Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Mei 2025 | 07.14 WIB

Stop Membandingkan Diri! Ini 5 Cara Mengubah Perasaan Iri Menjadi Kekuatan untuk Berkembang

Ilustrasi seorang perempuan iri melihat unggahan media sosial temannya (Dok. Adobe Stock) - Image

Ilustrasi seorang perempuan iri melihat unggahan media sosial temannya (Dok. Adobe Stock)

JawaPos.com - Perasaan iri hati terkadang muncul begitu saja. Misalnya saja, saat kita melihat teman baru saja naik jabatan, menikah, membeli rumah, atau bahkan sekadar membagikan momen liburan mewah di media sosial. Rasa tidak puas terhadap pencapaian diri sendiri pun kerap menjadi buntutnya. Namun, benarkah membandingkan diri dengan orang lain hanya membawa kesengsaraan?

Dikutip dari TED Ideas, duo penulis Liz Fosslien dan Mollie West Duffy dalam bukunya Big Feelings menyebut bahwa membandingkan diri memang berisiko membuat kita merasa tidak berharga. Tapi, jika diolah dengan cara yang tepat, perasaan itu justru bisa menjadi petunjuk tentang apa yang sebenarnya kita inginkan.

Berikut lima cara mengubah rasa iri menjadi langkah nyata menuju hidup yang lebih bermakna:

1. Dengarkan Pemicu Terkuatmu

Terkadang rasa iri dapat menjadi kompas yang menunjukkan keinginan terdalam kita. Seperti kisah Gretchen Rubin, penulis buku laris The Happiness Project, yang awalnya adalah seorang pengacara. Ketika membaca kabar seorang alumni kampusnya menjadi penulis penuh waktu, ia merasa sangat iri, dan dari situlah tekadnya berubah. Ia pun berani beralih profesi menjadi penulis.

Menurut Fosslien dan Duffy, ketika rasa iri muncul, coba untuk refleksikan:

  • Apa yang mereka miliki yang membuatku merasa kurang?
  • Apakah yang selama ini kuanggap kurang bisa ditambal oleh hal itu?
  • Apakah aku benar-benar menginginkannya?
  • Seberapa besar keinginanku, dan apakah layak aku perjuangkan untuk diriku sendiri?

Semakin jujur dan spesifik jawabannya, semakin jelas pula langkah yang bisa diambil.

2. Bedakan Iri yang Mendorong dan Iri yang Toxic

Psikolog membedakan dua jenis iri, yaitu benign envy (iri yang sehat) dan malicious envy (iri yang merusak). Iri yang sehat bisa memotivasi kita untuk berkembang, sedangkan iri yang merusak malah membuat kita membenci orang lain yang memiliki hal yang kita inginkan.

Untuk mengubah iri menjadi sesuatu yang sehat, coba gunakan kalimat afirmasi seperti:

  • Aku terinspirasi oleh dia. Mungkin aku bisa belajar darinya.
  • Aku belum mencapai itu… tapi mungkin suatu hari nanti.
  • Setiap orang punya jalannya masing-masing.

3. Ubah Tolak Ukur Perbandinganmu

Sering kali kita membandingkan diri dengan satu orang yang luar biasa, padahal kenyataannya tidak semua orang di sekitar kita mencapai hal yang sama. Dalam sebuah penelitian, saat peserta diminta menyebutkan 10 pelari yang mereka kenal, mereka jadi merasa lebih baik saat membandingkan diri dengan pelari peringkat ketujuh atau kesepuluh, bukan yang terbaik.

Coba tanyakan pada dirimu sendiri, "Apakah aku benar-benar kekurangan, atau hanya belum punya hal itu sekarang?" Kemungkinan besar, kita sudah cukup, dan rasa cukup adalah kunci untuk hidup lebih tenang.

4. Bandingkan secara Menyeluruh, Bukan Sekilas

Fosslien sendiri pernah merasa iri saat mendengar kenalan lamanya mendapat promosi besar. Tapi setelah memikirkan ulang, ia sadar bahwa yang ia inginkan hanyalah pengakuan, bukan tanggung jawab memimpin ratusan orang.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore