pemicunya antara lain frustrasi akibat beban kerja tinggi, kurangnya pengakuan, hingga budaya kerja yang toxic.

Siapa yang Melakukannya?

Fenomena quiet quitting paling sering dijumpai pada generasi Z dan milenial. Menurut Forbes (2022), mereka cenderung menolak budaya kerja “hustle” atau mati-matian demi jabatan.

Sebaliknya, generasi muda menekankan pentingnya kesehatan mental, waktu bersama keluarga, serta kesempatan berkembang di luar pekerjaan.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore