Ilustrasi seseorang yang percaya apapun yang mereka lihat atau baca di internet
JawaPos.com - Di zaman digital saat ini, informasi sangat mudah didapatkan hanya dengan satu klik.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ada tantangan besar: tidak semua yang kita lihat dan baca di dunia maya adalah kebenaran.
Sayangnya, banyak individu yang langsung mempercayai informasi yang mereka temui di media sosial, blog, atau situs berita tanpa melakukan pengecekan.
Berdasarkan psikologi, orang yang cenderung percaya pada segala sesuatu yang mereka jumpai di internet biasanya memiliki ciri kepribadian tertentu.
Individu dengan karakter ini cenderung menerima informasi yang dianggap “otoritatif”, seperti artikel yang penuh dengan angka, kutipan ilmiah (meskipun tidak benar), atau tampak profesional.
Mereka tidak terbiasa untuk mempertanyakan sumber atau pihak berwenang karena telah terbiasa mengikuti tanpa kritis.
Orang-orang ini biasanya tidak memiliki keterampilan untuk menilai kredibilitas sumber informasi.
Dengan rendahnya literasi media, mereka kesulitan untuk membedakan antara fakta, opini, atau propaganda.
Hal ini membuat mereka mudah terjerat oleh berita palsu (hoax), teori konspirasi, atau iklan yang menyesatkan.
3. Tinggi dalam Kebutuhan Akan Kepastian
Dalam psikologi, orang yang memiliki kebutuhan untuk mendapatkan kepastian merasa tidak nyaman dengan ambiguitas.
Oleh karena itu, mereka cenderung cepat menerima informasi pertama yang mereka dapatkan sebagai “kebenaran”, alih-alih mencari tahu lebih lanjut atau menunggu konfirmasi.
4. Berpikir dengan Pola Hitam-Putih
Mereka biasanya memiliki cara berpikir yang kaku—sesuatu dianggap benar atau salah, tanpa adanya nuansa.
Ini membuat mereka lebih mudah mempercayai narasi ekstrem atau penjelasan sederhana untuk masalah yang kompleks, yang sering kali banyak beredar di internet.
5. Memiliki Kebangkitan Sosial yang Tinggi
Orang yang sangat mendambakan penerimaan sosial cenderung mempercayai dan membagikan informasi yang sejalan dengan pandangan kelompoknya, bahkan tanpa memverifikasi kebenarannya.
Mereka lebih mengutamakan hubungan sosial ketimbang kebenaran informasi.
6. Tidak Memiliki Kemampuan Berpikir Kritis
Berpikir kritis meliputi kemampuan untuk mengevaluasi argumen, mengenali bias, dan membedakan antara fakta dan opini.
Mereka yang tidak terbiasa berpikir kritis lebih mudah terpengaruh oleh informasi viral, yang emosional, atau tampak “logis”, meskipun tidak akurat.
7. Sering Mengalami Kecemasan dan Rentan terhadap Ketakutan
Perasaan takut dan cemas bisa membuat seseorang lebih rentan terhadap narasi menyeramkan yang ada di internet, seperti teori konspirasi, ramalan kiamat, atau hoaks mengenai kesehatan.
Dalam psikologi, ini berhubungan dengan availability heuristic, yaitu kecenderungan untuk mempercayai informasi yang emosional dan mudah diingat.
8. Tinggi dalam Sifat Neurotisisme
Neurotisisme merupakan dimensi kepribadian terkait dengan ketidakstabilan emosi, mudah khawatir, dan reaktivitas emosi.
Individu yang memiliki skor tinggi dalam aspek ini cenderung lebih mudah terpengaruh oleh berita yang dramatis, emosional, dan kontroversial yang banyak beredar di internet.
9. Cenderung Mencari Validasi Emosional
Beberapa orang lebih tertarik pada perasaan yang ditimbulkan oleh informasi ketimbang fakta itu sendiri.
Mereka mempercayai hal-hal yang membuat mereka merasa diperhatikan, dipahami, atau merasa benar. Ini membuat mereka lebih mudah terjerat oleh narasi yang manipulatif yang menyentuh emosi mereka.
10. Cenderung Menghindari Informasi yang Berlawanan dengan Pandangan Pribadi
Bias konfirmasi adalah kecenderungan untuk memberi lebih banyak kepercayaan pada informasi yang sejalan dengan keyakinan yang sudah ada, serta menolak informasi yang bertentangan.
Mereka yang memiliki sifat ini cenderung merasa “percaya” karena informasi yang mereka terima tampak menguatkan pandangan mereka, meskipun kebenarannya bisa dipertanyakan.
Penutup: Waspada, Bukan Curiga
Mempercayai segala sesuatu yang dilihat atau dibaca di internet dapat menunjukkan kombinasi sifat kepribadian yang mencari kenyamanan emosional, kejelasan, dan pengakuan dari orang lain.
Namun, psikologi mengajarkan bahwa siapa pun, terlepas dari latar belakangnya, dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan literasi digital.
Pendekatan terbaik bukanlah untuk menjadi orang yang sinis dan selalu curiga terhadap segalanya, melainkan untuk menjadi individu yang punya rasa ingin tahu yang sehat, skeptis secara wajar, dan bersedia memverifikasi fakta sebelum menarik kesimpulan atau membagikannya.
Perlu diingat, kecepatan dalam menerima informasi tidak boleh mengalahkan kedalaman dalam memahami informasi tersebut.