
Ilustrasi seseorang yang duduk di sofa dengan gawai di tangan, dikelilingi oleh tumpukan pekerjaan, menunjukkan kelelahan./Freepik
JawaPos.com - Orang yang mengalami kelelahan emosional jarang sekali mengakui bahwa mereka sedang mengalami burnout.
Sebaliknya, mereka cenderung menunjukkannya melalui cara-cara kecil atau komentar singkat.
Hal ini terlihat jelas dari pilihan kata yang keluar saat energi emosional mereka sudah sangat terkuras.
Melansir dari Geediting.com Sabtu (28/6), frasa yang terucap dapat menjadi petunjuk. Jika kita memperhatikan dengan saksama, pola ini akan menjadi mudah untuk dikenali.
Mari kita telaah beberapa ungkapan sehari-hari yang dipakai orang yang terkuras emosinya, bahkan tanpa mereka sadari.
Ungkapan ini adalah klasik dan sering diucapkan oleh banyak orang. Terkadang memang benar-benar hanya kelelahan fisik yang dirasakan seseorang. Namun, lebih sering ini adalah kode untuk mengatakan "Saya kewalahan, tapi saya tidak ingin membicarakannya."
Orang yang kelelahan emosional cenderung mengecilkan stresnya yang besar. Mereka tidak ingin terlihat berlebihan, jadi mereka menganggapnya "hanya lelah" dan terus berusaha keras.
Frasa ini biasanya keluar ketika sesuatu jelas-jelas sangat penting sekali. Orang yang terkuras emosinya berhenti memperjuangkan hal-hal yang mereka pedulikan. Bukan karena tidak peduli, melainkan tidak punya energi lagi untuk menjelaskan atau membela diri.
Mereka sudah tidak ingin lagi membuat satu keputusan pun dalam hidupnya. Mereka memilih apatis sebagai bentuk perlindungan diri.
Ini adalah satu di antara frasa paling tidak jujur yang sering kita gunakan. Ungkapan ini menjadi jawaban otomatis dan respons standar bagi banyak orang. Namun, jika seseorang jelas-jelas tidak seperti biasanya dan terus mengatakan "Saya baik-baik saja" tanpa menatap mata Anda, itu biasanya menjadi tanda bahaya.
Kadang, "Saya baik-baik saja" berarti "Saya membutuhkan Anda, tapi saya tidak tahu bagaimana mengatakannya." Mereka kesulitan menyampaikan perasaan sulitnya.
Ungkapan ini sangat jujur, sekaligus menjadi tanda peringatan penting. Saat seseorang mengatakan ini, seringkali artinya adalah: otak saya sudah penuh. Emosi saya sudah terkuras habis.
Tolong jangan tambahkan beban apa pun lagi kepada saya. Ini bukan penghindaran, melainkan bentuk bertahan hidup yang mendesak.
Ungkapan ini bisa terasa menyakitkan, terutama jika Anda yang mendengarnya langsung. Namun, orang yang kelelahan emosional sering mencapai titik di mana sikap apatis menjadi lebih mudah daripada frustrasi. Mereka mulai melepaskan diri sebagai bentuk pertahanan diri yang ekstrem.
Mereka sudah tidak memiliki sisa energi untuk merasakan apa pun. Kebiasaan ini adalah tanda nyata burnout yang parah.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
