Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Juni 2025 | 17.59 WIB

8 Ciri Perilaku Pria yang Tak Memiliki Ikatan dengan Ayah Mereka Menurut Psikologi, Apa Saja?

Perilaku pria yang tak memiliki ikatan dengan ayah menurut Psikologi - Image

Perilaku pria yang tak memiliki ikatan dengan ayah menurut Psikologi

JawaPos.com – Hubungan antara seorang pria dan ayah mereka memiliki dampak besar terhadap perkembangan emosional dan sosialnya. Ketika ikatan tersebut lemah atau bahkan tidak ada, hal ini bisa tercermin dalam berbagai aspek perilaku dan cara lelaki tersebut menjalin hubungan dengan orang lain.

Psikologi menunjukkan bahwa ketiadaan figur ayah dapat memengaruhi kepercayaan diri, pola komunikasi, hingga cara menghadapi konflik. Beberapa pria mungkin tumbuh menjadi mandiri, sementara yang lain bisa mengalami kesulitan dalam membangun koneksi emosional.

Dilansir dari geediting.com pada Jumat (27/6), diterangkan bahwa terdapat delapan ciri perilaku pria yang tidak pernah memiliki ikatan dengan ayah mereka sendiri menurut Psikologi.

1. Kesulitan membangun hubungan emosional

Membangun hubungan yang mendalam secara emosional menjadi tantangan tersendiri bagi pria yang tidak memiliki ikatan dekat dengan ayah mereka semasa kecil. Kesulitan ini muncul karena mereka tidak pernah mendapatkan contoh bagaimana cara mengelola dan mengekspresikan emosi dengan tepat dari sosok ayah.

Hal ini membuat mereka seringkali kebingungan ketika harus memahami perasaan mereka sendiri, apalagi mencoba memahami perasaan orang lain. Situasi ini akhirnya menciptakan semacam penghalang tak kasat mata dalam hubungan mereka dengan orang lain, terutama dalam menjalin hubungan yang intim dan bermakna.

2. Masalah dengan figur otoritas

Pria yang tumbuh tanpa kedekatan dengan ayah seringkali mengembangkan sikap perlawanan terhadap figur otoritas, seperti atasan di tempat kerja atau guru di sekolah. Mereka cenderung mempertanyakan dan menentang aturan yang ditetapkan, seolah-olah ada dorongan bawah sadar untuk membuktikan sesuatu.

Perilaku ini sebenarnya merupakan manifestasi dari kekosongan hubungan dengan sosok ayah yang seharusnya menjadi panutan pertama dalam menghormati otoritas. Pola ini akan terus berulang hingga mereka mampu menyadari dan mengatasinya.

3. Kecenderungan untuk mengkompensasi berlebihan

Ketika seseorang merasa ada yang kurang dalam hidupnya, secara naluriah ia akan berusaha menutupi kekurangan tersebut dengan cara berlebihan di area lain. Hal ini terlihat dari bagaimana mereka selalu berusaha menjadi pusat perhatian dalam setiap acara atau bekerja secara berlebihan untuk membuktikan diri.

Perilaku ini sebenarnya berakar dari kebutuhan akan pengakuan yang tidak terpenuhi semasa kecil. Dorongan untuk membuktikan diri ini begitu kuat hingga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka.

4. Menghindari kerentanan

Bagi pria yang tidak memiliki kedekatan dengan ayah mereka, membuka diri dan menunjukkan kerentanan bisa jadi pengalaman yang menakutkan. Mereka cenderung membangun tembok pertahanan yang tinggi untuk melindungi diri dari kemungkinan terluka, sering menggunakan humor untuk mengalihkan pembicaraan serius.

Ketika menghadapi situasi yang membutuhkan keterbukaan emosional, mereka lebih memilih untuk menarik diri dan menjaga jarak. Mekanisme pertahanan ini, meskipun melindungi dari rasa sakit, justru menghambat mereka dalam membangun koneksi yang tulus dengan orang lain.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore