Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Mei 2025 | 18.10 WIB

Orang yang Tidak Merasa Perlu Memamerkan Kebaikannya di Media Sosial Biasanya Memiliki 7 Sifat Ini, Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang bermain media sosial. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang bermain media sosial. (Freepik)


JawaPos.com - Di tengah budaya membagikan segala momen di media sosial, termasuk saat melakukan kebaikan, ada sebagian orang yang justru memilih untuk tidak mengunggah apa pun. Bagi mereka, kebaikan tidak harus disaksikan publik agar terasa bermakna.

Fenomena ini mencerminkan pergeseran nilai di masyarakat. Namun, mereka yang memilih diam dan tidak pamer kebaikan justru menunjukkan karakter tertentu yang menarik menurut psikologi.

Mereka melakukan hal baik bukan untuk diperlihatkan, tetapi karena memang merasa perlu membantu. Kepuasan didapat dari dampak yang diberikan, bukan dari sorotan atau komentar warganet.

Dilansir dari Geediting pada Rabu (21/5), berikut tujuh sifat yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak merasa perlu memamerkan kebaikan di media sosial.

1. Menjunjung Keaslian dan Ketulusan

Individu ini sangat menghargai keaslian diri. Bagi mereka, nilai sejati dari sebuah kebaikan terletak pada ketulusan niat, bukan pada penghargaan atau pengakuan dari publik.

Memberi bantuan dilakukan atas dasar empati, bukan demi mendapatkan validasi. Mereka percaya bahwa kepuasan terbesar datang saat tahu bahwa tindakan kecilnya memberi dampak nyata.

2. Menghormati Privasi

Sikap menjaga privasi juga menjadi ciri utama. Mereka tidak hanya menjaga privasinya sendiri, tetapi juga menghargai situasi pribadi orang yang dibantu.

Tidak semua cerita perlu dibagikan ke media sosial. Mereka percaya bahwa ada momen-momen yang lebih berharga jika tetap menjadi bagian dari ruang pribadi.

3. Memiliki Rasa Percaya Diri yang Sehat

Orang yang tidak merasa perlu memamerkan kebaikan biasanya memiliki rasa percaya diri yang kokoh. Mereka tidak menggantungkan harga diri pada jumlah suka, komentar, atau jangkauan unggahan.

Mereka memahami bahwa nilai diri dibentuk dari tindakan nyata, bukan dari tanggapan orang lain di dunia maya. Dengan kata lain, penghargaan terbesar berasal dari dalam diri sendiri.

4. Lebih Hadir dalam Setiap Momen

Salah satu alasan mereka enggan mengunggah kebaikan adalah karena lebih memilih menikmati momen secara utuh. Fokus mereka bukan pada dokumentasi, tetapi pada makna dari tindakan itu sendiri.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore