
7 Kebiasaan People Pleaser
JawaPos.com - Perempuan yang tumbuh tanpa diajarkan mencintai diri sendiri sering kali belajar untuk mencari cahaya dari orang lain. Sampai suatu hari, ia sadar bahwa dirinya pun bisa menjadi sumber cahaya bagi dirinya sendiri.
Bayangkan sebuah tanaman hias yang selama bertahun-tahun diletakkan di sudut ruangan. Ia mendapat cukup cahaya untuk bertahan hidup, tapi tidak pernah cukup untuk benar-benar tumbuh.
Tanaman itu bisa saja meliuk ke arah jendela, daunnya mengecil, bahkan warnanya kusam. Tapi bayangkan jika tanaman itu akhirnya dipindah ke tempat yang lebih terang. Ia tak akan langsung mekar.
Mungkin beberapa daun tua rontok dulu. Mungkin ragu-ragu tumbuh. Tapi dengan cahaya yang cukup, air yang cukup, dan perawatan yang konsisten, akhirnya tanaman itu akan berkembang sesuai bentuk alaminya.
Begitulah kira-kira proses mencintai diri sendiri terutama bagi perempuan yang tak pernah ditunjukkan bagaimana caranya merawat diri secara emosional sejak kecil.
Kalau dulu kamu tidak diajarkan bahwa perasaanmu penting, bahwa suara dan keinginanmu layak dihargai, itu bukan salahmu. Tapi luka itu bisa tetap hidup dalam bentuk kebiasaan-kebiasaan dewasa yang diam-diam menyabotase dirimu sendiri.
Berikut tujuh kebiasaan people pleaser yang sering tumbuh dari ketidakhadiran cinta diri. Karena pertumbuhan itu mungkin. Tapi pertama-tama, kamu perlu tahu apa yang selama ini membatasinya.
1. Terlalu sering minta maaf bahkan saat itu bukan salahmu
Menabrak kursi? “Maaf.” Disalip antrean? “Oh, maaf, silakan.”
Saat cinta diri tak pernah dicontohkan, banyak perempuan belajar bahwa tugas mereka adalah menjaga ketenangan, bahkan kalau itu artinya mengorbankan harga diri sendiri.
Sayangnya, terlalu sering minta maaf bisa menanamkan keyakinan bawah sadar bahwa kamu adalah masalah. Sedikit demi sedikit, kamu mulai mengecil setiap kali mengucapkan “maaf” padahal yang kamu maksud mungkin sebenarnya “permisi” atau “aku juga pantas di sini.”
Coba ini: Ganti “maaf” dengan “terima kasih.” Misalnya: “Terima kasih sudah menunggu,” bukan “Maaf saya terlambat.”
2. Menolak pujian seperti memegang kentang panas
Saat seseorang memujimu, kamu buru-buru menepisnya. “Oh, bajunya udah lama banget.” “Kamu cuma baik aja.”
Kalau kamu tumbuh tanpa afirmasi, wajar saja pujian terasa asing, bahkan mencurigakan. Otakmu sudah terbiasa bertahan hidup dengan cahaya yang minim, jadi saat cahaya terang datang, kamu secara refleks menolaknya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022